Self-Abandonment: Terlalu Sering Bilang “Iya”, Sampai Kehilangan Diri Sendiri

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com– B-pers pernahkah kamu kesusahan menolak atau mengatakan tidak saat orang lain butuh bantuan? Di satu sisi sebenarnya kamu enggan atau sedang tidak sanggup membantu, tetapi kamu berat untuk menolaknya.

Kita mungkin sudah akrab dengan skenario ini. Banyak yang mengaitkannya dengan kepribadian people pleaser. Tapi kalau pola ini terjadi terus-menerus, bisa jadi ini bukan sekadar sifat baik—melainkan tanda kamu sedang mengalami self-abandonment, alias meninggalkan diri sendiri.

Kedengarannya aneh, ya. Bagaimana mungkin seseorang bisa “meninggalkan diri sendiri” padahal kita selalu bersama diri kita?

Baca juga: Benarkah Tabungan Gen Z Habis untuk Self-reward dan Healing?

Apa Itu Self Abandonment?

Melansir National Alliance on Mental Illness, self-abandonment adalah kondisi ketika seseorang menolak, menekan, atau mengabaikan bagian dari dirinya sendiri secara sadar—bahkan sering kali terjadi secara spontan. Sederhananya, kamu punya kebutuhan atau keinginan, tapi memilih untuk tidak memenuhinya.

Misalnya, seseorang pulang kerja dalam kondisi lelah dan hanya ingin beristirahat. Namun, ketika temannya menelpon untuk curhat, ia tetap mengiyakan, meskipun tubuhnya jelas butuh istirahat. Atau seseorang yang sudah lama ingin belajar sesuatu seperti melukis, menulis, atau hal lain, tapi mengurungkan niat karena dianggap “tidak penting” oleh orang di sekitarnya.

Dalam situasi seperti ini, kebutuhan diri sendiri dikalahkan oleh kebutuhan atau opini orang lain. Ada dorongan internal yang jelas, tetapi segera ditinggalkan begitu muncul tekanan dari luar.

Lama-kelamaan, ada keyakinan yang terbentuk, bahwa kebutuhan diri sendiri tidak sepenting itu atau bahkan tidak layak untuk dipenuhi. Akibatnya, seseorang terus-menerus mengabaikan dirinya sendiri, hingga perlahan kehilangan kemampuan untuk mengenali apa yang sebenarnya diinginkan atau dibutuhkan.

Ini bisa membawa seseorang masuk ke siklus menyenangkan orang lain, menoleransi hal-hal yang menyakitkan, atau sekadar menjalani hidup tanpa benar-benar merasa terhubung dengan dirinya sendiri. Identitas jadi kabur, keputusan terasa hampa, dan hidup berjalan seperti autopilot.

Pada dasarnya, self-abandonment sering berakar dari kurangnya kepercayaan pada diri sendiri. Maka, jalan keluarnya bukan sekadar “lebih kuat” atau “lebih tegas”, tetapi membangun kembali self-trust kepercayaan bahwa apa yang kita rasakan dan butuhkan itu valid.

Self-Abandonmentvs. Kompromi yang Sehat

Laura Copley, relationship trauma recovery specialist menulis dalam Positive Psychology bahwa penting untuk membedakan, tidak semua sikap mengalah adalah bentuk self-abandonment.

Sebab kompromi yang sehat dan disiplin diri justru berakar dari diri yang autentik. Keduanya mungkin terasa tidak nyaman dalam jangka pendek, tetapi tetap selaras dengan nilai dan tujuan hidup kita.

Sedangkan, self-abandonment didorong oleh rasa takut, rasa malu, atau tekanan sosial. Hasil akhirnya bukan ketenangan, melainkan kelelahan emosional dan sering kali, diam-diam menyisakan rasa kesal. Jadi yang satu membuatmu tetap utuh, yang satu lagi perlahan mengikis dirimu sendiri.

Tanda Kamu Mungkin Sedang Self-Abandonment

Masalahnya, kebanyakan orang tidak sadar saat sedang melakukannya. Padahal, keputusan-keputusan kecil itu terus menumpuk. Berikut beberapa tandanya:

1. Mengabaikan kebutuhan dan perasaan sendiri

Salah satu bentuk paling umum adalah menganggap kebutuhan diri tidak penting. Melewatkan makan, memaksakan diri saat lelah, atau mengatakan “baik-baik saja” padahal sebenarnya tidak.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengabaikan kebutuhan dasar seperti istirahat, nutrisi, dan ekspresi emosi berkaitan erat dengan depresi, kondisi kesehatan yang buruk, dan perasaan tidak berharga.

Mungkin ini terjadi karena kita tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi kalau diulang terus, bisa mengganggu kesehatan dan mental.

2. Terlalu sering meminta maaf dan menyenangkan orang lain

People pleasing sering terlihat seperti kebaikan. Tapi ketika itu membuatmu kehilangan diri, itu sudah masuk ke self-abandonment. Misalnya, meminta maaf atas hal yang bukan kesalahanmu, menyesuaikan pendapat agar tidak berbeda dari orang lain, atau mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan milikmu.

Penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan berlebihan akan validasi orang lain berkaitan dengan kecemasan, rendahnya harga diri, dan kelelahan emosional. Dalam jangka pendek mungkin menjaga hubungan tetap aman, tapi dalam jangka panjang justru menjauhkanmu dari dirimu sendiri.

3. Mengabaikan batasan diri (boundaries)

Kamu mengatakan “iya” saat ingin menolak. Membiarkan orang berbicara tidak sopan karena takut konflik. Memberikan energi yang sebenarnya sudah tidak kamu miliki.

Setiap kali batasan dilanggar tanpa kamu bersuara, kepercayaan terhadap diri sendiri ikut melemah. Lama-lama, hubungan terasa tidak aman dan hidup terasa makin menguras.

4. Kehilangan koneksi dengan diri sendiri

Ini dampak paling dalam. Kamu mulai kesulitan menjawab pertanyaan sederhana “Aku sebenarnya mau apa?”

Minat yang dulu penting jadi diabaikan. Intuisi sering diacuhkan. Hidup terasa berjalan, tapi tidak benar-benar dirasakan. Studi tentang regulasi emosi menunjukkan bahwa kesulitan mengenali dan menamai perasaan berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan dan menurunnya autentisitas diri. Artinya, semakin jauh kamu dari emosimu sendiri, semakin jauh juga kamu dari dirimu.

Baca juga: Mencintai Diri dengan Memberi: Perjalanan Self-Love Talia Bara

Kenapa Ini Banyak Terjadi pada Perempuan?

Jika dikaitkan dengan gender self-abandonment lebih rentan dialami oleh perempuan. Karena perempuan sejak awal sering diajarkan untuk menjadi “baik” seperti, tidak terlalu banyak menuntut, dan selalu mempertimbangkan orang lain terlebih dahulu.

Perempuan yang mengalah disebut pengertian sedangkan yang tegas sering dilabeli galak. Perempuan yang tahu kebutuhannya dianggap terlalu banyak mau. Akhirnya, banyak perempuan merasa lebih aman menyakiti diri sendiri daripada berisiko dianggap menyulitkan orang lain.

Tidak heran jika self-abandonment sering disalahartikan sebagai kebaikan. Padahal, itu hanya bentuk lain dari kehilangan diri yang dipoles agar terlihat bisa diterima.

Masalahnya, self-abandonment tidak selalu terasa. Tetapi sering muncul dalam keputusan-keputusan kecil yang terlihat sepele, hingga akhirnya kamu merasa lelah tanpa tahu penyebabnya, marah tanpa arah, atau kosong tanpa alasan yang jelas.

Mungkin selama ini kita merasa terlalu sering ditinggalkan orang lain. Padahal, tanpa sadar, kita juga berkali-kali meninggalkan diri sendiri. Menyadari pola ini adalah langkah awal. Belajar mendengarkan diri sendiri, menetapkan batasan, dan mengambil keputusan yang selaras dengan kebutuhan pribadi adalah proses yang tidak instan tapi perlu.

Dan kalau kamu mulai merasa pola ini sudah mengganggu keseharian, relasi, atau kesehatan mentalmu, mencari bantuan profesional seperti psikolog bukanlah tanda kelemahan. Justru itu bentuk keberanian untuk kembali pulang ke diri sendiri.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Pilihan Resolusi Tahun Baru yang Berpihak pada Perempuan

Dini Mudrika, Ubah Limbah Fashion Jadi Souvenir Bernilai Ekonomi

Pontang-panting Generasi Sandwich di Yogyakarta

Leave a Comment