Bincangperempuan.com- Bagi sebagian perempuan, pemeriksaan ginekologi (kesehatan reproduksi perempuan) bukan hanya prosedur medis rutin. Tetapi juga menjadi pengalaman yang sering disertai rasa canggung, tegang, bahkan takut. Salah satunya adalah ketika spekulum—alat medis yang digunakan untuk membuka dinding vagina agar serviks dapat diperiksa—dimasukkan selama pemeriksaan. Meski prosedur ini penting untuk mendeteksi infeksi, memantau kesehatan reproduksi, hingga melakukan skrining kanker serviks, tidak sedikit perempuan yang mengaitkannya dengan rasa tidak nyaman atau nyeri.
Namun kenyataannya, tidak sedikit perempuan yang mengaitkan pemeriksaan ini dengan rasa tidak nyaman atau bahkan nyeri. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 35 persen perempuan mengalami rasa malu, takut, atau sakit yang berkaitan dengan pemeriksaan vagina. Bagi sebagian orang, pengalaman ini cukup membuat mereka menunda, bahkan menghindari pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.
Ketika pemeriksaan medis yang penting justru menimbulkan rasa takut, hambatan terhadap akses kesehatan reproduksi pun muncul.
Baca juga: Mengapa Celana Dalam Perempuan Cepat Rusak? Peran pH Vagina dan Cara Memilih yang Tepat
Design Spekulum yang Belum Ramah Anatomi Tubuh Perempuan
Salah satu faktor yang sering disorot adalah desain spekulum itu sendiri. Alat yang umum digunakan saat ini sebenarnya tidak banyak berubah sejak diperkenalkan pada abad ke-19. Bentuknya menyerupai alat mekanis dengan dua bilah logam atau plastik yang dibuka menggunakan tuas atau sekrup agar dinding vagina dapat terbuka dan serviks terlihat jelas.
Melansir dari The Open University, spekulum modern sering dikaitkan dengan dokter Amerika James Marion Sims, yang pada pertengahan abad ke-19 mengembangkan salah satu bentuk spekulum yang kemudian banyak digunakan dalam praktik ginekologi.
Namun konsep alat untuk membuka rongga tubuh sebenarnya jauh lebih tua. Beberapa bentuk alat serupa sudah digunakan sejak masa Kekaisaran Romawi, meskipun fungsi dan bentuknya tidak selalu sama dengan spekulum modern. Pada masa kuno, penggunaan alat untuk melihat bagian dalam tubuh masih menjadi perdebatan. Dokter pada masa itu sering mengandalkan pengamatan langsung dengan pancaindra, sehingga penggunaan instrumen tambahan dianggap tidak selalu diperlukan.
Selain itu, penggunaan alat untuk memeriksa organ reproduksi perempuan juga sempat menimbulkan kontroversi etika. Dalam sejarah kedokteran Eropa, spekulum bahkan pernah dipandang sebagai alat yang kontroversial. Pada abad ke-19, sebagian kalangan medis di Inggris menganggap penggunaan spekulum dapat merusak norma kesopanan perempuan. Seorang fisiolog Inggris pada tahun 1850 pernah menyatakan bahwa penggunaan alat tersebut berisiko mengikis kesopanan perempuan muda.
Di sisi lain, beberapa dokter pada masa kuno sebenarnya telah mencoba membuat penggunaan alat medis menjadi lebih nyaman. Misalnya dengan memanaskan spekulum sebelum digunakan atau mengoleskan minyak agar proses pemasukan alat tidak terlalu menyakitkan.
Namun dalam praktik modern, desain dasar spekulum tetap relatif sama yaitu alat logam atau plastik dengan dua bilah yang dibuka secara mekanis. Suara logam saat alat dibuka, sensasi dingin material, serta bentuknya yang menyerupai alat bedah sudah sejak lama menjadi keluhan bagi sebagian pasien.
Lantas mengapa alat yang digunakan perempuan selama lebih dari satu abad nyaris tidak mengalami perubahan berarti?
Lilium: Upaya Mendesain Ulang Spekulum
Pertanyaan inilah yang mendorong Ariadna Izcara Gual, seorang desainer industri dari Delft University of Technology, untuk meneliti kembali pengalaman perempuan saat menjalani pemeriksaan ginekologi.
Dalam proyek kelulusannya di Fakultas Industrial Design Engineering, Ariadna mewawancarai sejumlah perempuan yang pernah menjalani pemeriksaan menggunakan spekulum. Banyak dari mereka menyebut rasa sakit saat alat dimasukkan maupun dikeluarkan.
Namun keluhan mereka tidak hanya soal rasa fisik. Bentuk alat, sensasi dingin material, serta kesan mekanis yang sekilas tampak menyeramkan juga memengaruhi emosi pasien selama prosedur berlangsung.
Bersama peneliti Tamara Hoveling, Ariadna kemudian mencoba merancang ulang spekulum dengan pendekatan yang lebih berpusat pada pengalaman pasien. Hasilnya adalah Lilium—desain spekulum baru yang berupaya meningkatkan kenyamanan pasien tanpa mengurangi fungsi medisnya.
Lilium dibuat dari material karet medis semi-fleksibel (medical-grade TPV). Material ini cukup kuat untuk menahan tekanan dinding vagina, tetapi tetap lentur sehingga terasa lebih lembut saat digunakan dibandingkan logam atau plastik keras.
Desain Lilium terdiri dari dua komponen utama. Bagian pertama memiliki tiga “kelopak” yang terbuka perlahan saat alat digunakan. Bentuk ini sengaja dibuat menyerupai bunga. Selain berfungsi secara mekanis, pendekatan visual ini juga bertujuan menciptakan kesan yang lebih ramah dan tidak menakutkan bagi pasien.
Komponen kedua berupa tabung yang digunakan untuk mendorong kelopak tersebut agar terbuka secara perlahan. Mekanisme ini dirancang agar proses pembukaan terasa lebih halus dibandingkan sistem tuas pada spekulum tradisional yang sering menimbulkan bunyi logam.
Lilium juga menawarkan pendekatan baru dalam proses pemasangan alat. Pasien dapat memilih dua opsi: pertama alat dimasukkan oleh tenaga kesehatan seperti prosedur biasa, atau self-insertion, yaitu pasien memasukkan alat sendiri dengan mekanisme yang mirip dengan penggunaan aplikator tampon. Opsi ini bertujuan memberikan rasa kontrol yang lebih besar kepada pasien.
Desain lilium dibuat dengan mempertimbangkan pengalaman pasien. Agar meningkatkan kenyamanan pada bagian tubuh yang sensitif, sehingga prosedur pemeriksaan tidak lagi terasa terlalu menegangkan.
Selain itu, desain Lilium juga mempertimbangkan kebutuhan tenaga medis. Dalam pengujian menggunakan model pelvik oleh beberapa perawat dan dokter, bentuk tiga kelopak pada Lilium dinilai dapat menjaga dinding vagina tetap terbuka sehingga serviks lebih mudah terlihat selama pemeriksaan.
Hal ini dinilai membantu dalam kondisi tertentu, misalnya pada pasien dengan dinding vagina yang menekan ke dalam sehingga pandangan dokter terbatas saat menggunakan spekulum konvensional.
Lilium juga dirancang dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. Banyak spekulum plastik sekali pakai memiliki beberapa komponen kecil yang sulit dibersihkan untuk digunakan kembali. Lilium hanya terdiri dari dua bagian utama sehingga lebih mudah disterilkan. Alat ini dapat dibersihkan menggunakan metode disinfeksi tingkat tinggi atau pun autoklaf, sehingga dapat digunakan kembali secara aman dan mengurangi limbah medis.
Sejauh ini, Lilium masih berada pada tahap pengembangan awal. Prototipe alat ini masih memerlukan pengujian ergonomi lanjutan, penelitian material tambahan, serta uji klinis pada manusia sebelum dapat digunakan secara luas di fasilitas kesehatan. Selain itu, alat ini juga harus melalui proses sertifikasi keselamatan dan persetujuan regulasi medis.
Baca juga: Mitos Soal Vagina yang Masih Banyak Dipercaya
Pentingnya Keterlibatan Perempuan
Meski demikian, kehadiran desain seperti Lilium menunjukkan bahwa inovasi dalam alat kesehatan tidak hanya berkaitan dengan fungsi medis semata, tetapi juga pengalaman tubuh dan emosi pasien.
Upaya mendesain ulang spekulum ini juga mengingatkan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia sains, teknologi, dan desain medis sangat penting. Ketika perempuan ikut merancang alat yang digunakan untuk tubuh mereka sendiri, perspektif yang muncul pun bisa berbeda—lebih peka terhadap pengalaman, kenyamanan, dan kebutuhan pasien.
Jika pemeriksaan ginekologi dapat dilakukan dengan cara yang lebih nyaman dan tidak menakutkan, harapannya semakin banyak perempuan yang bersedia melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Langkah sederhana ini dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan perempuan dalam jangka panjang.
Referensi:
- Delft University of Technology. (n.d.). New vaginal speculum design might motivate women to go for health checkups. https://www.tudelft.nl/en/ide/delft-design-stories/new-vaginal-speculum-design-might-motivate-women-to-go-for-health-checkups
- France 24. (2025, July 14). Researchers redesign vaginal speculum to ease fear and pain. https://www.france24.com/en/live-news/20250714-researchers-redesign-vaginal-speculum-to-ease-fear-and-pain
- The Open University. (n.d.). Speculum finally gets redesigned by women. https://research.open.ac.uk/news/speculum-finally-gets-redesigned-women
