Bincangperempuan.com- Pernahkah saat kamu sedang sibuk atau sakit, lalu meminta tolong saudara laki-laki atau pasangan untuk menyapu rumah. Alih-alih langsung bergerak, dia justru menjawab, “Duh, nanti kalau aku yang nyapu malah, nggak bersih. Urusan begini mah jagoannya perempuan”, kalimat itu terdengar seperti pujian. Tetapi jika ini terjadi berulang kali untuk menghindari tanggung jawab, berhati-hatilah. Kamu mungkin sedang berhadapan dengan fenomena yang disebut Weaponized Incompetence.
Apa itu Weaponized Incompetence?
Secara harfiah, weaponized incompetence berarti “ketidakmampuan yang dipersenjatai”. Melansir dari Psychology Today, istilah ini juga sering disebut sebagai strategic incompetence atau ketidakmampuan strategis. Ini adalah kondisi ketika seseorang, baik secara sadar maupun tidak, menunjukkan bahwa dirinya tidak mampu melakukan atau menguasai tugas tertentu. Dengan tujuan agar orang lain merasa geram dan akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.
Fenomena ini paling sering terjadi di dalam rumah tangga antar pasangan, dan di tempat kerja antar rekan sejawat. Seseorang yang melakukan ini biasanya menghindari tanggung jawab secara halus. Mereka berpura-pura tidak becus, lamban, atau bodoh dalam suatu tugas sehingga orang lain berhenti memberikan tugas tersebut kepada mereka.
Salah satu contohnya mungkin bisa kita jumpai dalam rumah tangga. Ketika istri berkata kepada suaminya, “Aku mau ganti popok dan kasih makan bayi, kamu tolong masak makan malam ya?” si suami mungkin akan menjawab, “Aduh, aku kan masakannya nggak enak! Kamu jauh lebih jago. Bumbunya mana? Aku takut salah.”
Karena si suami terus mengeluh, banyak tanya, atau sengaja membuat masakan yang tidak karuan, si istri akhirnya merasa lebih baik turun tangan sendir. Akibatnya si suami bebas dari tugas memasak selamanya karena sudah dicap “tidak becus”.
Baca juga: Krisis Pertemanan Dewasa: Mengapa Mencari Sahabat Tak Lagi Semudah Dulu?
Mengapa Seseorang Melakukan Ini?
Ketidakmampuan yang disengaja ini bukan berarti ada niat jahat atau kebencian. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya:
1. Ekspektasi Peran Gender
Adanya pola pikir lama yang mengatakan laki-laki tidak seharusnya mengerjakan pekerjaan rumah atau urusan domestik itu kodrat perempuan. Ini membuat laki-laki merasa punya “izin” untuk tidak belajar hal-hal dasar di rumah.
2. Dinamika Keluarga Asal
Seseorang mungkin tumbuh di rumah di mana ia tidak pernah diberi tanggung jawab domestik sama sekali, sementara saudara perempuannya melakukan segalanya.
3. Menghindari Tanggung Jawab
Sederhananya, mereka hanya malas atau merasa cemas dan tidak nyaman saat harus mengerjakan tugas tersebut.
4. Perfeksionisme Pasangan
Kadang, jika satu pihak terlalu kritis dan menuntut kesempurnaan, pihak lain jadi malas mencoba karena takut dikritik, lalu memilih untuk pura-pura tidak bisa saja.
Dampak Buruk bagi Hubungan Rumah Tangga
Jika dibiarkan, weaponized incompetence bisa jadi racun dalam sebuah hubungan. Melansir dari Verywell Mind, efeknya bisa merusak ikatan emosional:
1. Ketidakseimbangan Beban
Salah satu pihak akan merasa memikul beban sendirian, yang memicu kelelahan fisik dan mental (burnout).
2. Munculnya Rasa Benci karena Menumpuk Kekesalan
Meski kamu sayang dengan pasanganmu, rasa kesal akan terus menumpuk karena merasa tidak dibantu. Kamu mulai merasa seperti “pembantu” daripada seorang mitra.
3. Krisis Kepercayaan
Sulit untuk mempercayai pasangan jika dalam hal sepele seperti mengurus rumah atau anak saja mereka tidak bisa diandalkan. Kamu merasa harus melakukan semuanya sendiri agar hasilnya benar.
4. Putusnya Komunikasi
Kamu mungkin ragu untuk mengeluh karena tahu pasangan akan menggunakan alasan “aku kan nggak tahu” atau “aku kan nggak bisa” sebagai tameng pertahanan.
5. Putusnya Koneksi Emosional
Saat kamu merasa tidak didukung, secara perlahan kamu akan menarik diri secara emosional dari pasangan.
Baca juga: Dilema Etis Bayi Tabung di Indonesia: Hak Orang Tua Vs Kelayakan Hidup Anak
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Menghadapi perilaku ini butuh ketegasan dan keterbukaan. Berikut langkah yang bisa diambil:
1. Diskusi Tanpa Menghakimi
Mulailah obrolan dengan rasa ingin tahu, bukan tuduhan. Alih-alih bilang “Kamu malas!”, coba katakan, “Aku perhatikan tiap kali aku minta tolong masak, kamu selalu bilang nggak bisa. Apa yang bikin kamu merasa kesulitan?”
2. Berbagi Peran dengan Jelas
Buat daftar tugas yang konkret. Siapa mengerjakan apa dan kapan. Hilangkan area abu-abu yang bisa dijadikan alasan untuk menghindar.
3. Berhenti Mengambil Alih
Ini yang tersulit. Jika pasangan melakukan tugas dengan buruk (misal: menyapu kurang bersih), jangan langsung diambil alih. Biarkan dia belajar dari prosesnya. Jika kamu terus mengambil alih, dia akan terus menggunakan alibi ketidakmampuannya sebagai senjata.
4. Apresiasi Proses, Bukan Hasil
Berikan dukungan saat pasangan mencoba melakukan tugas baru, meskipun hasilnya belum sempurna. Ini akan membangun rasa percaya diri mereka.
Apakah Weaponized Incompetence Hanya Terjadi pada Laki-laki?
Terlepas dari itu, meskipun pola ini sering kali dibahas dalam konteks beban domestik perempuan, weaponized incompetence adalah fenomena yang bisa terjadi sebaliknya—dari perempuan kepada laki-laki. Perilaku ini tidak eksklusif milik satu gender tertentu. Sebab penghindaran tanggung jawab itu bisa dilakukan oleh siapa saja dalam sebuah kemitraan.
Seorang perempuan mungkin menggunakan narasi “ketidakmampuan” pada ranah yang secara tradisional dianggap sebagai area laki-laki. Misalnya, ketika menyangkut urusan administrasi keuangan yang rumit, memperbaiki peralatan elektronik rumah tangga yang rusak, atau melakukan perawatan kendaraan.
Jika seorang perempuan sengaja enggan belajar hal-hal teknis tersebut dan terus-menerus berkata, “Aduh, aku nggak paham soal angka/mesin, kamu kan laki-laki, harusnya kamu yang urus,” padahal ia sebenarnya mampu untuk belajar, maka ia sedang menggunakan weaponized incompetence. Tujuannya sama, agar pasangan mengambil alih seluruh beban mental dan fisik pada sektor tersebut sehingga ia tidak perlu merasa repot atau bertanggung jawab.
Kesetaraan adalah Solusi
Pada akhirnya, weaponized incompetence bukan sekadar masalah teknis mengenai siapa yang lebih jago memasak atau siapa yang lebih paham soal mesin. Ini adalah masalah pembagian peran yang adil dan kesetaraan dalam sebuah hubungan.
Membangun rumah tangga atau kemitraan yang sehat berarti kedua belah pihak harus siap untuk belajar, beradaptasi, dan tumbuh bersama. Berlindung di balik kata “tidak mampu” hanyalah strategi untuk membiarkan orang lain bekerja sendirian dan menanggung beban yang seharusnya dipikul berdua. Hubungan yang dewasa seharusnya saling berbagi kesediaan untuk mencoba, melakukan kesalahan dalam proses belajar, dan tetap berkontribusi demi kesejahteraan bersama, tanpa memandang sekat-sekat gender yang kaku.
Referensi:
- Lansky, A. S. (2025). Weaponized Incompetence: What It Is and How to Overcome It. Psychology Today. Diakses darihttps://www.psychologytoday.com/us/basics/weaponized-incompetence
- Morin, A. (2024). How Weaponized Incompetence Can Hurt Your Relationship. Verywell Mind. Diakses darihttps://www.verywellmind.com/weaponized-incompetence-7553422
