Misandri Bukan Lawan dari Misogini, dan Feminisme Bukan Balas Dendam

Ais Fahira

News, Feminisme

Misandri Bukan Lawan dari Misogini, dan Feminisme Bukan Balas Dendam

Bincangperempuan.com- “Feminis itu benci laki-laki, kan?”
“Feminis cuma mau menang sendiri.”
“Feminis pengin laki-laki tunduk sama mereka.”

Kalimat-kalimat seperti ini sering berseliweran, entah di media sosial, tongkrongan, atau bahkan ruang kelas. Banyak orang masih mengira bahwa menjadi feminis berarti membenci laki-laki, atau setidaknya tidak menyukai mereka. Ada juga yang percaya feminisme adalah semacam gerakan balas dendam—upaya membalik posisi laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial, supaya perempuan bisa berkuasa dan laki-laki dikerdilkan.

Salah satu istilah yang sering dipakai untuk memperkuat anggapan ini adalah misandri yang berarti kebencian terhadap laki-laki. Istilah ini kerap dilemparkan untuk mendiskreditkan feminis, seolah-olah semua orang yang memperjuangkan kesetaraan gender diam-diam menyimpan dendam terhadap laki-laki.

Tapi benarkah feminisme identik dengan misandri? Dan benarkah misandri adalah “versi seimbang” dari misogini?

Baca juga: Feminisme Eksistensialisme, Jalan Menuju Kebebasan Perempuan

Misogini vs. Misandri

Secara definisi, misogini adalah kebencian terhadap perempuan. Bentuknya sering kita temui misalnya kekerasan seksual, pembunuhan, diskriminasi upah, kontrol atas tubuh perempuan, hingga pelarangan terhadap pendidikan atau pekerjaan. Misogini bersifat sistemik. Ia dilembagakan oleh negara, dilegitimasi oleh budaya, dinormalisasi oleh masyarakat.

Sementara misandri, didefinisikan sebagai ketidaksukaan atau ketidakpercayaan terhadap laki-laki. Akan tetapi eksistensinya lebih sering terlihat dalam bentuk status media sosial, meme sarkastik, atau guyonan di grup feminis. Tidak ada undang-undang, aparat, atau sistem hukum yang menindas laki-laki hanya karena mereka laki-laki. Laki-laki mungkin tersinggung karena lelucon. Tapi perempuan bisa kehilangan nyawa karena sistem.

Misandri Muncul Setelah Luka Terlalu Lama Diabaikan

Kalau pun ada ungkapan kebencian terhadap laki-laki di kalangan perempuan, itu sering kali lahir dari pengalaman kolektif misalnya disakiti, diabaikan, dan dibungkam. Misandri bukan akar masalah, melainkan reaksi atas struktur yang tidak adil.

Misogini bekerja sebagai mekanisme sosial yang menjaga posisi dominan laki-laki dengan menghukum perempuan yang keluar dari “jalurnya.” Maka tidak heran kalau ekspresi kemarahan terhadap laki-laki yang sering disebut misandri—sebetulnya adalah bentuk perlawanan terhadap sistem itu sendiri.

Peneliti Tris Hedges dalam artikelnya Reclaiming Misandry from Misogynistic Rhetoric (2024) menyatakan bahwa istilah misandri sering disalahgunakan sebagai senjata retoris misoginis. Yang tujuannya adalah membungkam perempuan yang marah terhadap patriarki, dengan melabeli mereka sebagai “pembenci laki-laki.”
Alih-alih membuang istilah itu, Hedges justru mengusulkan redefinisi misandri.

Bahwa misandri seharusnya dipahami bukan sebagai kebencian terhadap laki-laki sebagai individu, melainkan sebagai ekspresi sah atas kemarahan terhadap sistem patriarki dan nilai-nilai maskulin yang opresif.

Dengan kata lain, misandri jika dimaknai ulang bukanlah cerminan kebencian irasional, tapi bentuk perlawanan emosional yang valid terhadap struktur dominasi gender yang memarjinalkan perempuan.

Feminisme Tidak Setara dengan Misandri

Feminisme bukan tentang “membalas” misogini dengan kebencian serupa. Bukan tentang menukar posisi korban dan pelaku. Feminisme adalah upaya membongkar sistem yang menguntungkan satu gender dan merugikan yang lain.

Feminisme adalah keyakinan akan kesetaraan sosial, ekonomi, dan politik tanpa memandang gender atau jenis kelamin. Meskipun sebagian besar berakar dari dunia Barat, feminisme kini hadir di seluruh dunia dan diwujudkan melalui berbagai institusi yang berkomitmen memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan.

Jika gerakan ini terjebak dalam pola balas dendam, maka akan kehilangan arah. Kita tidak sedang berperang dengan laki-laki, tapi dengan struktur yang membungkam siapa pun yang tak sesuai standar patriarki—baik perempuan, laki-laki, maupun mereka yang ada di antaranya.

Baca juga: Apa Itu Femvertising? Saat Feminisme Dijual dalam Iklan

Apa Kata Riset? Mitos Misandri Itu Tidak Berdasar

Selama ini banyak orang percaya bahwa feminis itu pasti benci laki-laki. Tapi, anggapan itu dibantah oleh riset. Dalam enam studi besar yang diterbitkan di jurnal Psychology of Women Quarterly (Hopkins-Doyle dkk., 2023), para peneliti menelusuri apakah feminis benar-benar punya sikap buruk terhadap laki-laki.

Hasilnya menunjukkan bahwa baik perempuan feminis maupun non-feminis sama-sama punya sikap yang positif terhadap laki-laki.
Artinya, mereka tidak membenci laki-laki, tidak merasa terganggu oleh keberadaan laki-laki, dan tidak punya pandangan buruk terhadap laki-laki sebagai kelompok. Mereka menunjukkan rasa respek, menghargai laki-laki sebagai sesama manusia, dan merasa nyaman hidup berdampingan.

Menariknya lagi, temuan ini juga konsisten di berbagai negara, termasuk negara non-Barat, dan juga terlihat pada peserta laki-laki. Bahkan, ketika para peneliti menganalisis data dari hampir 10.000 orang, hasilnya tetap sama, sikap perempuan feminis terhadap laki-laki tidak lebih negatif dibandingkan sikap laki-laki terhadap laki-laki lainnya.

Namun meskipun data bilang begitu, publik masih sering salah paham. Banyak orang tetap mengira bahwa feminis itu otomatis anti-laki-laki. Nah, kesalahan inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai “mitos misandri” yakni sebuah anggapan keliru tapi sudah telanjur dipercaya dan terus disebarkan.

Berhenti Mencari Musuh yang Tidak Ada

Feminisme bukan gerakan kebencian. Gerakan ini justru lahir dari cinta terhadap keadilan. Dari kebutuhan untuk melindungi hidup yang tak dilindungi oleh hukum, norma, atau negara.

Kalau kamu merasa feminis marah, mungkin itu karena mereka memang marah. Tapi marah terhadap sistem, bukan pada jenis kelamin. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kasus Sister Hong dan Masifnya Penyebaran Konten Intim Non Konsensual

Kasus Sister Hong dan Masifnya Penyebaran Konten Intim Non Konsensual

Lebih dari Sekedar Finansial, Alasan Gen Z Menunda Pernikahan

Ospek Calon Menantu Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya

Ospek Calon Menantu? Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya?

Leave a Comment