Perempuan Petani Menantang Perubahan Iklim: Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim 

Betty Herlina

News, Lingkungan

Perempuan Petani Menantang Perubahan Iklim Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

Bincangperempuan.com–  Siapa bilang perempuan tidak mungkin menjadi agen perubahan? Pernyataan menantang stereotip itu dijawab oleh sekelompok perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar dan Pungguk Meranti, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Mereka menantang perubahan iklim, dengan mendeklarasikan  “Desa Kopi Tangguh Iklim”. Sebuah semangat melestarikan kearifan lokal dan menerapkan metode pengelolaan kebun kopi yang ramah lingkungan.  

Salah satu praktik yang mereka terapkan adalah pemanfaatan ranting, daun, dan rumput sebagai mulsa organik. Alih-alih membakar sisa tanaman, mereka menggunakannya untuk menjaga kesuburan tanah dan mencegah erosi.

 “Sampah” organik kebun tersebut dikumpulkan. Meliputi daun-daun kopi yang sudah kering ataupun daun-daun basah, ranting yang masih basah sisa-sisa pruning  (pemangkasan, red). Semuanya disatukan, ditata dengan rapi.  Melalui cara ini,  para perempuan petani kopi ini tidak hanya menjaga keberlanjutan kebun kopi, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi pelepasan karbon ke atmosfer.  

“Sudah beberapa tahun terakhir, perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar, tidak lagi membakar ranting dan dedaunan kopi yang ada. Semua sampah dikumpulkan, dan dijadikan mulsa organik,”  ungkap Okta Leonita, salah seorang perempuan petani kopi Desa Batu Ampar.  

Menurut pengetahuan yang ia dapatkan dalam diskusi bersama perempuan-perempuan petani kopi lainnya,  penggunaan mulsa organik dapat membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi penguapan air, sehingga tanaman kopi yang ada tetap mendapatkan air yang cukup. 

Mulsa juga dapat mengendalikan pertumbuhan gulma. Susunan mulsa yang berlapis-lapis bisa menghambat pertumbuhan gulma yang menjadi saingan tanaman kopi untuk mendapatkan nutrisi dan air. 

Termasuk mencegah erosi tanah, karena bagian permukaan tanah terlindungi oleh Mulsa. Sehingga ketika musim hujan datang, dapat engurangi risiko erosi yang bisa merusak akar tanaman kopi. 

“Saat musim hujan, humus tanahnya tidak terbawa air jadi bisa menghindari erosi,” lanjut Okta. 

Tak hanya itu, mulsa membuat suhu tanah menjadi tetap stabil, karena perubahan suhu esktrem dapat mengganggu pertumbuhan tanaman kopi. Praktik ini berkontribusi dalam mengurangi pelepasan nitrogen yang memiliki andil terhadap kerusakan lapisan ozon.  

Baca juga: Perempuan Sungai Lemau Berjuang Melawan Krisis Iklim

Produktivitas kopi meningkat berkat pupuk organik 

Tak hanya mulsa, praktik pertanian ramah lingkungan lainnya yang diterapkan yakni penggunaan pupuk organik.  Memanfaatkan berkas mulsa organik atau sampah organik dengan mengumpulkan ke dalam lubang angin di kebun kopi dan menyiramnya dengan air yang dicampur dengan Effective Microorganisme (EM)4 atau Mikroogranisme local (MOL). 

Mardalena, perempuan petani kopi asal Desa Pungguk Meranti mengatakan hasil panen kopi di kebunnya meningkat sejak ia menggunakan pupuk organik. Tadinya untuk satu hektar lahan kopi ia hanya mendapatkan 300 kg bijih kopi per tahun. Namun belakangan naik menjadi 400 kg hingga 500 kg. 

“Jadi  lebih menghemat pengeluaran, uang yang digunakan untuk membeli pupuk bisa dialokasikan ke yang lain. Pupuk organik juga mudah didapatkan karena ada di alam dan kita kembalikan lagi ke alam. Hasilnya, panen jadi meningkat,” papar Mardalena. 

Serupa disampaikan Erni Susanti. Ia mengatakan penggunaan pupuk organik menjadi solusi utama mereka dalam meningkatkan produktivitas kopi sekaligus menjaga kualitas tanah. Dibandingkan dengan pupuk kimia, pupuk organik lebih ramah lingkungan dan ekonomis. 

Berkat penggunaan pupuk organik dan praktik pertanian berkelanjutan, hasil panen kopi mereka meningkat secara signifikan. 

Baca juga: Menghalau Perubahan Iklim di Pesisir Bengkulu 

Diversifikasi Tanaman: Meningkatkan Ekonomi dan Keberlanjutan  

Upaya lain yang dilakukan koalisi perempuan petani kopi yang tergabung dalam “Koppi Sakti” ini yakni menerapkan sistem polikultur.  Yakni bertanam tanaman rempah dan sayuran di antara pohon kopi. Di luasan lahan mencapai 50,77 hektar, perempuan-perempuan ini mulai menanam tanaman seperti cabai rawit, lengkuas, jahe, kunyit, serai, hingga pisang dan pepaya.  

Tak hanya itu, mereka juga menanam berbagai jenis pohon multiguna seperti durian, nangka, alpukat, jengkol, petai, dan kabau. Setiap hektar kebun kopi mereka ditanami sekitar 50 batang pohon, termasuk bibit unggul bersertifikat.  

“Selain bisa melindungi kopi dari panas matahari langsung, dan menghasilkan buah, tanaman yang kami tanam itu karena sepengetahuan kami batang kami yang kami pilih itu bisa menyerap karbon dan nitrogen,” papar Siti Hermi, petani kopi asal Desa Batu Ampar. 

Keberadaan tanaman tersebut lanjutnya, juga  memiliki banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kesuburan tanah hingga menjaga keseimbangan ekosistem kebun kopi. 

“Juga bisa jadi sumber pendapatan tambahan bagi kami. Hasil panennya bisa dijual atau digunakan sendiri di rumah, kami juga bisa mengurangi ketergantungan dengan pasar, karena sayur-sayuran yang ada di kebun bisa dikonsumsi sendiri,” lanjutnya.  

Serupa dengan perempuan petani di Desa Pungguk Meranti yang juga menerapkan sistem pertanian polikultur.  Penanaman pohon ini memberikan manfaat besar bagi kebun kopi. Selain menyerap karbon dan nitrogen, pohon-pohon ini juga menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk, melindungi tanaman kopi dari sinar matahari yang terik, hujan deras, dan angin kencang.

“Adanya pohon pelindung, kualitas dan hasil panen kopi menjadi lebih baik,” kata Rita Susanti, petani setempat. 

Rita menambahkan, selain menjaga ekosistem, pohon-pohon ini juga memberikan keuntungan ekonomi bagi petani. Buah yang dihasilkan dapat dikonsumsi sendiri atau dijual untuk menambah penghasilan.  “Bahkan, daun dan rantingnya bisa dimanfaatkan sebagai mulsa organik untuk meningkatkan kesuburan tanah,” lanjutnya. 

Lubang angin: inovasi menghadapi musim kemarau

Inovasi berbasis kearifan lokal lainnya  yang diterapkan perempuan petani dari dua desa ini adalah membuat lubang angin atau mini rorak. Di lahan seluas 68,22 hektar, mereka membuat setidaknya 150 lubang angin per hektar dengan ukuran minimal 30x30x30 cm.  Lubang ini berfungsi untuk menampung air hujan, memungkinkan tanah menyerap air lebih baik, sehingga mengurangi risiko kekeringan di musim kemarau. 

“Sebelum adanya lubang angin, tanaman kopi cenderung tumbuh kerdil dan hasil panennya kurang maksimal. Namun, setelah penerapan metode ini, kualitas dan produktivitas tanaman kopi meningkat secara signifikan,” kata Desmi Juita Haryani. 

Desmi menambahkan, pembuatan lubang angin ini juga menjadi momen kebersamaan bagi para petani dan keluarga mereka. 

“Tradisi ini tidak hanya memperkuat solidaritas komunitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan praktik pertanian yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkasnya. 

Di tengah tantangan perubahan iklim, perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar dan Pungguk Meranti terus berinovasi dan beradaptasi. Mereka tidak hanya berjuang untuk kebun kopi mereka, tetapi juga untuk masa depan lingkungan dan generasi mendatang.  

Melalui kerja sama, inovasi, dan kecintaan terhadap alam, mereka membuktikan bahwa pertanian berkelanjutan bukan hanya mungkin, tetapi juga menguntungkan.  Menerapkan praktik ramah lingkungan dan kembali ke kearifan lokal, mereka menciptakan kebun kopi yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan. 

Tulisan ini merupakan bagian dari Mother Earth Project yang diproduksi dengan dukungan dari Meedan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Meedan Project

Teras

Artikel Lainnya

Mengapa Perempuan Sering Pergi ke Toilet Beramai-ramai

Mengapa Perempuan Sering Pergi ke Toilet Beramai-ramai?

Menyisakan 64 Bulan Menuju 2030 Desak Pemerintah Tegakkan Komitmen SDG-3 dan SDG-5

Menyisakan 64 Bulan Menuju 2030: Desak Pemerintah Tegakkan Komitmen SDG-3 dan SDG-5

Simbol Agama dan Politik Tobat Palsu

Simbol Agama dan Politik Tobat Palsu

Leave a Comment