Jejak Seksisme di Otak Perempuan: Dari Sepele hingga Serius

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Seksisme sering disalahpahami sebagai sikap kasar yang terang-terangan, seperti komentar cabul, lelucon merendahkan, atau larangan eksplisit terhadap perempuan. 

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, seksisme lebih sering muncul dalam bentuk halus dan nyaris dianggap normal. Misalnya, kalimat sepele seperti, “perempuan harusnya begitu,” atau praktik di kantor di mana rekan perempuan sering dimintai tolong membuatkan kopi untuk kolega laki-laki, atau ketika perempuan merasa lebih bertanggung jawab dalam kontrasepsi dan perencanaan kehamilan. Walau pun kelihatan normal, tetapi merupakan bentuk dari seksisme struktural.

Menurut Britannica, seksisme sendiri adalah prasangka atau diskriminasi berbasis gender, terutama terhadap perempuan dan anak perempuan. Seksisme mempertahankan patriarki melalui praktik ideologis dan material yang menindas perempuan. 

Bentuk penindasan ini biasanya berupa eksploitasi ekonomi dan dominasi sosial, serta memperkuat stereotip peran gender. Misalnya, perempuan dianggap lebih lemah, kurang logis, dan lebih cocok pada ranah domestik, sementara kemampuan mereka dalam kepemimpinan di bisnis, politik, atau akademik sering diremehkan.

Baca juga: #SamaSamaAman: Hati-hati dalam Bercanda Jangan Sampai Melanggengkan KBGO

Seksisme Meninggalkan Jejak di Kepala Perempuan 

Dampak seksisme tidak selalu tampak secara langsung, tapi menumpuk seiring waktu. Paparan diskriminasi berbasis gender meningkatkan risiko tekanan psikologis, menurunnya kepuasan hidup, kesepian, dan gangguan kesehatan mental seperti depresi serta kecemasan. Stres sosial yang berulang akibat seksisme kronis ibarat wear and tear bagi tubuh dan otak, menimbulkan efek biologis dan psikologis yang serius.

Penelitian di Inggris terhadap hampir 3.000 perempuan menunjukkan bahwa mereka yang mengalami diskriminasi berbasis gender memiliki risiko tiga kali lebih tinggi mengalami tekanan psikologis dan penurunan kepuasan hidup empat tahun kemudian. 

Penelitian lanjutan pada perempuan berusia di atas 52 tahun juga menemukan bahwa diskriminasi semacam ini berkaitan dengan penurunan kesehatan mental, meningkatnya kesepian, dan menurunnya kualitas hidup hingga enam tahun setelah pengalaman diskriminatif itu.

Seksisme dan Otak Perempuan

Tak hanya meninggalkan dampak psikologis, seksisme juga dapat memengaruhi struktur otak perempuan. Sebuah studi yang menganalisis 7.876 pemindaian MRI dari orang dewasa sehat di 29 negara berbeda menemukan hubungan yang mengejutkan antara ketidaksetaraan gender dan perbedaan struktur otak antara laki-laki dan perempuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada negara dengan ketimpangan gender yang tinggi, perempuan memiliki ketebalan kortikal lebih tipis di beberapa wilayah otak, khususnya di hemisfer kanan. Wilayah yang terdampak termasuk right caudal anterior cingulate dan right medial orbitofrontal, yang berperan penting dalam regulasi emosi dan pengolahan stres. 

Selain itu, area left lateral occipital juga menunjukkan pola tipis yang serupa. Namun, perbedaan ini tidak terlihat pada laki-laki atau pada perempuan yang tinggal di negara dengan tingkat kesetaraan gender lebih tinggi.

Temuan ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana lingkungan sosial dapat membentuk otak. Pengalaman hidup yang dipenuhi ketidakadilan gender termasuk seksisme sehari-hari yang dianggap normal ternyata meninggalkan jejak biologis nyata di otak perempuan. 

Nicolas Crossley, psikiater di Pontifical Catholic University of Chile, mengatakan kepada BBC pengalaman ketidaksetaraan ini seperti meninggalkan scar di otak perempuan. Mekanismenya berkaitan dengan plastisitas otak—kemampuan otak menyesuaikan diri dengan pengalaman hidup. Stres kronis akibat diskriminasi dan seksisme menghambat adaptasi alami otak, sehingga pengalaman hidup yang menilai rendah perempuan meninggalkan dampak jangka panjang, berbeda dengan stres sesaat yang bisa pulih dengan cepat

Baca juga: Slut Shaming: Kekerasan Verbal yang Merendahkan Perempuan

Seksisme juga Melukai Laki-laki

Seksisme struktural memang merugikan perempuan dengan membatasi akses mereka terhadap sumber daya penting, misalnya gaji yang adil dan otonomi dalam pekerjaan, serta meningkatkan paparan mereka terhadap pengalaman berbahaya seperti kekerasan domestik, lingkungan kerja yang tidak aman, dan stres kronis.

Namun, yang perlu diketahui adalah tak hanya perempuan yang dirugikan. Sistem patriarki yang melanggengkan seksisme ternyata juga berdampak kepada laki-laki. Sekilas, mereka mungkin mendapat keuntungan dari gaji lebih tinggi atau pekerjaan domestik lebih ringan, tetapi norma maskulinitas yang dibentuk seksisme—misalnya, harus mapan dan terlihat kuat, pengambilan risiko berlebihan, atau menahan diri untuk tidak mencari bantuan mental atau medis justru berdampak pada masalah kesehatan mental. 

Sebuah meta-analisis dengan lebih dari 19.000 peserta menemukan bahwa laki-laki yang mengikuti norma maskulinitas rigid cenderung mengalami tekanan psikologis, kecemasan, dan gangguan mental lainnya. Artinya sistem yang memberi laki-laki lebih banyak privilese juga bisa menjerat mereka dalam standar maskulinitas yang tidak realistis, dan akhirnya berujung pada kesehatan mental yang lebih buruk.

Waktunya Menghentikan Seksisme

Seksisme bukan sekadar komentar atau perilaku yang bisa diabaikan. Karena berdampak nyata di otak dan kesehatan perempuan, serta mempertahankan sistem yang merugikan semua pihak. Membicarakan dampak seksisme secara terbuka membantu meningkatkan kesadaran, memberikan dukungan bagi korban, dan mendorong perubahan sosial. Namun, kita juga perlu mengakui bahwa seksisme bersifat struktural dan menuntut tindakan kolektif untuk menghentikannya.

Sudah waktunya berhenti menormalisasi seksisme. Perlakuan sepele hari ini bisa menjadi luka biologis dan psikologis jangka panjang. Kesetaraan gender bukan hanya soal moral atau etika, tetapi tentang kesehatan, hak, dan kesempatan yang adil bagi setiap perempuan dan laki-laki.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

IWD 2025 Accelerate Action

IWD 2025: Accelerate Action

Krisis Ekologi, Krisis Reproduksi: Darurat yang Menyasar Perempuan 

Pergub Poligami ASN Jakarta Kepastian Hukum atau Peneguhan Patriarki

Pergub Poligami ASN Jakarta: Kepastian Hukum atau Peneguhan Patriarki?

Leave a Comment