Bincangperempuan.com- Pernah dengar cerita tentang perempuan yang penghasilannya jauh lebih tinggi dari suaminya? Atau perempuan yang lulusan S2 tapi menikah dengan laki-laki yang bahkan bahkan tidak tamat kuliah? Fenomena ini makin sering kita temui.
Di Amerika Serikat, data Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa 24% perempuan dalam pernikahan heteroseksual memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibanding suaminya. Angka ini naik 19% dibanding tahun 1972. Studi yang sama mencatat bahwa 29% pasangan menikah memiliki penghasilan yang hampir setara, fenomena ini dikenal dengan istilah hipogami.
Apa Itu Hipogami?
Hipogami adalah kondisi ketika perempuan memilih pasangan dari strata sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih rendah. Konsep ini menantang norma lama seperti homogami (pasangan dari latar belakang serupa) dan hipergami(biasanya perempuan menikah dengan laki-laki yang statusnya lebih tinggi).
Dulu, hipogami sering dianggap “aneh” atau bahkan “merugikan perempuan”. Tapi sekarang, makin banyak perempuan yang tidak lagi menjadikan status sosial atau dompet pasangannya sebagai tolak ukur utama. Bagi sebagian orang, keintiman emosional, rasa aman, dan keterhubungan jauh lebih penting daripada gelar atau gaji.
Baca juga: Series Bidaah: Potret Gelap Relasi Kuasa dalam Bingkai Iman
Penyebab Hipogami
Salah satu faktor penyebab utamanya adalah perubahan signifikan dalam akses pendidikan. Studi berjudul The End of Hypergamy: Global Trends and Implications (Esteve et al., 2016) mencatat bahwa kesenjangan pendidikan antara laki-laki dan perempuan yang selama ini berpihak pada laki-laki telah berbalik arah. Pada tahun 2010, jumlah perempuan berusia 25–29 tahun yang memiliki pendidikan tinggi melampaui laki-laki di lebih dari 139 negara. Proyeksi ke depan menunjukkan tren ini akan berlanjut di hampir seluruh dunia, kecuali beberapa negara di Afrika dan Asia Barat.
Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan dalam “pasar pernikahan”, di mana perempuan dengan pendidikan tinggi kesulitan menemukan pasangan yang setara atau lebih tinggi tingkat pendidikannya. Hasilnya, semakin banyak perempuan yang menikah dengan laki-laki yang secara pendidikan atau ekonomi berada di bawah mereka.
Tapi hipogami tidak melulu disebabkan oleh statistik. Tetapi juga ada pergeseran nilai dan preferensi dalam membangun relasi. Banyak perempuan kini lebih mengutamakan kecocokan emosional, kesetaraan pandangan hidup, dan kemampuan berkomunikasi, dibandingkan latar belakang ekonomi atau gelar akademik. Seperti yang dikatakan Michelle Begy, perantara perjodohan dari Ignite Dating. kepada BBC, Meskipun beberapa perempuan masih mencari pasangan dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi, banyak dari mereka kini lebih memprioritaskan keselarasan emosional, nilai-nilai yang sama, dan rasa saling menghormati daripada hanya penanda status konvensional.”

Bentuk Perlawanan terhadap Patriarki
Hipogami bisa disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap konstruksi patriarki yang selama ini menempatkan perempuan dalam posisi pasif. Biasanya perempuan adalah pihak yang “dipilih” oleh laki-laki yang lebih mapan. Selama berabad-abad, perempuan dianggap hanya bisa “naik kelas” melalui pernikahan. Kini, banyak perempuan memilih untuk tidak tunduk pada pakem tersebut. Mereka tahu bahwa keberhargaan diri tidak melulu ditentukan oleh status pasangan.
Pergeseran ini pun menantang ego maskulin tradisional yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa laki-laki harus menjadi pencari nafkah utama dan pemimpin dalam rumah tangga. Ketika realitas berubah dan perempuan lebih unggul dalam pendidikan atau pendapatan, struktur relasi yang lama mulai retak. Namun tentu saja, tidak semua laki-laki mampu beradaptasi dengan perubahan ini.
Baca juga: Cinta Tanpa Eksklusivitas, Mengenal Poliamori Lebih Dekat
Risiko dalam Hipogami
Bagi perempuan yang berada dalam hubungan hipogami secara ekonomi, ada potensi beban ganda yang muncul. Ketika perempuan menjadi tulang punggung finansial utama, muncul ekspektasi bahwa mereka juga tetap harus memenuhi peran domestik. Selain menjadi pencari nafkah mereka harus mengurus rumah, melayani pasangan, dan mengasuh anak, artinya perempuan mengalami beban ganda baik di lingkungan kerja mau pun di rumah.
Selain itu, ketimpangan status bisa menimbulkan rasa tidak aman atau inferioritas dari pihak pasangan laki-laki, yang kemudian berujung pada konflik relasi. Laki-laki yang masih terjebak dalam rasa inferior berpotensi menimbulkan bentuk-bentuk kekerasan emosional atau psikologis. Ketika maskulinitas laki-laki terancam, seringkali perempuan yang harus menanggung dampaknya.
Hipogami memang bisa menciptakam pola relasi yang progresif, tapi hanya kalau dijalani dalam relasi yang sehat, egaliter, dan bebas dari superioritas atau rasa bersaing. Kalau tidak, tetap saja perempuan yang akan menanggung bebannya
Tren hipogami menunjukkan soal relasi saat ini mulai berubah. Banyak perempuan kini lebih berani mengambil pilihan yang dianggap “tidak biasa”, karena mereka tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan dalam sebuah hubungan.
Pendidikan, gaji, atau status bisa menjadi bagian dari pertimbangan. Tapi ketika keintiman emosional, komunikasi yang sehat, dan nilai hidup yang sejalan bisa membuat relasi terasa lebih manusiawi, hipogami menjadi salah satu wujud dari relasi yang saling setara. Dengan catatan, selama masing-masing pihak bisa meletakkan ego dan peran secara setara, dan memilih untuk bertumbuh bersama.
Referensi:
- BBC News Indonesia. (2025, Mei 29). Fenomena hipogami: Saat perempuan ‘lebih unggul’ dari laki-laki dalam relasi pernikahan. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx27l7y7wq3
- EBSCO. (n.d.). Hypogamy. EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/social-sciences-and-humanities/hypogamy
- Esteve, A., Schwartz, C. R., Van Bavel, J., Permanyer, I., Klesment, M., & García-Román, J. (2016). The End of Hypergamy: Global Trends and Implications. Population and Development Review, 42(4), 615–625. https://doi.org/10.1111/padr.12012
