Bincangperempuan.com- Membatik hanya untuk orang tua! Siapa bilang? Tentunya enggak dong ya. Sabtu (26/07/2025), 18 anak perempuan muda Bengkulu, berkumpul untuk membatik. Aktivitas yang diinisiasi Bincang Perempuan ini mengubah suasana Warkop Madju Djaya yang beralamat di Pasa Melintang mendadak menjadi ruang kreatif.
Satu persatu peserta diberikan kesempatan untuk memegang canting sendiri dan mulai membatik. Tentunya dengan mentoring langsung dari Nurhayati, owner batik tulis PEUY yang beralamat di Citra Graha Indah, Tebat Monok, Kepahiang.
“Belum pernah membatik. Awalnya mikirnya ribet, ternyata seru sekali. Jadi belajar bahkan ada sesi saling bercerita,” ungkap Vony, yang masih berstatus mahasiswa di salah satu kampus di Bengkulu.
Baca juga: Batasi GGL, Kampanye Digital Bincang Perempuan dan Nutrifood
“Ingin bertemu dengan orang baru, bersosialisasi, karena selama ini hanya menghabiskan waktu untuk ke kantor dan aktivitas domestik lainnya,” kata Wulan, salah seorang ibu pekerja.
“Aku puluhan tahun di Jogya gak pernah membatik, jadi senang bisa belajar membatik disini, saat pindah ke Bengkulu,” terang Ratih yang ikut serta mengajak dua orang buah hatinya.
Refleksi ulang tentang sisterhood
Tak hanya membatik, disela-sela acara para peserta diajak untuk sharring pengalaman dan membicara ulang apa makna dari sisterhood. Betty Herlina, founder sekaligus Pemimpin Redaksi Bincang Perempuan, mengatakan sisterhood bukan hanya sekadar bersahabat namun juga saling menjaga satu sama lain antar perempuan.
“Sederhananya sisterhood adalah rasa saling dukung antarperempuan, untuk bertahan dan tumbuh bersama. Sisterhood tidak kompetitif buta. Nggak merasa perlu jadi satu-satunya yang sukses atau pintar. Gak saling menghakimi. Tahu tiap perempuan punya jalan hidup dan pilihan yang beda. Jadi bisa saling ngasih ruang aman. Bisa curhat, nangis, gagal, dan tetap diterima. Mendorong untuk maju, bukan tarik turun. Kalau satu perempuan naik, yang lain dorong dari bawah,” papar Betty.
Retno Wahyuningtyas, Fact Checker Bincang Perempuan, ikut menyampaikan bahwa sisterhood menjadi hal yang sangat penting, karena perempuan sama-sama hidup dalam sistem yang patriarkal. Dimana, perempuan pernah disalahkan, diremehkan, dianggap kurang cukup.
Baca juga: Glow Together, Grow Together di Bincang Perempuan Circle
Sisterhood, kata Retno, membuat perempuan jadi memiliki sekutu, bukan saingan. Perempuan sering kali diajari saling sikut. Bahkan dari kecil perempuan diajari untuk bersaing soal cantik-cantikan untuk mendapatkan perhatian cowok, atau prestasi.
“Sisterhood menolak logika itu. Tanpa sisterhood, banyak perempuan jadi lebih kesepian dan rentan. Sisterhood bisa jadi tempat pulang waktu dunia terlalu keras. Dan yang paling penting kalau kita tidak setuju, jangan ngupek (gosip, red) di belakang, tapi lebih baik sampaikan langsung,” pungkas Retno.
