Bincangperempuan.com- Koalisi Cek Fakta nemuin banyak konten di medsos sampai media arus utama yang heboh banget soal demo di Indonesia akhir Agustus 2025. Katanya, aksi itu didalangi pihak asing kayak George Soros dan National Endowment for Democracy (NED).
Setelah dicek, ternyata sumbernya ngutip laporan propagandis Rusia, Angelo Giuliano, yang nongol di media Rusia Sputnik tanggal 31 Agustus 2025 dengan judul “Soros, NED Could Be Behind Indonesian Protests.”
Dalam laporannya, Giuliano nyebut ada “indikasi pengaruh eksternal” di kondisi Indonesia hari ini. Salah satu contohnya kocak banget: bendera One Piece yang berkibar jelang 17 Agustus disebut-sebut sebagai simbol campur tangan asing. Katanya sih mirip pola yang udah muncul di negara lain.
Lebih jauh, dia nuduh Soros ikut campur lewat Open Society Foundations yang udah ngucurin dana lebih dari 8 miliar dolar sejak 1990-an. NED juga dituding ikutan biayai media-media di Indonesia.
Padahal, tuduhan demo atau oposisi “digarap Barat” itu pola lama yang sering dipakai pemerintah Rusia. Mereka biasa pake istilah “colour revolution” buat stempel gerakan massa seolah-olah didukung asing. Bahkan sejak 2012, ada aturan “foreign agent” di Rusia yang dipake buat ngecap LSM, media, dan aktivis yang kritis sama Presiden Vladimir Putin. Nah, munculnya narasi yang sama di Indonesia, apalagi lewat Sputnik, nunjukin betapa polanya diulang-ulang. Mirip banget sama operasi info pas pandemi COVID-19 dulu.
Berdasarkan riset dari pakar dan lembaga kredibel, info kayak gini jelas bisa bikin ekosistem informasi di Indonesia makin keruh. Media massa harus super hati-hati, jangan asal muat konten dari sumber yang nggak bisa diverifikasi. Apalagi di tengah banjir misinformasi yang gampang banget viral.
Baca juga: Cek Fakta: Kepala Daerah Tak Bisa Sembarangan Take Down Media
Temuan Koalisi Cek Fakta
Sampai 3 September 2025, Koalisi Cek Fakta udah ngitung ada minimal 20 jenis mis/disinformasi sejak gelombang demo 25 Agustus lalu. Sebagian besar info palsu itu ngait-ngaitin protes dengan hoaks serem: larangan keluar malam, sniper di atap, gedung dibakar, uang di bank dibatasi, kantor polisi diserang, sampai isu penjarahan.
Selain itu, ada juga narasi propaganda yang jelas-jelas ditujukan buat ngejatuhin legitimasi aksi protes sejak akhir Agustus sampai awal September.
Whitney Phillips, Assistant Professor of Digital Platforms and Media Ethics di University of Oregon, kasih panduan buat ngehindarin jebakan disinformasi aksi massa. Intinya:
- Pertimbangkan dulu dampak info sebelum dishare.
- Nggak semua info harus ditanggapi, karena kadang makin dibahas makin rame.
- Lakukan seleksi info sesuai konteks.
- Utamakan etika, karena ada info yang kalau dibesar-besarin malah bisa bahaya atau langgar privasi.
- Kalau memang harus dishare, kasih konteks dan klarifikasi, plus potong detail yang rawan disalahgunakan.
Imbauan Koalisi Cek Fakta
Merespons kondisi ini, Koalisi Cek Fakta ngajak semua pihak buat:
- Selalu skeptis kalau nerima info. Kalau sumbernya nggak jelas, cuma klaim tanpa bukti, atau isinya nakut-nakutin, jangan disebar.
- Jurnalis harus pegang teguh verifikasi, jangan jadi corong propaganda/disinformasi, dan tetap patuh sama Kode Etik Jurnalistik.
Kalau kamu nerima pesan berantai yang mencurigakan, langsung cek di cekfakta.com. Masukin kata kuncinya di kolom pencarian. Kalau hasilnya udah ada, berarti info yang kamu terima itu hoaks.(**)
