Mengapa Pilihan Perempuan Sering Kali Bukan Miliknya?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Apa sih tolak ukur seorang perempuan agar bisa dianggap mapan dalam hidupnya? Di zaman sekarang, idealnya perempuan mapan itu sudah memiliki kemandirian, stabilitas finansial, kematangan emosional, dan kepuasan batin. Tapi nyatanya, masyarakat kita masih sering mengukur “kesempurnaan” seorang perempuan dari ada atau tidaknya sosok laki-laki yang mendampinginya.

Seakan-akan, semapan apa pun seorang perempuan berdiri di atas kakinya sendiri, ia belum dianggap sepenuhnya aman kalau belum menikah. Eksistensi dan pencapaiannya pun baru terasa tervalidasi di mata sosial setelah ia menjadi seorang ibu. Selain itu, masih banyak ekspektasi tak masuk akal lainnya—mulai dari tuntutan untuk selalu mengalah, hingga harus bisa menyeimbangkan karier dan urusan domestik tanpa celah sedikit pun.

Tapi, tahukah kamu? Rentetan ekspektasi sosial yang dibalut dalam peran dan stereotip gender ini bukan sekadar beban obrolan belaka. Tuntutan tentang “bagaimana perempuan seharusnya bersikap” ini secara nyata mengganggu kondisi psikologis dan menyetir arah setiap pilihan hidup yang mereka ambil.

Beban psikologis ini tervalidasi secara akademis. Sebuah studi bertajuk The Psychological Impact of Social Expectations on Women’s Personal Choices (2024) membuktikan bahwa tekanan masyarakat benar-benar mengobrak-abrik tiga aspek fundamental hidup perempuan: identitas diri, dinamika relasi, dan kesehatan mental.

Dalam studi kualitatif tersebut, terungkap empat ekspektasi utama yang secara konsisten menghantui dan meruwetkan pengambilan keputusan perempuan:

1. Citra Tubuh (Body Image)

Standar kecantikan di media sosial terus-menerus menggerus kepercayaan diri perempuan. Banyak yang merasa tidak berharga dan terus ditekan untuk menyesuaikan diri dengan visual yang tidak realistis. Salah satu satu partisipan studi mengatakan “Aku selalu merasa tidak pernah cukup karena penampilanku tidak seperti model-model yang kulihat di Instagram.” Selain itu body shaming dan kultur kebugaran yang toxic memperparah krisis identitas ini.

2. Ceklis Tak Kasat Mata dalam Peran Sosial

Masyarakat kerap mendikte peran sosial tradisional yang mengikat. Ruang gerak perempuan seolah dibatasi oleh ekspektasi untuk menjadi pengasuh atau ibu rumah tangga. 

3. Dilema Pilihan Karier

Ekspektasi gender membuat keputusan karier menjadi sangat emosional bagi perempuan. Mereka merasa terkoyak antara mengejar ambisi profesional dan keharusan memprioritaskan keluarga. Konflik ini melahirkan rasa bersalah, misalnya saat waktu untuk keluarga semakin sedikit atau merasa bersalah karena tidak hadir di rumah.

4. Benturan Nilai Personal dan Norma

Ekspektasi budaya dan agama kerap kali berbenturan keras dengan nilai-nilai personal. Hal ini menciptakan perang batin yang tiada henti. Karena apa yang diyakini secara personal kerap bertentangan dengan ekspetasi keluarga dan lingkungan.

Ujung-ujungnya, intervensi berlapis mulai dari tuntutan keluarga, ekspektasi pasangan romantis, hingga tekanan lingkungan pertemanan membuat standar masyarakat ini menelan harga mahal. Tuntutan untuk terus memenuhinya melahirkan stres tingkat tinggi dan kecemasan yang berujung pada kelelahan mental (burnout).

Ilusi Pilihan Bebas: Ini Mimpimu atau Tuntutan Mereka?

Berangkat dari temuan studi tadi, mari kita bertanya ke diri sendiri: Apakah cita-citamu saat ini benar-benar hal yang kamu inginkan, atau cuma sekadar hasil didikan dan tuntutan orang-orang di sekitarmu?

Sering kali, perempuan dibiarkan merasa bahwa mereka sudah membuat pilihan yang mandiri. Kita merasa bebas memilih jurusan kuliah, mengambil beasiswa S2, menentukan jalur karier, atau memutuskan kapan dan dengan siapa akan menikah. 

Namun, jauh di bawah sadar, “pilihan bebas” ini sering kali sudah disetir oleh ekspektasi sosial sejak kita masih kecil. Inilah yang disebut sebagai ilusi pilihan bebas.

Ambil contoh soal mengejar pendidikan tinggi dan karier. Banyak perempuan masa kini didorong untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya sampai ke luar negeri. Tapi, motif yang ditanamkan lingkungan di baliknya kerap kali problematik: “Sekolah yang tinggi ya, biar dapat jodoh yang setara,” atau “Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas.”

Narasi semacam ini secara halus menggeser tujuan pendidikan dari sekadar bentuk aktualisasi diri perempuan, menjadi sekadar “modal” agar dirinya dianggap lebih bernilai di bursa pernikahan atau lebih berguna bagi entitas lain.

Di sisi lain, ketika seorang perempuan menunjukkan taringnya dan ingin mengejar posisi kepemimpinan atau berkarier di bidang yang sangat menantang, tiba-tiba muncul peringatan dari sekeliling agar jangan terlalu ambisius, nanti laki-laki pada minder, atau perempuan setinggi apa pun kariernya, ujung-ujungnya bakal balik ke dapur juga.

Akhirnya, banyak perempuan yang menyabotase mimpinya sendiri tanpa sadar. Kita menyesuaikan cita-cita agar pas dengan cetakan sempit yang disediakan masyarakat. Kita mengerdilkan potensi hanya supaya tidak dianggap “terlalu berlebihan”. Atau sebaliknya, kita mati-matian mengejar sebuah pencapaian hanya untuk membuktikan bahwa kita “cukup” dan berharga di mata keluarga.

Baca juga: Kerja Secukupnya, Waras Selamanya: Membedah Tren Lazy Girl Jobs

Harga Mahal dari Sebuah Kompromi

Ketika cita-cita dan pilihan hidup didikte oleh ekspektasi eksternal, harga yang dibayar adalah stabilitas emosional. Seperti yang disorot dalam studi di atas, konflik internal antara apa yang benar-benar diinginkan hati dengan apa yang disetujui masyarakat akan menciptakan krisis identitas yang parah.

Berapa banyak perempuan yang akhirnya membatalkan mimpi besarnya hanya karena khawatir umur terus bertambah dan takut dilabeli “perempuan gagal” jika belum berkeluarga di usia tertentu? Kita dipaksa untuk terus berkompromi secara tidak sehat. Rasa takut akan stigma sosial merampas keberanian perempuan, membuat mereka lebih memilih rute hidup yang “aman” dan direstui suara mayoritas, ketimbang merintis jalan yang membebaskan diri mereka sendiri.

Baca juga: Queen Bee Syndrome: Fenomena Sosial di Tengah Dominasi Maskulinitas

Merebut Kembali Narasi

Menyadari bahwa beberapa dari cita-cita kita mungkin adalah titipan masyarakat patriarkis memang tidak nyaman. Tetapi, kesadaran ini adalah langkah krusial untuk memutus siklus.

Kini saatnya kita mulai mengupas kembali satu per satu ambisi kita. Evaluasi ulang setiap keputusan krusial yang akan diambil. Tanyakan pada dirimu “Kalau aku hidup di dunia di mana tidak ada pandangan menghakimi dari siapa pun, apakah aku akan tetap memilih jalan ini?”

Perempuan berhak penuh atas kehendak bebasnya. Cita-citamu adalah milikmu sepenuhnya. Entah kamu memilih untuk menjadi pemimpin kebijakan publik, mengejar Master di bidang yang kamu cintai, menjadi ibu rumah tangga, pekerja seni, atau kombinasi apa pun di antaranya pastikan pilihan itu murni lahir dari keyakinanmu sendiri. Kita tidak berutang validasi apa pun kepada standar ganda dunia.

Referensi:

  • Kamyab, F. ., & Hoseinzadeh, A. (2023). The Psychological Impact of Social Expectations on Women’s Personal Choices. Psychology of Woman Journal, 4(2), 169-176. https://doi.org/10.61838/kman.pwj.4.2.20

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Aesthetic Fatigue: Ketika Keindahan Justru Jadi Seragam

Benarkah RUU KIA dapat Merugikan Ibu Hamil?

Obsesi Sensual pada Bra dan Payudara

Obsesi Sensual pada Bra dan Payudara

Leave a Comment