Bincangperempuan.com- B’Pers kalau ada sesuatu yang baru, entah itu spot nongkrong, tren atau fashion kita terbiasa untuk segera tahu dan ikut serta. Termasuk juga dalam merespon isu atau berita yang sedang hangat. Hal baru selalu hadir setiap harinya. Kita seperti dituntut harus segera ikut mengunggah dukungan terhadap suatu isu, segera membeli item fashion tertentu agar dianggap trendy atau bahkan harus segera mengunjungi tempat hits terkini.
Setiap hari selalu ada hal baru yang tidak ada habisnya, jika kita ikuti terus menerus. Inilah yang disebut FOMO (fear of missing out), rasa takut jika melewatkan momen, karena katanya, you only live once. Istilah Fear of Missing Out (FOMO) pertama kali diperkenalkan tahun 2004 dan menjadi populer sejak 2010, lalu resmi masuk kamus Oxford pada 2013.Â
Terseret FOMO dalam isu sosial dan politik terkini, memang bagus. Tapi kalau semua hal harus dikejar, semua tren harus diikuti, semua topik harus direspons, apakah itu semua membuat diri kita bahagia? Atau justru menciptakan kegelisahan baru?
Oleh karena itu belakangan ada istilah penanding FOMO yaitu JOMO (joy of missing out). JOMO adalah rasa lega dan bahagia saat kita memilih untuk tidak ikut dalam hiruk-pikuk sosial, dan tetap tenang dengan keputusan itu. Bahkan ketika kita sebenarnya diundang untuk ikut, JOMO membuat kita merasa bebas dan berdaya karena tahu kapan harus memberi jeda di tengah ramainya tren dan berita.
Baca juga: FOMO: Tren Baru Boneka Labubu Digemari Para Kidult
Kenapa Kita Perlu Mengurangi Kebiasaan FOMO?
Menurut artikel jurnal yang diterbitkan pada 2021 di World Journal of Clinical Cases, dalam aspek kognitif, FOMO muncul sebagai dorongan kompulsif untuk terus mengecek media sosial, merasa cemas kalau tidak update, dan takut dianggap out of touch. Ini memicu ruminasi negatif, alias overthinking karena membayangkan pengalaman orang lain lebih seru daripada milik kita sendiri. Sementara itu, secara psikologis, kondisi ini bisa meningkatkan:
- Kecemasan (anxiety)
- Stres kronis
- Kesulitan tidur
- Penurunan kualitas hubungan interpersonal
- Penurunan fokus dan performa akademik/kerja
Studi tersebut bahkan mengaitkan FOMO dengan problematic attachment terhadap media sosial, yakni bentuk keterikatan yang tidak sehat, yang dalam psikologi klinis kini mulai dilihat sebagai gejala adiksi ringan. Gejalanya sering luput dari perhatian karena tampak sepele, mulai dari kebiasaan doom scrolling, membuka media sosial berulang kali tanpa tujuan jelas, hingga dorongan impulsif untuk selalu mengecek notifikasi.
Tapi kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa membentuk pola hidup yang penuh kecemasan dan kelelahan mental. Kita jadi merasa harus selalu ada di setiap tren, ikut menyuarakan opini populer, atau memamerkan momen seru karena takut ketinggalan dan dianggap tidak mengikuti tren. Dalam jangka panjang, hidup bisa terasa seperti kejar-kejaran tanpa arah, dikendalikan oleh algoritma dan ekspektasi sosial. Yang akhirnya menyebabkan seseorang candu akan validasi eksternal.
JOMO: Bahagia Karena Tidak Ikut-ikutanÂ
JOMO adalah perasaan lega dan puas karena kita terbebas dari tekanan sosial dan hiruk-pikuk media sosial. Orang-orang yang mempraktikkan JOMO memilih untuk fokus pada kehidupan nyata, membangun relasi yang lebih bermakna, dan menikmati momen sederhana tanpa harus tergantung pada notifikasi atau likes.
Bahkan sebuah studi yang dilakukan terhadap 100 responden Gen Z di Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa intensitas JOMO dan sikap selektif dalam aktivitas digital punya dampak positif yang signifikan terhadap kualitas komunikasi interpersonal. Hal ini mencakup empati, kedalaman komunikasi, dan keterhubungan emosional. Artinya, JOMO tidak hanya memperkuat kesehatan mental individu, tetapi juga mempererat hubungan sosial yang lebih dalam dan bermakna. Studi ini juga mendorong Gen Z untuk menyeimbangkan penggunaan digital dan kehidupan sosial demi relasi yang lebih sehat di tengah arus digitalisasi yang cepat.
Baca juga: Apa Itu Quarter Life Crisis? Dan Bagaimana Cara Menghadapinya?
Lalu, Bagaimana Memulai JOMO?Â
Menurut Tanya Dalton, penulis buku tentang JOMO dalam ulasan Positive Psychology, ada beberapa cara sederhana untuk mulai menikmati ketenangan dan kebebasan dari FOMO:
- Buat daftar aktivitas yang kamu sukai. Tempelkan di tempat yang mudah dilihat, supaya kamu punya pengingat untuk melakukan hal-hal yang benar-benar membuat bahagia, ketimbang yang melelahkan secara sosial.
- Rencanakan waktu luangmu. Kadang kita membiarkan waktu kosong berlalu begitu saja dan baru sadar saat sudah malam. Coba alokasikan waktu untuk koneksi bermakna, kegiatan kreatif, atau sekadar istirahat total.
- Lakukan detoks digital secara rutin. Banyak kecemasan muncul karena kita terlalu sering membandingkan diri lewat media sosial. Sisihkan waktu setiap hari atau setiap minggu untuk benar-benar “lepas” dari layar.
- Bangun koneksi offline. Investasikan waktu untuk keluarga, teman, atau tetangga. Lakukan kegiatan bersama yang membangun hubungan lebih nyata ketimbang sekadar berkirim pesan atau berinteraksi dengan orang asing di sosial media.
- Luangkan waktu untuk self-care. Meski susah dilakukan di tengah kesibukan, tapi ini sangat penting. Bisa dimulai dari jalan-jalan sendiri, mandi air hangat, mendengarkan musik yang menenangkan dan apapun yang membuat kamu nyaman dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak harus tahu semua tren terbaru, tidak harus selalu update, mau pun mengikuti standar sukses yang sedang ramai. Kita berhak menikmati hidup dengan tenang, tanpa merasa bersalah karena tidak ikut-ikutan tren kekinian. Kita cukup dengan menjadi diri sendiri, menjalani hidup sesuai ritme kita, dan menghargai momen yang kita punya. Sebab kebahagiaan kadang justru datang dari ketenangan yang kita pilih sendiri.
Referensi:
- Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: Relationships with depression, mindfulness, and physical symptoms. World Journal of Clinical Cases, 9(18), 4575–4585. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8283615/
- Positive Psychology. (n.d.). JOMO: The Joy of Missing Out — How to Find Peace in a Connected World. Diakses dari https://positivepsychology.com/jomo-joy-of-missing-out/#strategies-for-finding-joy-in-missing-outAnggraini, D. J., Malik, L. A., & Trikanti. (2025). Dampak Joy of Missing Out terhadap Komunikasi Interpersonal Generasi Z di Era Digital. Jurnal Komunikasi dan Media, 5(1). https://jurnal.akmrtv.ac.id/jk/article/view/376
