Bincangperempuan.com- Kita sering dengar celetukan seksis seperti “kamu lagi PMS ya?” setiap kali perempuan marah. Dan itu memang menyebalkan. Karena kemarahan perempuan sering dianggap hasil hormon, bukan hasil pemikiran atau pengalaman yang valid.
Tapi di sisi lain, ada juga perempuan yang menjadikan PMS sebagai tameng, alasan, bahkan pembenaran atas sikapnya yang kasar, menyebalkan, atau bahkan manipulatif.
“Ya namanya juga PMS, sabar dong, maklumin aja”
Seolah-olah PMS otomatis menjadi kartu bebas untuk boleh emosi merajuk, boleh kasar seenaknya, boleh putus dengan pacar lalu baikan besoknya. Dan orang sekitar diminta memaklumi tanpa protes. Hormon memang naik turun saat PMS. Tapi untuk sikap, seharusnya bisa kita kendalikan.
Baca juga: Bukan Hanya Air Hangat, Ini yang Perlu Dilakukan Saat Pasangan Menstruasi
PMS Boleh Bikin Sensitif, Tapi Bukan Tiket Bebas Drama
Secara medis, PMS atau premenstrual syndrome bisa menyebabkan berbagai gejala fisik dan emosional. Mulai dari kram perut, lelah, susah tidur, hingga perubahan suasana hati. Hal ini disebabkan oleh penurunan hormon estrogen dan progesteron setelah ovulasi, yang juga menurunkan kadar serotonin—zat kimia otak yang berperan dalam mengatur suasana hati.
Merangkum dari Vinmec, saat PMS kadar serotonin turun, kamu bisa merasa sedih, cemas, gampang tersinggung, bahkan menangis tanpa sebab jelas, dan ini normal. Tapi tetap harus disadari bahwa perasaan tersebut tidak membuat semua tindakan kita otomatis benar.
Selain itu kualitas tidur bisa terganggu saat PMS. Rasa lelah dan kurang tidur membuat tubuh semakin rentan stres. Perubahan nafsu makan—misalnya, keinginan makan manis atau karbohidrat berlebihan—juga berpengaruh terhadap mood. Bahkan, banyak perempuan mengalami penurunan aktivitas fisik karena nyeri perut atau kembung, yang semakin memperburuk suasana hati.
Hormon memang bisa membuat kita lebih sensitif. Tapi keputusan untuk membentak, menyindir, memblokir orang, atau menyalahkan orang lain tanpa alasan tetaplah sebuah pilihan sadar. Dan setiap pilihan punya konsekuensi.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Pakistan Journal of Medical Science menemukan bahwa perempuan dengan PMS cenderung memiliki tingkat kemarahan lebih tinggi dan kontrol kemarahan yang lebih rendah. Karena itu, penting untuk belajar mengenali emosi dan memprosesnya dengan sehat, bukan dengan melemparkannya ke orang terdekat.
Jangan Gunakan PMS untuk Kabur dari Tanggung Jawab Emosional
Sikap seperti “aku PMS kemarin makanya nyebelin, jangan baper ya” bisa membuat orang lain merasa harus terus memahami kita, meski sebenarnya mereka juga sedang kelelahan atau kesal.
Lama-lama, orang sekitar jadi takut bicara jujur, jadi ekstra hati-hati, dan merasa wajib memahami kamu terus menerus. Hubungan yang seperti ini bisa membuat kamu dijauhi tanpa sadar—karena kamu membuat orang lain menjadi korban ledakan emosimu yang tidak kamu kelola.
Baca juga: Kenapa Menstruasi Bisa Bareng Sama Bestie?
Jadi, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Kalau kamu sadar bahwa PMS bikin kamu lebih mudah emosi, ada cara-cara konkret yang bisa dilakukan:
- Lacak Pola Mood
Catat kapan PMS biasanya muncul, dan bagaimana pengaruhnya ke suasana hati. Ini bukan cuma buat self-awareness, tapi juga memudahkanmu menjelaskan kondisi ke orang terdekat atau tenaga medis jika dibutuhkan. - Jauhkan Pemicu Tambahan
Kurangi alkohol, rokok, atau konsumsi gula berlebihan. Semua ini bisa memperparah perubahan mood. - Perbaiki Pola Tidur dan Aktivitas Fisik
Tidur cukup, olahraga ringan, dan makan bernutrisi bisa membantu menstabilkan hormon secara alami. - Latihan Manajemen Emosi
Meditasi, journaling, yoga, atau teknik pernapasan bisa jadi output emosional yang tidak melukai orang lain. - Komunikasi Terbuka dan Dewasa
Jika kamu butuh ruang, bilang. Misalnya, “Aku takut nanti jadi defensif, bisa nggak kita bahas ini nanti?” Itu jauh lebih dewasa daripada marah, lalu menghilang tanpa penjelasan. - Minta Bantuan Profesional
Kalau PMS mengganggu relasimu secara signifikan, tidak ada salahnya konsultasi. Terapi perilaku kognitif (CBT) terbukti efektif membantu mengelola emosi yang fluktuatif karena hormonal.
Perempuan Juga Bisa Jadi Pelaku, Bukan Korban Terus
Budaya patriarki sering meremehkan emosi perempuan. Tapi di sisi lain, budaya self-defense ala feminisme pop juga kadang membuat kita susah berefleksi. Kita diajari untuk “menerima diri apa adanya”, tapi lupa bahwa kadang “apa adanya” kita juga bisa menyakit orang lain.
Kalau kita ingin emosi perempuan dihargai, maka kita juga harus belajar bertanggung jawab atasnya. Marah atau menangis itu boleh. Tapi tetap ada batas orang lain yang tidak boleh dilanggar.
Emosimu Valid, Tapi Jangan Meremehkan Orang Lain
Jadi, sebelum kamu bilang, “Itu kan aku lagi PMS,” pastikan emosi itu tidak merugikan orang lain. Kalau kamu butuh ruang atau diam dulu, bilang saja. Itu dewasa dan menunjukkan bahwa kamu punya kontrol.
Tapi kalau kamu menyakiti orang dan lari dari tanggung jawabnya karena alasan “aku lagi PMS,” ya maaf—itu lari dari proses menjadi manusia dewasa. Karena pada akhirnya, semua orang punya luka. Semua orang punya beban. Dan semua orang berhak diperlakukan dengan hormat, termasuk saat kamu lagi sedang tidak baik-baik saja.
Referensi:
- Saglam, H. Y., & Basar, F. (2019). The relationship between premenstrual syndrome and anger. Pakistan Journal of Medical Sciences, 35(2), 365–370. https://doi.org/10.12669/pjms.35.2.194
- Vinmec International Hospital. (n.d.). Women easily cry during menstruation – Why? Vinmec. Diakses dari https://www.vinmec.com/eng/blog/women-easily-cry-during-menstruation-why-en
