Kurikulum Anti-Misogini: Cara UK Melawan ‘Manosphere’ dari Ruang Kelas

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Kalau kita perhatikan baik-baik di era digital saat ini, ruang kelas rasanya bukan lagi satu-satunya tempat anak-anak belajar. Internet, media sosial, dan algoritma platform daring kini menjelma menjadi “guru” pertama mereka, yang sayangnya tidak selalu mengajarkan hal-hal positif. 

Merespons krisis ini, mulai September 2026, sekolah-sekolah di seluruh Inggris mengambil langkah berani dengan membawa isu-isu dari dunia maya—seperti misogini, budaya incel (involuntary celibate), dan paparan konten manosphere—langsung ke dalam ruang kelas untuk dibedah secara tuntas. Melalui pembaruan kurikulum Relationships, Sex and Health Education  (RSHE), pemerintah Inggris memperlihatkan kepedulian yang sangat serius terhadap isu ketimpangan gender dan keamanan anak-anak. 

Langkah monumental ini membuktikan bahwa sistem pendidikan masa kini memang wajib beradaptasi dengan ancaman modern yang bersembunyi di balik ponsel cerdas remaja kita.

Baca juga: Bupati Purwakarta “Lalaki Langit, Lalanang Bejad”: Melestarikan Budaya atau Langgengkan Misogini?

Melawan Misogini Tanpa Memberikan Stigma

Pembaruan kurikulum RSHE, yang disusun untuk menggantikan dokumen kerangka kerja tahun 2019, lahir dari kekhawatiran mengenai betapa mudahnya anak-anak mengakses konten yang merendahkan perempuan. Data yang dirilis oleh Departemen Pendidikan Inggris membeberkan realitas yang cukup membuat merinding: sebanyak 54 persen siswa berusia 11 hingga 19 tahun mengaku pernah melihat komentar bernada misoginis di internet. Lebih jauh lagi, 37 persen menyatakan bahwa dalam satu minggu terakhir saja, mereka mendengar atau melihat komentar yang membuat mereka cemas terhadap keselamatan anak perempuan di sekitarnya. Angka ini mencerminkan fenomena manosphere yang semakin masif mempromosikan maskulinitas beracun dan menormalisasi kekerasan gender.

Yang patut disaluti, pemerintah Inggris merespons krisis ini dengan pendekatan yang sangat empatik dan edukatif. Alih-alih menyudutkan atau memberi stigma negatif kepada anak laki-laki hanya karena gender mereka, kurikulum ini dirancang untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis. Pendekatan tanpa stigma ini lahir dari pemahaman bahwa anak laki-laki di usia remaja sangat rentan mencari jati diri. Jika mereka langsung dilabeli sebagai pembuat masalah’, mereka justru akan semakin terdorong masuk ke dalam pelukan komunitas manosphere yang seolah-olah memberikan mereka validasi kejantanan.

Oleh karena itu, siswa diajak membedah norma dan asumsi keliru yang tertanam dalam konten online yang mereka konsumsi harian. Mereka tidak hanya dilarang menonton konten tertentu, tetapi diajarkan secara proaktif untuk mengenali role model  laki-laki yang positif dan inspiratif. Tujuannya sangat jelas, yakni menantang mitos-mitos merusak tentang perempuan dan dinamika hubungan romantis tanpa membuat siswa laki-laki merasa dihakimi. Ini adalah strategi cerdas untuk memutus rantai kebencian sekaligus menjadikan anak laki-laki sebagai bagian integral dari solusi kesetaraan.

Dinamika Hubungan dan Tanggung Jawab Melindungi

Kepedulian pemerintah terhadap isu ketimpangan gender dan keselamatan perempuan juga terlihat dari penguatan materi seputar dinamika hubungan. Kurikulum baru ini jauh lebih tajam, berani, dan relevan dengan memasukkan topik-topik krusial yang sebelumnya sering dihindari. Para siswa kini akan mempelajari secara detail tentang eksploitasi seksual finansial, pelecehan seksual di ruang publik, taktik penyebaran konten intim non-konsensual hingga penguntitan (stalking). Kurikulum ini secara eksplisit membekali para siswa dengan cara praktis meningkatkan keselamatan pribadi di ruang publik, dilengkapi dengan satu penegasan fundamental: pelecehan dan kekerasan seksual tidak akan pernah menjadi kesalahan pihak korban.

Tidak berhenti di situ, RSHE terbaru juga menyoroti ancaman-ancaman siber yang sangat lekat dengan keseharian Generasi Z dan Alpha. Pengenalan tentang deepfakes, masalah perjudian, bahaya tes keperawanan, hingga literasi pencegahan bunuh diri kini resmi masuk ke dalam silabus. Mengingat tingginya kerentanan anak-anak mengakses konten pornografi di usia yang kian belia, pemerintah juga memberikan fleksibilitas bagi jenjang sekolah dasar. 

Guru diizinkan untuk mulai membahas bahaya citra seksual di internet sejak akhir masa sekolah dasar jika isu tersebut mulai merembes ke lingkungan mereka. Pengakuan eksplisit bahwa siswa menghadapi tantangan digital yang kompleks menunjukkan pemerintah benar-benar hadir untuk melindungi mereka secara menyeluruh.

Baca juga: Misandri Bukan Lawan dari Misogini, dan Feminisme Bukan Balas Dendam

Inklusivitas, Transparansi, dan Peran Orang Tua

Langkah progresif lainnya dari kerangka RSHE 2026 ini terletak pada pendekatan mereka terhadap inklusivitas keragaman keluarga. Berbeda dengan usulan draf dari pemerintahan Konservatif sebelumnya yang secara kaku melarang diskusi tentang identitas gender, dokumen final ini mengambil jalan tengah yang bijaksana. Siswa tetap diajarkan fakta dan koridor hukum terkait pergantian gender (gender reassignment) serta realitas jenis kelamin biologis. 

Namun, nilai yang paling ditekankan adalah bahwa setiap individu berhak mendapatkan perlindungan mutlak dari tindakan diskriminasi dan wajib diperlakukan dengan penuh rasa hormat serta martabat kemanusiaan.

Dalam hal orientasi seksual, kurikulum ini sangat mendorong sekolah dasar untuk menormalisasi diskusi tentang keluarga yang beragam, termasuk dengan mengenalkan konsep orang tua sesama jenis dalam konteks hubungan yang sehat. Di tingkat sekolah menengah, materi kesehatan seksual dan infeksi menular seksual (IMS) wajib mencakup semua orientasi, memastikan kelompok minoritas mendapatkan informasi medis yang relevan.

Di sisi lain, pemerintah memperkuat hak-hak orang tua dengan mewajibkan pihak sekolah proaktif memamerkan sampel materi ajar. Bahkan, larangan berbasis hak cipta yang kerap menghalangi pembagian materi pihak ketiga kepada orang tua kini dinyatakan batal demi hukum untuk menjamin transparansi pendidikan di rumah.

Kalau ditarik benang merahnya, pembaruan RSHE di Inggris ini bukan hanya menghafal anatomi manusia di kelas biologi. Tetapi adalah proyek sosial berskala nasional untuk membangun fondasi karakter moral generasi masa depan. Pendidikannya berupaya keras memupuk nilai ketahanan, integritas, keberanian, dan rasa hormat yang mendalam. Karena pada akhirnya, membekali anak laki-laki untuk menghargai martabat perempuan sekaligus memberdayakan anak perempuan untuk mempertahankan batasan tubuh mereka adalah investasi paling berharga menuju peradaban yang setara. 

Kurikulum ini menjadi sinyal kuat ke seluruh dunia bahwa isu ketimpangan gender tidak bisa diselesaikan hanya saat anak sudah dewasa, melainkan harus dicegah sejak mereka pertama kali membangun interaksi sosial. Kesungguhan pemerintah Inggris ini layak menjadi cetak biru bagi sistem pendidikan global dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara utuh.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Gen Z, Generasi Stroberi atau Pahlawan Serba Bisa

Gen Z, Generasi Stroberi atau Pahlawan Serba Bisa?

Marak Perselingkuhan,Kenapa Perempuan yang Disalahkan

Marak Perselingkuhan, Kenapa Perempuan yang Disalahkan?

Stigma Bau Ketek pada Perempuan

Mengapa Bau Ketek Perempuan Masih Menjadi Tabu?

Leave a Comment