Bincangperempuan.com– Sudah sejak Idul Fitri lalu, Erin, ibu muda berdarah Jawa yang saat ini menetap di Bengkulu, tidak menyangka akhirnya bisnis sambilan yang dirintisnya mulai membuahkan hasil.
Padahal sebelumnya, Erin sempat tidak percaya diri, lantaran jamu racikannya “nyaris” tak laku di pasaran. Seharian berkeliling pasar ia hanya bisa meraup Rp 20 ribu dari hasil penjualan jamunya. Alih-alih mendapat untung, untuk modal pembelian bahan baku saja tidak nutup.
Tapi belakangan semuanya berubah, sejak ia menggandeng brand Mise en Bounce, jamu racikan segar yang diproduksi Erin, “naik kelas”. Tadinya setiap satu gelas ukuran 250 cc dihargai Rp 5000. Sekarang bisa jual Rp 10 ribu dengan volume yang sama. Bahkan penjualannya juga berlaku sistem PO (pre-order) seminggu sekali. Setiap kali PO bisa tembus 90 botol.
“Sekarang tidak perlu jualan dengan keliling di pasar. Cukup produksi di rumah saja,” ungkap Erin.
Mise en Bounce, sebuah brand masakan rumahan yang menyajikan menu makanan Prancis, tempat Erin bekerja. Nina Restuwardani, owner Mise en Bounce mengizinkan Erin menggunakan brandnya, lantaran jamu racikan Erin memiliki cita rasa yang khas dan mantap di lidah.
“Aku penyuka jamu sejak kecil, saat coba jamu buatan dia (Erin, red) kok enak dan pas. Jahe yang pedasnya pas, manisnya dapet. Nggak keenceran, makanya aku bantu jualannya. Sekalian mengajarkan dia sistem jualan online,” kata Nina.
Baca juga: Bertanam Pinang, Cara Perempuan Serawai Menyelamatkan Desa
Belajar resep jamu sejak kecil
Ada beberapa jamu racikan yang dijual Erin. Diantaranya, jahe, kunyit asam, beras kencur, sampai paitan sambiloto. Semuanya diproses dengan menggunakan blender kecil. Di kemas dengan botol plastik dan menggunakan bahan baku yang terjaga kesegarannya.
Jamu racikan tersebut, memiliki daya tahan tiga sampai empat hari jika disimpan di dalam kulkas atau lemari pendingin.
Erin mengaku belajar membuat jamu dari ibunya, yang juga berjualan jamu gendong. Tak hanya bagaimana meracik jamu, Erin juga dikenalkan dengan teknik memilih bahan baku. Seperti untuk jahe tidak hanya dipilih ukurannya yang besar, namun kesegaran jahe juga mempengaruhi.
“Bisa dilihat dari kulitnya yang belum kisut,” kata Erin.
Jika tampilan fisik jahe sudah mulai keriput dan susut, andanya jahe sudah lama dipanen dan mulai kehilangan kelembapan. Selain itu jahe segar biasanya berwarna merah. Jahe segar biasanya langsung mengeluarkan aroma khas pedas dan segar saat digores atau dipotong. Kalau aromanya hambar atau apek, itu tanda mulai busuk atau kehilangan minyak atsiri.
“Tekstur padat dan keras saat ditekan. Kalau ditekan terasa lembek atau berair, artinya sudah mulai rusak,” ungkap Erin.

Kunyit, lanjut Erin, jangan memilih yang sudah berbintik hitam. Bercak hitam di kunyit bisa menandakan bagian yang membusuk dari dalam. Selain itu Hitam-hitam bisa disebabkan oleh jamur (seperti Aspergillus) atau bakteri pembusuk.
“Nanti bisa mempengaruhi rasa dan warna berubah, tidak bagus juga untuk dikonsumsi. Termasuk gula, aren pun harus asli, cirinya ketika dipotong mudah artinya murni, kalau keras biasanya sudah dicampur gula pasir,” papar Erin.
Pengetahuan turun temurun yang menjadi warisan keluarga, saat ini menjadikan Erin mahir membuat jamu racikan. Bukan sekadar jamu, tapi juga jadi penguat ekonomi keluarga.
“Jadi setiap kali akan produksi baru membeli bahannya. Kalau nggak ada PO, ya nggak beli bahan. Satu kali produksi biasanya bisa habis 2 sampai 3 kilogram,” jelasnya.
Meski pemasaran masih sebatas online dan PO mingguan, Erin optimistis ke depan bisa punya dapur produksi sendiri. “Yang penting sekarang, orang masih mau minum jamu. Itu udah jadi semangat tersendiri.” katanya.
Konsumsi Jamu di Bengkulu
Melansir Agung Trisusilo dalam risetnya Profil Konsumen Jamu Tradisional di Kota Bengkulu yang dipublikasikan di Jurnal GRISOMICS: Agribusiness Social Economiics 2024, diketahui berdasarkan survey sampel dengan jumlah responden 96 konsumen jamu yang dipilih secara accidental sampling
konsumen jamu di Kota Bengkulu didominasi perempuan, sebanyak 52,08 persen. Sedangkan laki-laki hanya 47,92 persen.
Ini memperlihatkan bahwa perempuan lebih konsumtif terhadap produk-produk alami yang bermanfaat untuk kesehatan dan menunjang penampilan. Apalagi secara spesifik jamu kunyit asam menjadi primadona di antara varian jamu. Ini lantaran khasiatnya yang mampu meredakan nyeri haid serta merawat kesehatan organ kewanitaan.
Selain itu perempuan juga memiliki peranan yang cukup besar sebagai penentu konsumsi di rumah tangga. Ketika seorang ibu menyukai minum jamu, hal ini bisa mendorong anggota keluarga untuk melakukan hal yang serupa.
Lain hal dengan laki-laki lebih memilih varian jamu yang memiliki khasiat menjaga kebugaran dan melancarkan metabolisme tubuh, seperti beras kencur dan pahitan.
Jamu yang diracik dengan menggunakan bahan alami, menurut Agung menjadi penyebab minuman tradisional ini dapat dikonsumsi segala usia. Apalagi, sistem kerja senyawa yang terkandung di dalam jamu lebih kepada meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah atau mengurangi resiko terkena penyakit.
Sehingga bila dilihat dari umur konsumen jamu tradisional di Kota Bengkulu berada pada rentang umur 16-76 tahun, dengan rata-rata umur 38,08 tahun. Namun proporsi konsumen pada kelompok usia produktif umur 16-30 tahun menjadi kelompok terbanyak.
Sedangkan bila dilihat dari tingkat pendidikan konsumen jamu tradisional di Kota Bengkulu sangat beragam, mulai tidak tamat SD hingga pendidikan tinggi jenjang S2. Konsumen jamu tradisional di Kota Bengkulu rata-rata pernah menempuh pendidikan formal selama 12,83 tahun. Masa pendidikan tersebut setara dengan pendidikan formal setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Selain itu sebanyak 45,83% konsumen jamu tradisional di Kota Bengkulu pernah menyelesaikan pendidikan pada jenjang D3/S1. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak membuat konsumen lebih memilih mengkonsumsi obat kimia yang lebih praktis dan mudah ditemui. Dengan pendidikan yang tinggi konsumen lebih selektif memilih produk-produk yang aman dikonsumsi untuk dirinya ataupun keluarga.
Baca juga: Peyek Daun Kopi, Inisiatif Ekonomi di Tengah Perubahan Iklim
Jamu, Warisan Budaya Tak Benda
Sebagai warisan budaya Indonesia, jamu telah ada sejak zaman kuno dan terus berkembang hingga kini. “Jamu” yang berasal dari bahasa Jawa Kuno, memiliki arti djampi (doa atau penyembuhan) dan oesodo (kesehatan).
Jejak sejarah jamu bisa ditelusuri sejak abad ke-5 Masehi. Ini terlihat dari relief di Candi Borobudur dan Prambanan yang menggambarkan aktivitas meramu jamu. Termasuk alat-alat seperti cobek dan ulekan ditemukan di situs arkeologi Liyangan, menunjukkan bahwa praktik ini sudah berlangsung sejak zaman pra-sejarah.

Pada masa Kerajaan Mataram, jamu digunakan oleh kalangan bangsawan dan rakyat biasa sebagai obat dan penunjang kecantikan. Perempuan memainkan peran penting dalam meracik dan mewariskan pengetahuan jamu secara turun-temurun.
Tradisi ini sempat menurun saat pengobatan modern masuk ke Indonesia. Namun, pada masa penjajahan Jepang tahun 1940-an, minum jamu kembali populer setelah dibentuknya Komite Jamu Indonesia. Sejak itu, industri jamu berkembang pesat, terutama antara tahun 1974 hingga 1990, dengan banyaknya perusahaan jamu yang berdiri.
Kini, jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional, tapi juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Sebuah bukti bahwa ramuan herbal ini bukan sekadar obat, tapi juga bagian dari identitas bangsa.
Nina sendiri, mengaku optimis dengan pasar jamu tradisonal di Bengkulu. “Aku suka karena orang-orang sekarang mulai balik lagi cari yang alami,” ujarnya.
