Bincangperempuan.com- Ketika memilih pasangan, kita biasanya memiliki standar atau preferensi tertentu. Mulai dari penampilan fisik, gaya hidup, pilihan politik, status sosial, latar belakang keluarga, hingga sikap dan cara seseorang memandang kehidupan. Sebagian orang menginginkan pasangan yang ambisius dan mapan, sementara yang lain lebih mengutamakan kecocokan emosional dan kemampuan berkomunikasi.
Namun, bagaimana jika seseorang yang datang tidak memenuhi sebagian besar kriteria tersebut? Katakanlah, kita menginginkan pasangan yang menarik secara fisik, tetapi justru jatuh cinta kepada seseorang yang awalnya tidak masuk dalam tipe ideal kita. Kita kemudian bersedia menurunkan standar karena merasa orang tersebut punya potensi untuk bertumbuh bersama, atau karena terlanjur memiliki perasaan.
Hal ini sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Kita bisa menemukan kecocokan dengan orang yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar kriteria pasangan ideal. Namun, persoalannya berbeda ketika seseorang sengaja memilih pasangan yang dianggap kurang menarik atau kurang diinginkan dengan harapan akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Fenomena inilah yang dikenal sebagai shrekking.
Baca juga: Bukan Cuma Soal Hubungan: Kenapa Kita Semua Sedang di Lost Spark Era?
Apa Itu Shrekking?
Menurut Merriam–Webster, shrekking merupakan praktik sengaja berkencan dengan seseorang yang dianggap kurang menarik dibandingkan orang yang biasanya dipilih, dengan asumsi bahwa orang tersebut akan menjadi pasangan yang lebih baik, penuh perhatian, dan penyayang.
Istilah ini berasal dari karakter Shrek, ogre hijau dalam film animasi Shrek (2001). Dalam ceritanya, Shrek yang tinggal menyendiri di rawa bertemu Putri Fiona. Keduanya kemudian jatuh cinta, meskipun penampilan mereka tidak sesuai dengan gambaran pasangan dalam dongeng yang lazimnya mengutamakan kecantikan dan ketampanan.
Di media sosial, istilah shrekking justru berkembang menjadi sebutan bagi strategi berkencan dengan seseorang yang dianggap berada di bawah standar diri sendiri. Harapannya, pasangan tersebut akan lebih menghargai hubungan, berusaha lebih keras untuk mempertahankan kita, dan tidak mudah berpaling karena merasa beruntung bisa bersama kita.
Sementara itu, getting shrekked merujuk pada pengalaman ketika strategi tersebut gagal. Seseorang sudah merasa menurunkan standar demi mendapatkan pasangan yang lebih baik, tetapi ternyata tetap mendapatkan perlakuan buruk, diabaikan, atau bahkan diselingkuhi.
Penting untuk membedakan shrekking dari sekadar berpacaran dengan orang yang bukan tipe ideal kita. Jatuh cinta kepada seseorang yang berbeda dari preferensi awal bukanlah masalah. Yang menjadi persoalan adalah anggapan bahwa penampilan atau tingkat daya tarik seseorang menentukan seberapa baik ia akan memperlakukan pasangannya.
Mengapa Seseorang Melakukan Shrekking?
Salah satu alasan yang mungkin mendorong seseorang melakukan shrekking adalah ketakutan akan kesendirian. Kita mungkin pernah mendengar anggapan bahwa memiliki pasangan, meskipun hubungannya tidak memuaskan, lebih baik daripada tidak memiliki siapa-siapa.
Penelitian Spielmann et al. (2013) menunjukkan bahwa ketakutan menjadi lajang berkaitan dengan kecenderungan menerima pasangan yang dianggap kurang menarik atau kurang responsif. Dalam beberapa penelitian yang mereka lakukan, peserta yang lebih takut menjadi lajang cenderung menunjukkan ketertarikan romantis yang lebih besar kepada calon pasangan yang kurang menarik atau kurang tanggap. Mereka juga cenderung lebih tidak selektif dalam situasi kencan kilat.
Temuan tersebut bukan berarti setiap orang yang memilih pasangan di luar standar fisiknya takut kesepian. Namun, penelitian ini membantu menjelaskan bagaimana ketakutan kehilangan kesempatan menjalin hubungan dapat memengaruhi pilihan romantis seseorang.
Dalam konteks shrekking, ada ketakutan lain yang turut bermain yaitu takut diperlakukan buruk. Seseorang mungkin pernah menjalin hubungan dengan pasangan yang dianggap lebih menarik, populer, atau memiliki banyak pilihan, tetapi akhirnya merasa tidak dihargai. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mencari pasangan yang dianggap memiliki daya tawar lebih rendah, dengan harapan hubungan berikutnya akan terasa lebih aman.
Masalahnya, rasa aman itu dibangun di atas asumsi bahwa pasangan yang dianggap kurang menarik akan lebih takut kehilangan kita. Padahal, penilaian tentang siapa yang lebih menarik atau lebih bernilai dalam sebuah hubungan bersifat subjektif. Orang yang kita anggap kurang diminati belum tentu memandang dirinya demikian, apalagi merasa harus terus membuktikan diri agar pantas bersama kita.
Baca juga: Bukan Cuma Love Language: Kenali 5 “Stress Language” Saat Hubunganmu Sedang Chaos
Penampilan Tidak Menentukan Cara Seseorang Mencintai
Anggapan bahwa pasangan yang dianggap kurang menarik akan memperlakukan kita lebih baik menyederhanakan persoalan hubungan. Seseorang bisa memiliki penampilan yang memenuhi standar kecantikan konvensional, tetapi bersikap penuh perhatian dan menghormati batasan pasangannya. Sebaliknya, seseorang yang tidak sesuai dengan standar tersebut juga bisa bersikap manipulatif, tidak setia, atau meremehkan pasangannya.
Bahkan, strategi shrekking berpotensi menciptakan ketimpangan sejak awal. Ketika seseorang merasa dirinya lebih unggul, ia mungkin menganggap tidak perlu memberikan usaha yang sama besar dalam hubungan. Pasangannya pun belum tentu merespons dengan terus-menerus berusaha menyenangkan dirinya. Hubungan akhirnya berjalan berdasarkan perhitungan siapa yang lebih membutuhkan siapa, bukan berdasarkan rasa saling menghargai.
Ketimpangan semacam ini juga dapat memunculkan perilaku untuk mempertahankan pasangan dengan cara yang tidak sehat, seperti merendahkan kepercayaan diri atau membuat pasangan merasa tidak memiliki pilihan lain. Seperti yang dibahas dalam artikel Attachment Project, strategi mempertahankan pasangan semacam itu dapat berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih rendah.
Karena itu, memilih pasangan yang dianggap kurang menarik bukanlah jaminan terhindar dari patah hati. Tidak ada kesenjangan daya tarik yang otomatis membuat seseorang lebih setia, dewasa, atau mampu mengelola konflik.
Pada akhirnya, standar pasangan memang boleh berubah seiring pengalaman dan kedewasaan. Kita tidak harus mempertahankan daftar kriteria yang kaku, apalagi menjadikan penampilan fisik sebagai satu-satunya ukuran kelayakan seseorang.
Namun, perubahan standar sebaiknya lahir dari pengenalan terhadap diri sendiri dan orang yang sedang kita dekati, bukan dari upaya mengendalikan risiko disakiti dengan memilih seseorang yang kita anggap lebih rendah.
Hubungan yang sehat bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih beruntung mendapatkan siapa. Kita tidak membutuhkan pasangan yang merasa berutang karena telah dipilih, melainkan seseorang yang secara sadar ingin membangun hubungan bersama kita.
Referensi:
- Merriam-Webster. (n.d.). Shrekking. https://scrabble.m-w.com/slang/shrekking
- Spielmann, S. S., MacDonald, G., Maxwell, J. A., Joel, S., Peragine, D., Muise, A., & Impett, E. A. (2013). Settling for less out of fear of being single. Journal of Personality and Social Psychology, 105(6), 1049–1073. https://doi.org/10.1037/a0034628
- The Attachment Project. (n.d.). Shrekking in dating: What it is and why dating down doesn’t work. https://www.attachmentproject.com/love/shrekking/
