Mengapa Kemampuan Detachment di Tengah Krisis Adalah Sebuah Privilese

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, seorang aktris panen kritik usai mengunggah video tentang mindfulness pada Agustus 2026. Dialah Maudy Ayunda, yang membagikan cara tetap mindful di tengah maraknya bad news.

Bukannya mendapat pujian, videonya justru menuai kecaman. Maudy dinilai menyederhanakan krisis sebagai sebatas “berita buruk”, di saat masyarakat tersengal akibat kabut asap, terpukul pemangkasan anggaran, hingga tercekik krisis ekonomi. Bagi kelas yang terlindung di ruangan aman, krisis mungkin hanya kebisingan media yang bisa dijauhi padahal bagi publik, ini realitas fisik yang tak bisa dihindari.

Baca juga: Bagaimana Climate Change Memperburuk Transisi Menopause Perempuan 

Tidak Ada yang Salah dengan Mindfulness 

Konsep mindfulness pada dasarnya bukanlah hal yang keliru atau merugikan. Mengutip penjelasan dari Mayo Clinic, mindfulness didefinisikan sebagai keadaan di mana seseorang hadir secara penuh dan sadar akan momen saat ini (present moment). Ini adalah bentuk latihan mental tempat seseorang berfokus pada pikiran, perasaan, kondisi tubuh, dan lingkungan sekitar tanpa memberikan penilaian atau penghakiman.

Berbagai penelitian medis membuktikan bahwa praktik mindfulness mampu mendukung kesejahteraan fisik maupun kesehatan mental. Latihan ini pada umumnya bisa diakses oleh siapa saja dalam aktivitas harian sederhana, mulai dari momen saat menikmati makanan, menyikat gigi, hingga meditasi pernapasan yang terstruktur.

Dalam video yang diunggah di saluran YouTube miliknya, Maudy Ayunda sebenarnya mencoba menyampaikan niat yang baik. Ia menganjurkan audiens untuk lebih bijak dalam memilah informasi, memilih sumber berita yang terpercaya, serta menghindari paparan potongan berita pendek yang berpotensi memicu kecemasan berlebih. Secara teori, saran untuk menjaga kejernihan pikiran di tengah arus informasi gila-gilaan memang terdengar sangat masuk akal. 

Namun, masalah mendasar muncul ketika penyederhanaan atas krisis struktural dilakukan di tengah situasi nasional yang serba menekan. Menyebut serangkaian bencana ekologis, krisis ekonomi, dan tekanan hidup saat ini sebatas “berita buruk” yang perlu disaring justru melahirkan sikap yang nirempati terhadap realitas publik.

Dapur Fancy, Clean Eating, dan Menara Gading Privilese

Maudy mungkin tidak memiliki niat jahat saat mengajak masyarakat untuk bersikap mindful. Kesalahan utamanya terletak pada ketidakmampuan untuk turun dari menara gading privilese yang menyelimuti kehidupan sehari-harinya. Dalam konten tersebut, ajakan untuk tenang dan berjarak dari narasi negatif disampaikan dari balik ruang hidup yang sangat aman: ruangan bersih ber-AC yang dilengkapi penyaring udara (air purifier), dapur modern bernuansa estetik, serta ketersediaan bahan makanan utuh untuk gaya hidup clean eating.

Pemandangan ini menyajikan kontras yang sangat tajam dengan realitas mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Bagi warga kelas pekerja di tingkat akar rumput, upaya bertahan hidup tidak diisi dengan meracik menu makanan sehat di dapur fancy, melainkan membeli makanan seadanya atau cilok di pinggir jalan sembari menghirup polusi udara yang pekat. 

Fenomena ini memperlihatkan adanya jurang ketimpangan sosial yang sangat lebar. Figur publik dari kelompok atas seperti Maudy sering kali bukan sengaja menjadi sosok yang jahat atau tidak berempati secara personal, melainkan karena ruang hidup dan pergaulan sehari-hari mereka memang sangat terisolasi dari kenyataan warga bawah. Karena jarang bersentuhan langsung dengan pergulatan hidup masyarakat akar rumput, mereka cenderung menganggap setiap tekanan hidup bisa diselesaikan cukup dengan kontrol pikiran dan regulasi emosi individu semata.

Baca juga: : Perempuan Petani Menantang Perubahan Iklim: Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim 

Ketika ‘Bad News’ Adalah Realitas Fisik, Bukan Sekadar Konten

Ketidaktepatan paling fatal dari pesan Maudy terletak pada ketidakmampuan membaca situasi (timing) dan ketidakpahaman atas definisi bad news itu sendiri. Bagi kelas atas yang terlindungi rapat di dalam ruangan steril ber-AC, berita buruk hanyalah deretan teks atau potongan video di layar ponsel yang bisa dimatikan (mute) atau dijauhi kapan saja ketika kondisi mental terasa lelah. 

Namun, bagi sebagian besar warga Indonesia, apa yang dikategori Maudy sebagai bad news adalah pengalaman fisik langsung yang menghantam paru-paru dan kondisi finansial mereka setiap hari.

Di saat masyarakat di berbagai wilayah tersengal-sengal akibat ancaman kabut asap yang mencekik, berhadapan dengan dampak pemangkasan anggaran fasilitas publik, serta tercekik oleh sulitnya perekonomian, situasi tersebut bukanlah kebisingan media yang opsional. Itu adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi setiap detik tanpa ada tombol pause atau opsi untuk kabur. Mengajak publik yang sedang berjuang untuk bernapas agar “berjarak dari berita buruk” merupakan tindakan yang keliru. Narasi semacam ini memiliki kecenderungan mengubah masalah kegagalan sistemik yang seharusnya dituntut penyelesaiannya secara politik menjadi beban kesadaran mental yang wajib ditanggung oleh masing-masing individu.

Ruang Aman yang Memisahkan Empati

Mindfulness yang dipraktikkan tanpa kesadaran kelas pada akhirnya hanya menjadi barang mewah yang mengisolasi diri dari realitas sosial. Menjaga kesehatan jiwa di tengah situasi darurat tentu tidak dilarang, tetapi mempromosikan metode pelarian pribadi sebagai solusi umum di tengah krisis kolektif adalah hal yang sangat problematis.

Maudy Ayunda dan jajaran figur publik berprivilese tinggi perlu menyadari bahwa posisi sosial tempat mereka berdiri sangat menentukan cara mereka memandang dunia. Sebelum membagikan wejangan hidup yang terkesan bijak, mereka harus lebih dahulu keluar dari benteng kenyamanannya dan berinteraksi secara jujur dengan realitas akar rumput. Selama latihan mindfulness hanya bisa dilakukan secara ideal di dalam ruangan dingin ber-AC sembari menikmati makanan sehat, ajakan untuk mematikan berita buruk hanyalah bisikan asing yang tidak peka bagi mereka yang sedang berjuang untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kenali Attachment Style, Pahami Pola Cintamu

Kenali Attachment Style, Pahami Pola Cintamu

Yayasan PUPA: Membangun Masa Depan Perempuan dan Anak yang Berkeadilan

Setelah Toga, Jalan Kami Tak Sepanjang Itu

Setelah Toga, Jalan Kami Tak Sepanjang Itu

Leave a Comment