Kenapa Kita Jarang Memberikan Bunga Kepada Laki-laki?

Ais Fahira

News

Kenapa Kita Jarang Memberikan Bunga Kepada Laki-laki

Bincangperempuan.com- Bunga kerap dianggap sebagai simbol cinta, kelembutan, dan perhatian. Tapi pernahkah kamu memperhatikan siapa yang lebih sering diberi bunga? Hampir selalu perempuan. Sementara laki-laki? Jarang, atau bahkan tidak pernah. Padahal, siapa bilang laki-laki tidak pantas menerima keindahan?

Padahal perempuan bisa memberikan bunga kepada laki-laki sebagai ungkapan kasih sayang. Tak hanya untuk pasangan, kita juga bisa memberikan bunga untuk pria lain seperti ayah, saudara, maupun teman.

Bunga dan Imaji Feminin yang Mengakar

Dalam banyak representasi budaya, bunga dilekatkan dengan karakteristik feminin, lembut, wangi, cantik, rapuh. Maka tak heran jika pemberian bunga seringkali dikaitkan dengan penghormatan terhadap feminitas, yang dalam pikiran banyak orang langsung diasosiasikan dengan perempuan.

Masalah muncul ketika laki-laki masuk dalam konteks ini. Memberikan bunga kepada laki-laki masih dianggap sebagai tindakan yang ‘membalik norma’, seolah-olah mereka sedang difeminisasi. Sementara di masyarakat yang masih memelihara maskulinitas tradisional, laki-laki diharapkan tampil kuat, tangguh, dan tidak emosional, hal seperti ini dianggap tidak cocok atau bahkan memalukan.

Ketakutan Akan Dicap “Kurang Laki”

Di balik keengganan sebagian perempuan untuk memberi bunga kepada laki-laki, sering kali terselip kekhawatiran akan pandangan orang lain. Apakah pasangannya akan merasa risih? Apakah akan dianggap terlalu dominan atau kebalik peran? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan betapa kuatnya norma gender memengaruhi perilaku kita sehari-hari.

Hal serupa juga terjadi pada laki-laki. Banyak yang sebenarnya menyukai bunga, namun enggan mengakuinya karena takut dicap “lembek” atau tidak laki. Dalam sistem patriarki, ekspresi kelembutan sering kali dianggap bertentangan dengan citra maskulin yang telah dibentuk sejak kecil.

Alih-alih memberi bunga, perhatian kepada laki-laki biasanya ditunjukkan dalam bentuk yang dianggap lebih fungsional. Misalnya seperti makanan, jam tangan, atau bantuan dalam bentuk tindakan.

Baca juga: Apa Itu Femvertising? Saat Feminisme Dijual dalam Iklan

Hubungan yang Tidak Simetris

Norma sosial juga membentuk relasi antara laki-laki dan perempuan menjadi tidak seimbang. Dalam relasi heteronormatif, laki-laki umumnya dibentuk sebagai pihak yang aktif yang memberi, menyatakan cinta, atau melamar. Sementara perempuan dibentuk sebagai penerima.

Hal ini terbawa ke urusan hadiah dan ekspresi kasih sayang. Perempuan diajarkan untuk menunggu diberi bunga, bukan untuk memberikannya. Padahal relasi yang sehat semestinya berlangsung dua arah. Kalau bunga adalah bentuk cinta, mengapa hanya satu pihak yang boleh mengungkapkannya dengan bunga?

Apakah Laki-laki Tidak Bisa Menyukai atau Merawat Bunga?

Asumsi bahwa laki-laki tidak cocok menerima bunga juga sering dikaitkan dengan dugaan bahwa mereka tidak tahu cara merawat atau menghargainya. Padahal, siapa pun bisa menyukai keindahan dan menyayangi sesuatu yang hidup terlepas dari gender.

Padahal seorang laki-laki bisa merawat motor antik, memelihara bonsai, atau dengan tekun mengasuh hewan peliharaan. Jadi seharusnya tidak ada alasan untuk berpikir bahwa merawat bunga adalah hal yang asing atau sulit bagi mereka.

Fakta Menarik: Laki-laki Juga Suka Bunga

Sebuah studi dari Motivaction dan Flower Bureau Holland (2021) menunjukkan bahwa 41% laki-laki menyukai menerima bunga dari perempuan. Bahkan seperempat laki-laki dalam survei tersebut juga senang menerima bunga dari sesama laki-laki. Selain itu, 22% laki-laki di Eropa tercatat membeli bunga untuk diri mereka sendiri setidaknya sebulan sekali. 

Menariknya, reaksi laki-laki saat menerima bunga ternyata tak jauh berbeda dengan perempuan. Mereka juga merasa senang, dihargai, dan dicintai. Ini membuktikan bahwa bunga mampu menciptakan perasaan positif terlepas dari siapa yang memberikannya atau siapa yang menerimanya.

Studi yang sama menyebut bahwa hampir setengah responden menganggap bahwa anggapan “bunga hanya untuk perempuan” sudah usang. Bahkan 4 dari 10 responden menyatakan bahwa meski dulunya memberi bunga kepada laki-laki dianggap tabu, kini pandangan itu mulai berubah.

Namun, persepsi masyarakat terutama di Indonesia masih menjadi hambatan. Budaya kita cenderung melekatkan bunga secara eksklusif dengan perempuan. Di banyak momen seremonial, bunga diberikan kepada ibu, guru perempuan, atau pasangan perempuan, jarang sekali kepada laki-laki. Pemberian bunga kepada laki-laki masih dianggap “tidak lazim” atau bahkan membuat canggung, baik bagi pemberi maupun penerima. Maka, meskipun secara global mulai ada pergeseran, di Indonesia norma gender ini masih perlu waktu untuk dilonggarkan.

Baca juga: Apa Itu Hoe Phase? Merayakan atau Melabeli  Kebebasan Perempuan?

Kenapa Ini Perlu Diubah?

Membiasakan diri memberi bunga kepada laki-laki bukan semata-mata soal menantang norma. Ini tentang menciptakan ruang bagi ekspresi kasih sayang yang lebih jujur dan setara. Bunga adalah simbol kelembutan, dan jika kita ingin membangun relasi yang sehat, maka baik laki-laki maupun perempuan perlu merayakan kelembutan itu tanpa rasa takut atau malu.

Ketika perempuan memberi bunga kepada laki-laki, kita tidak hanya memberi hadiah. Kita juga sedang membongkar konstruksi gender yang sempit, dan menyampaikan pesan bahwa laki-laki juga boleh merasa, mengapresiasi estetika, dan menjadi penerima kasih sayang.

Keindahan Tidak Memandang Gender

Mungkin memang belum umum, tapi bukan berarti salah. Jika kamu merasa ingin memberikan bunga kepada pasanganmu, ayahmu, atau sahabat laki-laki lakukan saja. Tidak perlu menunggu momen tertentu atau takut dianggap aneh.

Laki-laki juga manusia. Dan seperti semua manusia, mereka juga berhak menerima keindahan. Siapa tahu satu buket bunga bisa berbicara lebih banyak daripada seribu kata. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Membongkar Romantisasi Keibuan dari Anatomi Perasaan Ibu

AJI Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis dalam Aksi 25–30 Agustus 2025

AJI Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis dalam Aksi 25–30 Agustus 2025

Perempuan di tengah pandemi

Perempuan di Tengah Pandemi Covid-19

Leave a Comment