Kata Influencer: “Kuliah itu Scam?”

Retno Wahyuningtyas

Opini

Bincangperempuan.com- Isu bahwa kuliah itu scam menjadi perbincangan hangat di ruang digital setelah sebuah video TikTok viral dan ditonton lebih dari 2,5 juta kali. Dalam konten tersebut, sang kreator secara berani menyatakan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi relevan, kecuali untuk profesi dengan spesialisasi nyawa seperti kedokteran.

Meski menuai banyak bantahan dari para tokoh publik. Selain itu, pernyataan tersebut tidak muncul sebagai suatu kebetulan, fenomena ini sebenarnya merupakan cerminan dari kegelisahan nyata generasi muda yang merasa dunia kerja tidak sejalan dengan apa yang mereka pelajari di kelas. Namun di tengah ketimpangan tersebut, apakah proses kuliah benar-benar suatu upaya scam atau penipuan?

Narasi “kuliah itu scam” dianggap sebagai kesimpulan yang keliru dan menyesatkan. Masalah utamanya bukan pada keberadaan pendidikan tinggi, melainkan pada kegagalan sistem dalam menyerap lulusan ke dunia kerja serta kurangnya arahan bagi mahasiswa pasca-wisuda.

Data BPS menunjukkan adanya ketidaksesuaian kualifikasi pendidikan dengan pekerjaan (vertical mismatch):

  • Sekitar 36,36% angkatan kerja muda bekerja di posisi yang tidak sesuai tingkat pendidikannya.
  • Kondisi ini menyebabkan wage penalty (upah rendah/stagnan) dan inefisiensi tenaga kerja.
  • Lulusan yang overeducated sering terpaksa lari ke sektor informal dengan perlindungan kerja yang minim demi menyambung hidup.

Kecemasan ini tidak muncul tiba-tiba setelah lulus. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat akhir sudah merasakan ketidakpastian dan pesimisme terhadap peluang kerja bahkan sebelum mereka memakai toga.

Dalam perspektif gender, kecemasan ini memiliki lapisan beban yang berbeda antara mahasiswa laki-laki dan perempuan:

  • Beban maskulinitas dan peran “breadwinner“. Bagi mahasiswa laki-laki, narasi “kuliah itu scam” sering kali berbenturan dengan tekanan sosial sebagai calon tulang punggung keluarga. Kecemasan mereka dipicu oleh ketakutan gagal memenuhi ekspektasi maskulinitas tradisional jika gelar sarjana tidak segera dikonversi menjadi penghasilan tetap.
  • Hambatan ganda dan domestifikasi bagi perempuan ⟶ Di sisi lain, mahasiswi tingkat akhir sering menghadapi kecemasan atas kerentanan posisi mereka di pasar kerja yang masih bias gender. Ketidakpastian kerja pasca-kuliah sering kali mempercepat tekanan untuk kembali ke ranah domestik (pernikahan) sebagai “jalur aman” ketika karier profesional dianggap tidak menjanjikan. Fenomena vertical mismatch juga lebih berisiko menghantam perempuan, yang sering kali harus menerima upah lebih rendah (gender wage gap) di sektor informal. Seringkali, untuk menyelamatkan jebakan kondisi itu, perempuan “memilih” untuk menikah agar bisa “selamat” dan terpenuhi kebutuhan ekonomi.
  • Kondisi ini yang seringkali dianggap sebagai simplifikasi, bahwa bila ujung-ujungnya perempuan yang menempuh pendidikan tinggi hanya untuk mencari jodoh, kesulitan jodoh, atau ingin dinafkahi, lalu kenapa tidak langsung menikah saja?

Narasi “kuliah itu scam” dianggap sebagai kesimpulan yang keliru dan menyesatkan. Masalah utamanya bukan pada keberadaan pendidikan tinggi, melainkan pada kegagalan sistem dalam menyerap lulusan ke dunia kerja serta kurangnya arahan bagi mahasiswa pasca-wisuda.

Dalam sosiologi, dikenal suatu kondisi false consciousness (kesadaran palsu) adalah kondisi di mana kelompok yang tertindas justru mengadopsi ideologi kelompok penindas yang merugikan mereka sendiri.

Faktanya narasi ini sering kali diproduksi oleh individu yang sudah punya privilege (memiliki sumber daya ekonomi, dan lain sebagainya). Sebaliknya, saat perempuan kelas pekerja mengadopsi pikiran ini, mereka sebenarnya sedang melucuti satu-satunya alat pertahanan diri mereka terhadap struktur patriarki.

Jika pendidikan tinggi didelegitimasi, maka “menikah” menjadi satu-satunya jalan logis yang tersisa bagi perempuan muda setelah lulus sekolah menengah. Dapat diidentifikasi bahwa hal tersebut merupakan wujud dari:

  • Romantisasi Ketidakberdayaan ⟶ Dengan melabeli kuliah sebagai penipuan, narasi ini membungkus pernikahan dini seolah-olah sebagai “pilihan cerdas” atau “jalan pintas menuju kebahagiaan,” padahal secara sistemik itu adalah domestikasi paksa.
  • Otonomi dan kemandirian ekonomi ⟶ Pendidikan adalah modal utama bagi perempuan untuk memiliki posisi tawar di pasar kerja. Dengan memiliki penghasilan sendiri, perempuan tidak terjebak dalam ketergantungan finansial kepada laki-laki (ayah atau suami). Kemandirian ini memberikan perempuan hak untuk menentukan jalannya sendiri, termasuk hak untuk pergi dari situasi yang eksploitatif atau penuh kekerasan.
  • Alat negosiasi di ranah privat ⟶ Pendidikan tinggi mengubah dinamika kekuasaan di dalam rumah tangga. Perempuan terpelajar cenderung memiliki suara dalam pengambilan keputusan, mulai dari pengelolaan keuangan, kesehatan reproduksi, hingga pola asuh anak. Pendidikan menjadi senjata untuk meruntuhkan tembok subordinasi yang selama ini menempatkan perempuan hanya sebagai pelaksana perintah.
  • Pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi ⟶ Secara statistik, perempuan yang berpendidikan cenderung menginvestasikan kembali pendapatannya untuk kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka. Ini menciptakan efek domino yang kuat (multiplier effect) dalam memutus siklus kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup komunitas secara keseluruhan.

Meskipun dikritik, kuliah tetap memiliki nilai krusial secara data dan konsep, analisisnya sebagai berikut:

  • Peluang kerja ⟶ Menurut data BPS Tahun 2024 menunjukkan bahwa TPT lulusan universitas (5,25%) masih lebih rendah dibandingkan lulusan SMA (7,05%–9,01%).
  • Manfaat non-akademis ⟶ Kampus bukan sekadar tempat mencari info, tapi wadah pembentukan nalar kritis, etika, jejaring, dan kompetensi terstruktur yang tidak bisa didapat secara otodidak.
  • Ruang mobilitas sosial ⟶ Bagi banyak keluarga, kuliah tetap menjadi investasi jangka panjang untuk memperbaiki taraf hidup dan status sosial.

Upaya melawan narasi “kuliah itu scam” adalah perjuangan untuk mempertahankan ruang otonomi perempuan. Pendidikan tinggi bukan sekadar soal mencari kerja, melainkan alat negosiasi agar perempuan tidak dipaksa tunduk pada satu-satunya jalur yang disediakan patriarki, menjadi domestik tanpa kuasa. Menghancurkan kepercayaan pada pendidikan berarti memperlebar jalan menuju pengurungan perempuan di ranah domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kisah Keadilan Gender dari Wartawan Perempuan di Wilayah Asia-Pasifik

Catatan Akhir Tahun 2021

Menikmati “Kesendirian” Tanpa Perlu Merasa Sepi 

Leave a Comment