Bincangperempuan.com- Sudahkah kamu mengapresiasi ibumu hari ini? Pertanyaan ini mungkin sederhana. Tapi kalau dipikirkan lagi, ada satu hal yang sering luput kita sadari bahwa ibu rumah tangga juga seorang provider—atau penyedia bagi keluarga.
Selama ini, kata provider hampir selalu dilekatkan pada laki-laki. Dalam banyak cerita tentang keluarga, laki-laki digambarkan sebagai pencari nafkah utama. Sosok ayah atau laki-laki bekerja, membawa pulang uang, lalu dianggap sebagai penopang rumah tangga.
Sementara itu, perempuan sering diposisikan hanya sebagai pengurus rumah. Seakan-akan tugas mereka tidak ada hubungannya dengan menyediakan sesuatu bagi keluarga.
Padahal, siapa yang biasanya bangun lebih dulu di rumah? Siapa yang memastikan makanan tersedia di meja? Siapa yang mengatur uang belanja supaya cukup sampai akhir bulan? Siapa yang tetap bekerja di luar rumah, lalu pulang dan masih mengurus berbagai pekerjaan domestik? Semua itu juga bentuk dari providing.
Masalahnya, kerja seperti ini sering tidak dianggap sebagai bentuk providing. Tetapi dianggap sebagai “kewajiban perempuan” atau sekadar pekerjaan rumah tangga biasa. Padahal tanpa kerja-kerja tersebut, rumah tangga tidak akan berjalan.
Baca juga: Apa Benar Kalau Menstruasi Bikin Perempuan Jadi Seperti Laki-laki?
Perempuan dan Beban Ganda
Sebagian perempuan menjalankan dua peran sekaligus. Mereka bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, tetapi juga tetap memikul tanggung jawab domestik. Jika laki-laki sering dilihat sebagai penyedia dalam bentuk materi, perempuan kerap menjadi penyedia dalam cara yang lebih luas—materi sekaligus emosional.
Perempuan menjaga ritme rumah tangga tetap berjalan. Mereka memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, bahkan ketika sumber daya yang tersedia sangat terbatas. Mereka mengatur pengeluaran, merawat anak, menjaga hubungan antaranggota keluarga, hingga memastikan rumah tetap menjadi tempat yang aman secara emosional.
Realitas ini bahkan lebih jelas terlihat di komunitas-komunitas yang hidup dengan sumber daya terbatas. Terutama di wilayah pedesaan, perempuan sejak lama bekerja di luar rumah. Mereka bertani di ladang, mengumpulkan hasil hutan, menjadi buruh harian, atau berdagang kecil-kecilan di pasar.
Sebuah penelitian tentang kehidupan keluarga di Kampung Cidadap, Jawa Barat, misalnya menunjukkan bahwa perempuan memainkan peran besar dalam menjaga ketahanan keluarga. Mereka tidak hanya berkontribusi dalam kegiatan produktif seperti bekerja atau membantu mencari nafkah, tetapi juga menjalankan berbagai peran reproduktif dan sosial di lingkungan masyarakat.
Penelitian tersebut menemukan bahwa perempuan berperan dalam menjaga kesehatan keluarga, mengatur kebutuhan rumah tangga, hingga terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Bahkan dalam beberapa kasus, perempuan juga menjadi pemimpin keluarga—terutama ketika mereka berstatus janda atau harus mengambil alih tanggung jawab ekonomi.
Dalam kajian feminisme modern, fenomena ini sering disebut sebagai double burden atau beban ganda. Perempuan bekerja di ranah produktif—baik di sektor formal maupun informal—tetapi tetap memikul tanggung jawab domestik hampir sepenuhnya.
Namun ironi muncul ketika kontribusi besar ini tetap tidak dianggap sebagai bagian dari peran “provider”.
What Do Women Bring to The Table?
Pandangan semacam ini juga terlihat dalam percakapan populer di media sosial, terutama dalam pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi hubungan: “What do women bring to the table?” atau “perempuan membawa apa dalam sebuah hubungan?”
Pertanyaan ini muncul dari cara pandang yang menilai relasi hanya dari sisi materi. Karena itu, ketika perempuan tidak dilihat sebagai pencari nafkah utama, muncul anggapan bahwa mereka tidak membawa sesuatu yang signifikan ke dalam hubungan.
Bahkan lebih parahnya ada anggapan bahwa perempuan dinilai dari sisi materi atau penampilan fisik saja. Seakan-akan hanya perempuan yang dianggap menarik secara fisik yang “layak” mendapatkan pasangan yang mapan secara finansial. Cara pandang seperti ini mereduksi hubungan menjadi transaksi saja, laki-laki dinilai dari kemampuan ekonominya, sementara perempuan dinilai dari penampilannya.
Padahal relasi manusia jauh lebih kompleks daripada logika pertukaran semacam itu. Dalam hubungan yang sehat, kontribusi tidak selalu bisa dihitung dengan angka. Perempuan sering membawa hal-hal yang bahkan tidak bisa dihitung dengan angka. Tubuh perempuan menjalani proses kehamilan selama berbulan-bulan dan menghadapi risiko serta rasa sakit dalam proses melahirkan. Usaha ini tidak kecil, dan jelas tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar peran domestik biasa.
Di banyak keluarga, perempuan juga menjadi penopang emosional dalam hubungan. Mereka mendengarkan, memberi dukungan, meredakan konflik, dan membantu menjaga stabilitas hubungan ketika pasangan menghadapi tekanan hidup.
Pada saat yang sama, perempuan sering memegang peran penting dalam mengatur kehidupan rumah tangga. Mengelola pengeluaran, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, merencanakan kebutuhan anak, hingga mengurus berbagai hal kecil yang membuat rumah tangga tetap berjalan. Kerja-kerja ini sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan keberlangsungan keluarga.
Baca juga: Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi
Karena itu, konsep provider sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar membawa pulang uang. Menyediakan juga berarti menyediakan waktu, tenaga, perhatian, dan stabilitas emosional bagi keluarga.
Jika dilihat dengan cara ini, menjadi jelas bahwa menyediakan tidak pernah menjadi peran satu orang saja. Ia selalu merupakan kerja bersama dalam keluarga.
Namun selama ini, bagian yang dikerjakan perempuan sering tidak diberi pengakuan yang layak. Karena itu, alih-alih terus mempertanyakan apa yang dibawa perempuan ke dalam hubungan, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: sudahkah kita benar-benar menyadari kontribusi yang mereka berikan?
Referensi:
- Sari, R., & Rahmawati, D. (2023). Peran perempuan dalam ketahanan keluarga di Kampung Cidadap. Umbara: Indonesian Journal of Anthropology, 8(2). https://journals.unpad.ac.id/umbara/article/download/53413/22530
- Wissen. (2025). Teori feminisme: Peran perempuan yang bekerja keras dalam keluarga di era modern. https://journal.appisi.or.id/index.php/wissen/article/download/622/864/3440
