Bincangperempuan.com- B-Pers mungkin pernah melihat meme permen tanpa bungkus yang dikerubungi semut, lalu di sampingnya ada gambar permen yang tetap bersih karena dibungkus rapi. Biasanya, metafora visual seperti ini muncul dalam perdebatan mengenai pakaian perempuan—seakan-akan tubuh perempuan adalah benda yang harus “dibungkus” supaya tidak “mengundang bahaya.”
Contoh lain juga sering berseliweran di kolom komentar misalnya “kunci yang bisa membuka banyak lubang itu hebat, tetapi lubang yang bisa dibuka banyak kunci adalah murahan.” Komentar seperti ini biasanya dibalut humor, tapi menyimpan pesan yang merendahkan dan memperkuat standar ganda terhadap seksualitas perempuan.
Padahal, candaan yang sekilas terlihat sepele ini bisa bekerja seperti propaganda kecil yang disebarkan terus-menerus dalam mengatur cara kita melihat tubuh perempuan, seksualitas perempuan, sampai posisi perempuan dalam relasi. Dan di titik tertentu, bahkan bisa menjadi bagian dari Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).
Apa Itu KBGO?
Menurut panduan SAFEnet, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)—atau kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi—adalah bentuk kekerasan yang memiliki niatan melecehkan, merendahkan, atau menyakiti korban berdasarkan gender atau seksualitasnya. Prinsipnya sama dengan kekerasan berbasis gender di dunia nyata: yang membedakan hanyalah medium dan skalanya.
Jika sebuah tindakan tidak dilandasi tujuan untuk melecehkan berdasarkan gender atau seksualitas, maka ia masuk kategori kekerasan online umum. Tetapi ketika kekerasan itu diarahkan pada seseorang karena dia perempuan, laki-laki, nonbiner, atau karena ekspresi seksualnya, maka tindakan tersebut masuk dalam ranah KBGO.
Pembedaan ini penting karena menentukan solusi yang dibutuhkan. Jika yang terjadi adalah KBGO, penyelesaiannya tidak bisa berhenti pada penindakan hukum. Hukum mungkin membuat pelaku jera sementara, tetapi tidak menyentuh akar persoalan: cara pandang pelaku yang bias gender. Tanpa intervensi yang lebih mendasar, pelaku bisa saja mengulang kekerasan dengan cara yang berbeda setelah hukuman selesai.
SAFEnet menekankan bahwa merombak logika yang melanggengkan ketimpangan gender adalah kunci. Artinya, KBGO tidak bisa diselesaikan hanya dengan patroli digital, pelaporan, atau takedown konten. Perlu perubahan budaya—dan humor merupakan salah satu arena tempat bias itu berkembang paling subur.
Baca juga: Cegah KBGO dengan 3S: Screen Time, Screen Break, dan Screen Zone
Mengapa KBGO Bisa Dilanggengkan Melalui Lelucon dan Meme?
Banyak contoh humor seksis yang beredar di media sosial tanpa disadari membentuk pola pikir misoginis. Seperti meme “permen dibungkus vs tidak dibungkus” yang menyamakan perempuan dengan barang konsumsi yang masih “dibungkus” dinilai lebih berharga, sedangkan yang “tidak dibungkus” dianggap tidak layak. Contoh lain adalah metafora “kunci dan lubang kunci”—lelucon lama yang membandingkan kemampuan laki-laki membuka banyak “lubang” sebagai sesuatu yang keren, sementara perempuan dengan banyak “kunci” dianggap murah.
Ada juga versi lain seperti “pintu pagar” yang terlalu sering terbuka atau “nasi bungkus” yang sudah disentuh banyak tangan. Semua metafora ini memposisikan tubuh perempuan sebagai objek yang dapat dinilai berdasarkan tingkat kesucian atau kepantasan moral.
Selain itu, ada humor yang mengolok-olok perempuan yang vokal, dengan menyebut mereka baperan, atau feminis garis keras. Bahkan ada meme yang menggambarkan perempuan sebagai beban emosional, sebagai makhluk yang selalu ingin dimengerti, atau yang hanya bisa marah-marah ketika sedang menstruasi. Humor-humor ini mungkin tampak sepele, tetapi ia mengukuhkan posisi perempuan sebagai subjek yang wajar diremehkan dan ditertawakan.
Metafora benda—permen, kunci, pintu, pagar, nasi bungkus—berfungsi untuk menyederhanakan tubuh perempuan menjadi objek yang dapat dihakimi atau dikontrol. Ketika tubuh perempuan disamakan dengan barang, mengatur atau mengomentarinya terasa lumrah. Ketika seksualitas perempuan diperlakukan sebagai barang konsumsi, standar ganda pun dianggap wajar: laki-laki yang aktif secara seksual dipuji, sementara perempuan dengan pengalaman seksual yang sama dicemooh. Padahal, analogi-analogi ini sama sekali tidak mencerminkan pengalaman manusia yang kompleks.
Lebih jauh, humor jenis ini membuat orang merasa punya pembenaran moral untuk merendahkan perempuan. Artinya humor bisa membawa logika bahwa perempuan yang “tidak menutup diri” pantas mendapatkan risiko. Bahwa perempuan yang memiliki riwayat seksual dianggap memiliki nilai lebih rendah. Semua asumsi budaya ini menjadi fondasi dari kekerasan berbasis gender online (KBGO). Ketika perempuan disalahkan melalui humor, maka ketika terjadi pelecehan, komentar-komentar menyalahkan korban seperti “pantesan, siapa suruh begitu” muncul dengan mudah.
Dalam jangka panjang, orang menerima pandangan tersebut tanpa sadar. Akibatnya, ketika muncul kasus pelecehan atau perundungan daring, respons menyalahkan perempuan dianggap wajar dan logis, karena kerangka berpikirnya telah dibentuk lebih dahulu oleh humor yang tampak tidak berbahaya.
Baca juga: Bukan Revenge Porn, Tapi Non-Consensual Intimate Image
Apa Dampaknya?
Penelitian menunjukkan bahwa humor seksis bukanlah sekadar gurauan. Sebuah riset dalam Psikis: Jurnal Psikologi Islamimenemukan bahwa humor seksis dapat menjadi bentuk pelecehan verbal karena merendahkan dan menstereotipkan perempuan. Humor semacam ini menciptakan lingkungan psikologis yang tidak aman dan meningkatkan toleransi terhadap diskriminasi serta potensi kekerasan terhadap perempuan.
Tesis Natasha Vashist (2015) juga menunjukkan bahwa paparan humor misoginis dapat meningkatkan pandangan seksis pada laki-laki, membuat mereka lebih toleran terhadap diskriminasi berbasis gender. Pada saat yang sama, humor semacam ini dapat menurunkan harga diri perempuan dan memengaruhi cara perempuan dalam memandang tubuh dan nilai diri mereka. Paparan jangka panjang terhadap humor seksis—meskipun satu klip tidak selalu langsung berdampak—berkorelasi dengan meningkatnya tingkat seksisme dalam masyarakat.
Semua temuan ini memperlihatkan bahwa humor bukan hal yang netral. Humor bisa menjadi sarana yang kuat untuk memperkuat budaya misogini dan melanggengkan KBGO. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya menertawakan meme, tetapi juga mengkritisi pesan yang tersembunyi di baliknya.
Referensi:
- Aprianti, R., & Ginting, E. (2022). Sexist humor as a form of sexual violence and prevention effort from an Islamic perspective. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 8(2), 239–250. https://doi.org/10.19109/psikis.v8i2.13755
- Safenet. (2019). Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online: Sebuah Panduan. https://safenet.or.id/wp-content/uploads/2019/11/Panduan-KBGO-v2.pdf
- Vashist, N. (2015). The effect of misogynistic humor on Millennials’ perception of women. The Pegasus Review: UCF Undergraduate Research Journal, 8(1), Article 3. https://stars.library.ucf.edu/urj/vol8/iss1/3
