#RebuildingtheCommons: Dari Dapur, Hutan, hingga Lumbung, Cara Perempuan Merawat dan Bertahan di Tengah Krisis

Betty Herlina

News, Lingkungan

Bincangperempuan.com- Upaya membangun kembali commons, ruang hidup bersama yang adil dan berkelanjutan, kerap dibicarakan dalam bahasa kebijakan dan konsep besar. Namun, bagi banyak perempuan, upaya itu justru dimulai dari hal-hal paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: dapur, ladang, relasi, dan kerja bersama.

Pengalaman tersebut disampaikan Supriyanti, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kaba Indah Lestari, saat ditemui pada Minggu (1/2/2026) dalam International Indigenous Women’s Conference: “Rebuilding the Commons” yang digelar di Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kaba Wetan, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Sebagai ketua kelompok, Supriyanti berupaya memahami setiap anggota. Menurutnya, praktik yang dijalankan kelompok tidak menjanjikan keuntungan finansial di awal. Fokus utama kegiatan adalah membangun kesadaran bersama. “Kalau kemudian ada uang, itu bonus,” ujarnya.

Seluruh keputusan dalam kelompok diambil secara bersama. Mulai dari menentukan lokasi lahan pertanian, jenis tanaman yang akan dibudidayakan, hingga pembagian peran, semuanya dilakukan melalui musyawarah dan kerja sama yang saling melengkapi.

Praktik semacam ini dikenal sebagai keperawatan bersama (collective care), yakni upaya merawat keberlangsungan hidup komunitas secara kolektif—baik secara sosial, emosional, maupun ekonomi, terutama ketika sistem yang lebih besar tidak sepenuhnya berpihak pada perempuan. Sederhananya, collective care adalah cara perempuan saling menjaga agar bisa tetap hidup, bekerja, dan bertahan bersama di tengah keterbatasan dan tekanan sehari-hari.

Dilihat dari konteks KWT Kaba Indah Lestari, praktik yang dijalankan Supriyanti dan anggota kelompoknya tidak hanya beririsan dengan collective care, tetapi juga mendekati ekonomi solidaritas. Kerja tani bersama dijalankan bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan, melainkan untuk membangun relasi setara, saling menopang, dan memastikan tidak ada anggota yang tertinggal.

Serupa disampaikan Program Manager Akar Global Inisiatif, Pramasty Ayu Kusdinar, yang menyebut praktik keperawatan bersama sebagai inisiatif penting dalam gerakan kemanusiaan karena menumbuhkan solidaritas di tingkat komunitas.

Baca juga: Pengaling Cemara Laut, Mitigasi Perempuan Adat Menghadapi Perubahan Iklim 

“Solidaritas penting dimiliki perempuan. Perempuan harus berkelompok untuk melawan sistem melalui kebersamaan,” kata Dinar- sapaan akrabnya. 

Ia menambahkan bahwa perempuan kerap diadu domba hanya karena perbedaan gaya atau cara, padahal tujuan mereka sebenarnya sama. Karena itu, ruang-ruang kolektif seperti kelompok tani perempuan menjadi penting untuk saling menguatkan, sekaligus membangun daya tahan bersama.

“Perempuan mungkin tidak pernah benar-benar pulih. Luka akan selalu ada. Tapi dari situlah perempuan bertumbuh,” tutupnya.

Para delegasi menghadiri Konferensi Perempuan Adat Internasional di Bengkulu, (1–4 Februari 2026), dengan tema Rebuilding the Commons, Defending Life It Self (Membangun Kembali Komunal, Membela Kehidupan Itu Sendiri’) untuk memperkuat advokasi dan ketahanan komunitas. (foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Solidaritas yang Tumbuh dari Pengalaman Perempuan

Dalam praktiknya, solidaritas tersebut juga tampak jelas dalam pengalaman Een Suryani, perempuan adat dari Kesepuhan Banten. Ia menuturkan bahwa perempuan di komunitasnya sangat jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan pengelolaan sumber daya.

Hal itulah yang mendorong Een bersama dua perempuan lainnya menginisiasi kelompok kecil berbasis kebutuhan paling dasar. “Awalnya hanya tiga orang,” ujarnya. Kelompok tersebut kemudian membangun koperasi perempuan dengan memanfaatkan hasil pertanian, seperti beras.

Seiring waktu, kelompok itu berkembang menjadi 48 orang dengan unit usaha simpan pinjam dan gadai. Bagi Een, keterbukaan menjadi kunci keberlangsungan kelompok. “Harus ada keterbukaan dengan anggota, supaya kepercayaan tetap terjaga,” tegasnya.

Apa yang dilakukan Een dan kelompoknya dapat dibaca sebagai bentuk collective care berbasis ekonomi solidaritas perempuan, di mana aktivitas ekonomi menjadi cara perempuan saling merawat dan memperkuat posisi mereka dalam komunitas.

Pengalaman serupa juga datang dari Novika Linda dari kelompok perempuan Beremis, Pasar Seluma. Kelompok ini aktif melakukan penolakan terhadap tambang pasir besi di desa mereka. Pada awalnya, gerakan penolakan lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Namun, situasi berubah ketika terjadi kriminalisasi terhadap warga.

“Ketika perempuan mulai terlibat, cara melawan juga berubah,” kata Novika. “Kami tidak hanya menolak tambang, tetapi juga saling menjaga agar tidak ada yang menghadapi risiko sendirian.”

Keterlibatan perempuan menghadirkan pendekatan yang lebih kolektif dan berorientasi pada keberlanjutan komunitas. Di saat situasi penuh tekanan, perempuan membangun ruang aman, berbagi peran, dan memperkuat dukungan emosional.

Baca juga: Ancaman Krisis Iklim, Bagaimana Nasib Perempuan Adat?

Dari Collective Care ke Communiting Care

Ruth Indiah Rahayu, aktivis dan pemikir feminis, mengatakan pengalaman-pengalaman yang disampaikan para perempuan tersebut menjadi gambaran konseptual yang saling berkaitan yang disebut perlumbungan sosial. Bagi perempuan adat dan komunitas akar rumput, Ruth bilang perlindungan sosial tidak lahir dari kebijakan formal, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

“Perempuan tidak memulai dari kebijakan negara atau program formal. Mereka memulai dari lumbung, dari dapur, dari relasi,” ujar Ruth dalam konferensi yang sama.

Suasana lokakarya dalam rangka Konferensi Perempuan Adat Internasional di Desa Bandung Jaya, Bengkulu (1–4 Februari 2026). Ruth Indiah Rahayu memaparkan model perubahan sosial dengan menekankan pembelajaran sebagai inti dari transformasi. Tampak  Titiek Kartika Hendrastiti, peneliti senior bidang gender dan pembangunan dan Lilis Listyowati dari Kalyanamitra mendampingi. (foto: Betty Herlina/ Bincang Perempuan)

Lumbung, menurut Ruth, menjadi simbol penting. Ia menyimpan sumber daya material seperti pangan dan kekayaan alam, sekaligus sumber daya non-material seperti pengetahuan, daya kreatif, dan kerja bersama. Semua itu dirawat secara kolektif dan digunakan kembali untuk menopang kehidupan komunitas.

Praktik inilah yang ia sebut sebagai communiting care, perawatan yang tumbuh dari komunitas dan dijalankan secara berkelanjutan. “Care di sini bukan sesuatu yang habis sekali pakai. Ia disimpan, dirawat, dibagikan, lalu dihidupkan kembali. Tujuannya bukan akumulasi, tapi keberlangsungan,” jelasnya.

Ruth menilai bahwa selama ini perlindungan sosial kerap dipahami secara sempit sebagai bantuan dari atas. Padahal, jauh sebelum itu, perempuan telah membangun sistem perlindungan mereka sendiri melalui kerja-kerja kolektif.

“Ketika negara absen atau tidak cukup hadir, perempuan menciptakan sistem perlindungan mereka sendiri. Itulah collective care,” kata Ruth.

Dalam ilustrasi yang ia jelaskan, tertulis pula: kerja bersama = collective care = menyelesaikan masalah individu secara bersama. Bagi Ruth, ini menjadi kritik terhadap sistem yang meletakkan seluruh beban hidup pada individu.

“Perempuan memahami bahwa banyak persoalan bukan kesalahan individu, tapi akibat sistem yang timpang. Karena itu, jawabannya adalah kebersamaan,” ujarnya.

Meski kerap dianggap domestik dan tidak politis, praktik merawat justru menjadi bentuk perlawanan yang sunyi. Dengan merawat lumbung, relasi, dan komunitas, perempuan menantang sistem kapitalistik dan patriarkal yang mengabaikan kerja perawatan.

“Merawat adalah kerja politik, meski tidak selalu terlihat sebagai aksi besar,” tegas Ruth.

Ia menegaskan bahwa communiting care bukan respons sesaat, melainkan strategi hidup jangka panjang. “Tujuannya bukan hanya bertahan hari ini, tapi memastikan kehidupan bisa diteruskan oleh generasi berikutnya,” katanya.

“Kalau mau bicara tentang membangun kembali commons,” pungkas Ruth, “belajarlah dari perempuan dan cara mereka merawat.” 

Untuk diketahui, selama empat hari, dari 1 hingga 4 Februari, Akar Global Inisiatif menyelenggarakan kegiatan International Indigenous Women’s Conference: “Rebuilding the Commons”. Forum internasional ini mempertemukan 106 perempuan adat dan perempuan akar rumput dari berbagai wilayah di Indonesia, serta dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, penguatan solidaritas, dan penyusunan agenda kolektif perempuan dalam memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan hidup, budaya, dan penghidupan yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

#RebuildingtheCommons

Teras

Artikel Lainnya

Konten Kreator, Rentan Jadi Korban, Mau Lapor Takut Percuma

Maryam Perempuan Minoritas dalam Bayang Diskriminasi Ganda  (2)

Maryam: Perempuan Minoritas dalam Bayang Diskriminasi Ganda 

Surrogate Mother Solusi Reproduksi atau Eksploitasi Terselubung

Surrogate Mother? Praktik Meminjam Rahim di Tengah Dilema Moral dan Hukum

Leave a Comment