Home » Event » Jurnalis Asia Merespon Krisis Kemanusiaan di Ukraina

Jurnalis Asia Merespon Krisis Kemanusiaan di Ukraina

Bincang Perempuan

Event

Bincangperempuan.com- Membahas peran penting media dalam merintis jalan perdamaian di Ukraina, Rabu (27/03/2024), Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menggelar diskusi bertajuk  “Asian Media’s Role in Ukrainia Peace” di Auditorium Erasmus Huis, Jakarta.  Diskusi tersebut menampilkan empat jurnalis terkemuka dari Damar Fery Ardian (Indonesia), Hussein Abri Yusuf (Indonesia), Alya bin Abdul Aziz (Malaysia), dan Juan Carlo Gotinga (Filipina) yang sebelumnya telah berkolaborasi dalam perjalanan liputan ke Ukraina pada bulan Februari lalu. Mereka membagikan pengalaman mendalam terkait situasi di Ukraina.

Acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar Belanda, Lambert Grijns dan Duta Besar Ukraina Vasyl Hamianin. Selain itu para perwakilan dari kedutaan Polandia, India, dan Filipina juga ikut hadir. Serta jurnalis dan pemangku kepentingan media di Indonesia.

Alya bin Abdul Aziz, jurnalis dari Malaysiakini menyampaikan bahwa dampak yang paling terasa ketika ia datang ke Ukraina adalah perubahan fisik dan bangunan yang rusak. Ia bahkan memiliki kesan bahwa warga Ukraina seakan hidup normal dan sedang tidak dalam suasana perang. “Namun itu tentu yang terlihat di mata. Pasti ada trauma yang mereka rasakan dan mungkin ada mulai lelah berbicara tentang yang perang ini,” kata Alya.

Apa yang disampaikan Alya dibenarkan oleh Damar Fery Ardian, jurnalis yang bekerja untuk JARING.id. Ketika berada di Ukraina, Damar sempat bertemu dan mewawancarai seorang warga negara Indonesia yang masih memilih untuk tetap tinggal di sana ketika invasi terjadi di Februari 2022. Sejak invasi itu, WNI ini selalu menyiapkan perbekalan di dalam tas yang setiap saat bisa dibawa untuk mengungsi meskipun saat ini situasi cenderung aman.

Selain berbicara soal dampak perang, para jurnalis ini juga berbagi cerita tentang bagaimana warga Ukraina mencoba untuk membangun ulang kehidupan mereka di tengah kondisi perang yang belum juga usai. Seperti yang disampaikan jurnalis Tempo, Hussein Abri Yusuf Muda misalnya. Ia menemukan fakta bahwa pemerintah Ukraina berupaya untuk menawarkan usulan perdamaian yang disampaikan ke negara-negara dunia.

“Mereka masih melakukan diplomasi ke negara-negara lain untuk penyelesaian perang. Mereka juga mencari peluang kerjasama di bidang pendidikan dengan berbagai kampus yang ada di dunia, termasuk Indonesia,” kata Hussein.

Perdamaian di Ukraina memang sulit diupayakan apabila negara-negara di dunia termasuk ASEAN tidak ikut terlibat di dalamnya. Perjalanan liputan para jurnalis ini bertujuan untuk membuka wacana publik tersebut. Melalui media dan jurnalis yang turun langsung ke lapangan dan bertemu dengan para penyintas perang, publik di setiap negara, termasuk di level pemerintahan diharapkan memiliki kesadaran lebih dan menjadikan isu ini sebagai prioritas yang bisa diselesaikan bersama.

Juan Carlo Gotinga, jurnalis Rappler Filipina mengatakan peran media adalah mencari tahu nuansa dan sisi-sisi mendalam dari peristiwa di Ukraina, dan membagikannya kepada khalayak, dengan tujuan agar mereka dapat menempatkan diri mereka dalam situasi orang-orang di Ukraina. Di negaranya, ia menemukan kesamaan perjuangan antara Ukraina-Rusia dan perjuangan Filipina-Tiongkok.

“Saya melihat bahwa inilah nilai dari jurnalis dari media lokal yang meliput Ukraina, kisah-kisah yang diceritakan sangat spesifik dan bernuansa bagi audiens lokal,” kata Juan Carlo.

Posisi strategis Indonesia

Dinna Prapto Raharja, pengajar Hubungan Internasional, Universitas Bina Nusantara justru melihat belum ada peluang besar bagi negara di ASEAN untuk memberikan dukungan penuh bagi Ukraina kecuali masalah ini menjadi isu bersama di semua anggota. Namun, Indonesia menurutnya telah memiliki posisi lebih strategis untuk memulainya.

Menurut Dinna, Indonesia memiliki hubungan baik dengan Ukraina, Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Modal inilah yang bisa digunakan untuk mengingatkan pada dunia tentang komitmen untuk mencegah perang seperti yang tertera di piagam Persatuan Bangsa-Bangsa. “Di level organisasi ASEAN belum sampai pada pemahaman itu karena orientasi mereka hanya negara anggota. Namun Indonesia menjadi negara satu-satunya di ASEAN yang mengawali inisiatif itu. Indonesia harus menyerukan bahwa saat ini ada ada hal yang tidak sesuai piagam PBB,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif PPMN Fransisca Ria Susanti dalam sambutannya mengatakan, bahwa apa yang diceritakan para jurnalis yang baru pulang dari Ukraina ini adalah sebuah upaya meyakinkan publik bahwa korban di Ukraina bukan sekadar statistik, melainkan individu-individu yang memiliki nama, memiliki cinta, keluarga, dan kehidupan yang seharusnya baik-baik saja, hingga agresi menghancurkan segalanya.

“Apa yang terjadi di Ukraina serta di Palestina dan negara-negara lain yang saat ini menghadapi pertempuran yang tidak seimbang, harus menjadi perhatian bersama. Entah itu oleh pejabat negara yang menghadiri pertemuan PBB, politisi yang berkampanye, NGO yang melakukan advokasi, akademisi, jurnalis, gerakan masyarakat sipil, atau kita semua yang berkumpul di sini hari ini,” katanya.

Sebagai informasi, PPMN atas dukungan Open Society Foundation memberangkatkan enam jurnalis terpilih untuk terlibat dalam peliputan di wilayah Ukraina selama delapan hari. Mereka berasal dari Tempo dan JARING.id (Indonesia), Malaysiakini dan Astro Awani (Malaysia), Rappler (Filipina), dan Indian Express (India). Aktivitas ini juga merupakan bagian dari komitmen PPMN mendorong independesi media dan kebebasan pers di Asia, termasuk mendorong peran media dan jurnalis dalam mewujudkan perdamaian melalui karya-karya jurnalisme yang berkualitas.

Krisis di Ukraina, Krisis Kemanusiaan

Artikel Lainnya

Perempuan Bekerja 100 Jam per Minggu tapi Dianggap Tak Produktif

UN Women WPS

UN Women Sambut Peluncuran Action Plan WPS di Filipina

Kolaborasi Lembaga Layanan, Untuk Mengatasi Angka Kekerasan Seksual di Bengkulu

Leave a Comment