Bincangperempuan.com- Belakangan ini, berita perselingkuhan tidak pernah kehabisan panggung. Dari selebritis, influencer, hingga pejabat publik. Begitu kasus perselingkuhan terbongkar, viral di media lalu jadi bahan obrolan lintas usia dan kelas sosial. Entah mengapa kasus perselingkuhan jauh lebih cepat menyebar dibandingkan berita lain yang lebih serius.
Coba bandingkan dengan kasus kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang terlindas truk beberapa waktu lalu. Tragedi ini memang sempat ramai di media sosial, tapi gaungnya terbatas. Banyak orang tua, kelompok masyarakat awam, atau mereka yang tidak aktif di media sosial tidak banyak membahas kasus tersebut. Sedangkan, skandal perselingkuhan seorang publik figur nyaris pasti diketahui semua orang dari mahasiswa, ibu-ibu arisan, sampai bapak-bapak di warung kopi. Kenapa bisa begitu?
Baca juga: Cinta Tanpa Eksklusivitas, Mengenal Poliamori Lebih Dekat
Kenapa Kita Begitu Tertarik dengan Kasus Perselingkuhan
Sebuah riset komunikasi menunjukkan bahwa platform digital mendorong perilaku surveillance yaitu kecenderungan untuk memantau kehidupan orang lain tanpa benar-benar terlibat di dalamnya (Fox & Warber, 2014). Kita mengamati dari jauh, mengumpulkan potongan cerita, lalu membentuk opini sendiri.
Pada berita perselingkuhan, perilaku ini menyerupai bentuk voyeurisme non-klinis: menikmati melihat konflik relasi orang lain dari jarak aman. Kita ikut masuk ke ruang paling privat—pertengkaran, pengkhianatan, air mata—tanpa harus menanggung risiko emosional apa pun. Semua drama itu terasa intens, tapi tetap aman karena bukan hidup kita yang sedang runtuh.
Selain itu muncul pula perasaan puas saat melihat orang lain jatuh. Ketika pelaku perselingkuhan dihujat, dipermalukan, atau dikuliti habis-habisan di media sosial, ada sensasi puas dan lega. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai schadenfreude—kesenangan yang muncul ketika orang lain mengalami kemalangan. Istilah ini memang berasal dari bahasa Jerman, tapi fenomenanya universal.
Studi menunjukkan bahwa emosi sosial seperti ini nyata dan berkaitan dengan cara kita menikmati konflik dan kegagalan relasi orang lain (Van Dijk et al., 2006). Melihat orang lain mendapat akibat bisa membuat kita merasa sedikit lebih aman, sedikit lebih unggul.
Ilusi Moral dan Kecemasan yang Kita Proyeksikan
Rasa puas saat melihat skandal perselingkuhan jarang diakui sebagai rasa puas. Perselingkuhan hampir selalu dibungkus rapi dengan bahasa moral seperti tidak setia dan penghianat. Dengan ikut mengutuk pelaku, kita menempatkan diri di posisi yang terasa lebih tinggi seolah-olah kita kebal dari godaan yang sama. Di titik ini, yang bekerja bukan cuma empati pada korban, tapi juga ilusi moral superiority. Kita merasa lebih baik
Media sosial tahu betul cara memelihara sensasi ini. Semakin keras opini kita, semakin ramai validasi yang datang. Like, retweet, komentar setuju—semuanya jadi semacam hadiah instan. Dopaminnya mudah didapat, dan bikin ketagihan. Tapi dangkal, karena yang sebenarnya kita lakukan bukan menyelesaikan masalah relasi, melainkan mengonsumsi konflik sebagai hiburan.
Masalahnya, di balik penghakiman kolektif itu ada kegelisahan yang lebih personal. Perselingkuhan mengusik satu kebenaran yang sering kita tekan bahwa tidak semua hubungan tidak sepenuhnya aman. Tidak ada kontrak emosional yang benar-benar antipeluru. Orang bisa berubah, cinta bisa bergeser, kesetiaan bisa runtuh. Saat melihat hubungan orang lain hancur, kita bukan cuma menilai, tetapi juga bernegosiasi dengan ketakutan sendiri seperti takut ditinggalkan, takut tidak cukup, takut gagal menjaga sesuatu yang kita anggap penting.
Data juga memperjelas paradoks ini. Beberapa survei global menunjukkan tingkat perselingkuhan yang tinggi di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Thailand, misalnya, kerap muncul sebagai salah satu negara dengan pengakuan perselingkuhan tertinggi di dunia.
Di kawasan yang sama, survei aplikasi kencan juga pernah menempatkan Indonesia di posisi atas dalam hal pengalaman tidak setia. Angkanya kontras dengan sikap publik yang mayoritas menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang tidak bermoral.
Di sini terlihat nilai yang diucapkan dan praktik yang terjadi tidak selalu sejalan. Kita keras mengutuk di ruang publik, tapi realitasnya jauh lebih abu-abu. Mungkin karena perselingkuhan bukan sekadar soal moral hitam-putih, melainkan tentang kebutuhan emosional, dan ketidakterbukaan dalam hubungan.
Baca juga: Kasus Gisèle Pelicot Membuka Fakta, Tak Ada Ruang Aman Bagi Perempuan
Parasosial, Fantasi, dan Perempuan yang Selalu Disalahkan
Skandal perselingkuhan publik figur semakin mengguncang karena kita membangun hubungan parasosial dengan mereka. Kita merasa mengenal, mengidolakan, bahkan menjadikan relasi mereka sebagai standar ideal. Ketika skandal terbongkar, fantasi pun runtuh.
Bahkan muncul narasi seperti “kalau orang secantik, sepintar, dan sesukses dia saja bisa diselingkuhi, apalagi saya.” Sekilas terdengar empatik, tapi sebenarnya membuka luka yang lebih struktural. Ini menegaskan bahwa bahkan perempuan yang dianggap sempurna tetap tidak aman dalam relasi. Bukan karena ada yang kurang, tapi karena sistemnya memang timpang. Patriarki dan relasi kuasa tetap bekerja, apa pun kelas sosialnya.
Hukuman sosial pun hampir selalu lebih kejam ke perempuan. Perempuan yang selingkuh dicap rusak moralnya, perempuan yang diselingkuhi ditanya apa kurangnya. Sementara laki-laki sering lolos dengan narasi khilaf, “atau sekadar jadi bahan meme sebentar. Sementara pihak perempuan yang jadi selingkuhan lebih banyak menampung ujaran kebencian.
Lalu Sebenarnya Kita Lagi Nonton Apa?
Drama personal orang lain, atau distraksi yang bikin kita lupa menuntut hal-hal yang lebih penting? Ketika energi kolektif habis untuk mengutuk ketidaksetiaan individu, kita jadi jarang membicarakan kejujuran di ruang publik, etika kekuasaan, atau tanggung jawab figur publik di luar urusan ranjang mereka.
Dan selama skandal cuma kita konsumsi sebagai tontonan, bukan bahan refleksi, kita tidak benar-benar belajar apa pun. Padahal lebih banyak berita urgen yang kita perhatikan ketimbang perselingkuhan selebritis atau influencer.
Referensi:
- Fox, J., & Warber, K. M. (2014). Social networking sites in romantic relationships: Attachment, uncertainty, and partner surveillance on Facebook. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 17(1), 3–7. https://doi.org/10.1089/cyber.2012.0667
- JustDating. (2024). Infidelity survey in Southeast Asia [Insights report]. JustDating.(Dikutip melalui berbagai media daring Indonesia)
- Psychology Today. (n.d.). Schadenfreude. https://www.psychologytoday.com/us/basics/schadenfreude
- Vault NIMC. (2024). Viral cheating scandals: What you need to know. https://vault.nimc.gov.ng/blog/viral-cheating-scandals-what-you-need-to-know-17647998
