Mengenal Kutang Suroso: Warisan Lokal yang Tetap Nyaman Dipakai

Ais Fahira

News, Fashion

Mengenal Kutang Suroso Warisan Lokal yang Tetap Nyaman Dipakai

Bincangperempuan.com- Bra atau dalam bahasa sehari-hari disebut kutang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan perempuan modern. Fungsinya menopang dada, memberi kenyamanan, hingga menyesuaikan bentuk tubuh dengan pakaian luar. Namun jauh dari gemerlap brand global dan desain mewah, ada satu jenis bra khas Jawa Tengah yang bertahan lintas generasi, yaitu kutang Suroso.

Tak seperti bra biasa yang dipasarkan dengan embel-embel push-up, busa ekstra, atau teknologi pengatur suhu, kutang Suroso tampil dengan desain sederhana, modis dan tetap fungsional.

Jejak Sejarah: Dari Buste-Houder ke Kutang Lokal

Sebelum abad ke-20, tradisi mengenakan bra belum lazim bagi perempuan di Nusantara. Budaya berpakaian kala itu belum menganggap penting penyangga payudara dalam bentuk seperti sekarang. Barulah sekitar 1920-an, perempuan-perempuan Eropa membawa serta busana dalam yang disebut buste-houder, yang kemudian dilafalkan dan disederhanakan menjadi “BH”. Seiring interaksi dengan penjajah dan modernisasi mode, perempuan pribumi mulai mengenal dan mengadopsi gaya berpakaian tersebut.

Perkembangan ini berlanjut sepanjang masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Kutang menjadi simbol perubahan budaya dan identitas perempuan bumiputra yang ingin tampil lebih modern namun tetap nyaman dan praktis.

Baca juga: Fakta Soal Bra yang Harus Kamu Tahu

Lahirnya Kutang Suroso

Setelah Indonesia merdeka, sekitar tahun 1960-an, muncul satu inovasi lokal yakni kutang Suroso. Dinamai dari seorang produsen bernama Bapak Suroso, ia dikenal sebagai tokoh yang berhasil mempopulerkan kutang jenis ini di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Menurut Sulistiyoningrum sebagaimana dikutip oleh National Geographic Indonesia, kutang Suroso merupakan bentuk pengembangan awal dari kutang yang benar-benar khas Indonesia. Ia menyebut bahwa bentuk kutang sendiri sudah dikenal bahkan sebelum masyarakat mengenal tenun sebagai kain lembaran. Artinya, bentuk ini berakar dari sejarah busana tradisional yang sangat tua.

Kutang Suroso kemudian berkembang pesat bersamaan dengan tumbuhnya industri rumahan di Jawa, terutama di kawasan Juwiring, Klaten, yang menjadi sentra produksi hingga kini. Persebarannya semakin meluas seiring revolusi budaya dan kebutuhan akan pakaian dalam yang terjangkau serta nyaman.

Bentuk dan Fungsionalitas: Simpel, Tapi Visioner

Jika bra modern menonjolkan teknologi dan estetika, maka kutang Suroso justru mengutamakan fungsi dan kemudahan. Ciri khas utamanya adalah bentuknya yang menyerupai tabung atau silinder, menutupi bagian dada dari bawah ketiak hingga dada bagian atas. Biasanya terbuat dari bahan katun lembut yang menyerap keringat dan tidak menimbulkan iritasi kulit.

Namun yang paling unik adalah letak kancingnya di bagian depan. Ini merupakan solusi untuk mempermudah pemakaian, khususnya bagi pengguna lansia. Tak jarang perempuan yang telah lanjut usia kesulitan mengenakan bra biasa karena kancingnya di bagian belakang. Dengan kancing depan, mereka tidak perlu memutar tubuh atau meminta bantuan orang lain.

Desain ini menjadi bukti bahwa kutang Suroso bukan hanya sekadar pakaian dalam, tapi juga bentuk perhatian terhadap kebutuhan nyata perempuan.

Baca juga: Memahami Ukuran Bra: Perbedaan Cup A, B, C

Eksistensi Kutang Suroso

Namun, kutang Suroso bukan hanya soal bentuk dan fungsi. Ia juga punya daya tarik emosional dan simbolik yang mendalam. Fitri Astuti, seorang perempuan yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap sejarah dan budaya, yang berkaitan dengan perempuan. Dalam perbincangan dengan National Geographic Indonesia, ia membagikan pengalamannya menggunakan kutang Suroso.

Menurut Fitri, ketertarikan pada benda-benda lama seperti kutang Suroso memiliki nilai sejarah, aspek sosial, hingga perasaan berada di antara masa lalu dan masa kini, semacam ruang ambang waktu yang bisa dirasakan lewat benda. Baginya kutang Suroso adalah medium untuk merasakan kembali bagaimana menjadi perempuan di masa lampau, bukan sekadar secara visual, tetapi juga lewat sensasi yang ditimbulkan saat dikenakan di tubuh.

Desainnya yang khas dengan belahan dada rendah dan potongan memanjang yang menutup sebagian perut memberikan keseimbangan antara kesan terbuka dan tertutup. Menurutnya, hal ini mencerminkan bagaimana payudara tidak hanya memiliki fungsi biologis, tetapi juga menyimpan makna sensualitas, baik sebagai daya tarik seksual maupun titik sensitif perempuan itu sendiri. 

Kutang Suroso, dalam pengalamannya, mampu memberi rasa tertutup namun tetap menampilkan sisi sensual tersebut. Meski secara fungsional mungkin tidak menopang dengan kuat seperti bra modern, kutang ini tetap memberikan pengalaman unik sebagai bagian dari upaya memahami kehidupan perempuan masa lalu.

Warisan Lokal di Tengah Serbuan Produk Global

Hari ini, kita dibanjiri berbagai pilihan bra impor, dari merek fast fashion hingga brand lingerie internasional. Namun kutang Suroso tetap punya tempatnya sendiri. Terutama di kalangan perempuan lansia yang mengutamakan kenyamanan dan kesederhanaan. Dalam budaya Jawa, kutang ini tak hanya dianggap sebagai alat pelindung tubuh, tapi juga bagian dari busana harian yang bermakna.

Sayangnya, generasi muda mungkin tak banyak mengenal nama ini. Istilah “kutang Suroso” perlahan tenggelam di balik nama-nama besar dengan iklan mengkilap. Padahal dari segi keberlanjutan, kutang lokal seperti ini jauh lebih ramah lingkungan karena diproduksi rumahan, tanpa banyak limbah sintetis, dan tahan lama hingga bertahun-tahun.

Inspirasi untuk Desain Masa Kini

Kutang Suroso menawarkan pelajaran penting, bahwa desain yang baik bukan soal kemewahan, tapi soal memahami kebutuhan pengguna. Ketika banyak produsen mengejar “estetika Instagramable,” kutang ini menunjukkan bahwa keberpihakan pada kenyamanan adalah hal revolusioner tersendiri.

Bagi desainer busana atau wirausaha fesyen lokal, kutang Suroso bisa jadi inspirasi untuk menciptakan produk yang berakar pada budaya, tapi tetap bisa menjawab tantangan zaman.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi visual, barangkali yang kita butuhkan adalah produk seperti kutang Suroso yang sederhana, dan tetap memenuhi fungsi dasarnya dengan baik.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Tren Fast Beauty Beserta Dampaknya

Retropeksi Citradaya Nita

Retrospeksi Citradaya Nita: Perempuan & Kepemimpinan

Reuters Hanya 24% Perempuan Menempati Posisi Senior Editor

Reuters: Hanya 24% Perempuan Menempati Posisi Senior Editor

Leave a Comment