Apa Itu Emotional Labor dan Kenapa Bikin Perempuan Lebih Mudah Capek?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- B-Pers mungkin kamu pernah melihat pasangan yang kalau mau pergi ke mana pun, urusan itinerary, perlengkapan, sampai hal-hal kecil yang “tak kelihatan”, hampir selalu diatur oleh perempuan. Atau mungkin pernah mendengar laki-laki berkata ingin punya pasangan supaya hidup tidak sepi, ada tempat berteduh secara emosional, tempat curhat, dipuk-puk, dan diberi dukungan. 

Namun di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang kesulitan memberi timbal balik emosional, entah karena terbiasa memendam, entah karena komunikasi emosinya memang tidak pernah dilatih.

Hal serupa juga kerap terjadi di rumah. Ada rasa tenang karena ibu dianggap “pasti sudah mengatur semuanya” dari urusan packing sebelum bepergian, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, sampai menjaga suasana tetap kondusif. Ketika semuanya berjalan lancar, kerja ini nyaris tak terlihat. Tapi justru di situlah bebannya menumpuk. 

Pola-pola keseharian inilah yang disebut emotional labor—kerja emosional yang sering dilekatkan pada perempuan dan dianggap wajar, padahal menyita energi, waktu, dan kesehatan mental.

Apa Itu Emotional Labor?

Emotional labor adalah proses mengelola, menyesuaikan, bahkan menekan emosi demi memenuhi ekspektasi orang lain atau mencapai tujuan tertentu, baik di ruang personal maupun profesional. Bentuknya bukan sekadar empati, melainkan upaya aktif untuk menjaga suasana, menenangkan, serta memahami meski diri sendiri sedang lelah atau tidak nyaman.

Banyak perempuan merasa enggan menolak pekerjaan emosional ini karena takut dianggap ribet, tidak kooperatif, atau tidak ramah. Ada pula anggapan, jika mereka tidak melakukannya, perempuan lain yang akan mengambil alih. Akibatnya, ketidaknyamanan sering disembunyikan, dan kelelahan dianggap sebagai harga yang harus dibayar.

Jurnalis dan penulis Rose Hackman, yang banyak membahas isu ini, mengatakan kepada BBC, bahwa emotional labor adalah kerja tak terlihat dalam mengelola perasaan orang lain. Kerja ini jarang diakui sebagai kontribusi nyata, padahal tanpa itu, banyak relasi dan sistem tidak akan berjalan mulus.

Konsep emotional labor sendiri, pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Amerika, Arlie Hochschild, pada 1983. Konsep ini menjelaskan bahwa emosi memiliki nilai dalam sistem kapitalisme: pekerja dituntut mengatur emosi agar sesuai dengan norma, demi kelancaran bisnis dan kelangsungan pekerjaan. Meski awalnya tidak dimaksudkan sebagai konsep berbasis gender, praktiknya justru menunjukkan beban ini lebih sering jatuh pada perempuan.

Baca juga: Rest Area Gunung Mas Sepi, Hidup PKL Perempuan di Puncak Kian Terdesak

Kenapa Beban Emotional Labor Perempuan Lebih Berat?

Riset yang dirujuk World Economic Forum menunjukkan bahwa kemampuan empati laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak berbeda secara signifikan. Perbedaannya terletak pada motivasi untuk menampilkan empati. Perempuan cenderung lebih sadar akan peran gender sosial dan tekanan untuk menyesuaikan diri, termasuk demi kelangsungan karier dan relasi.

Selain itu, tekanan untuk selalu ramah dan menyenangkan memang dialami semua orang, tetapi lebih berat bagi kelompok yang terpinggirkan, termasuk perempuan dan orang berwarna. Di tempat kerja, mereka tidak hanya mengatur emosi demi profesionalitas, tetapi juga menghadapi mikroagresi dan sikap diskriminatif yang halus namun menguras tenaga.

Akademisi kajian gender E. Michele Ramsey menjelaskan bahwa pola ini berakar sejak masa kanak-kanak. Anak perempuan disosialisasikan lewat permainan dan peran yang bernuansa merawat dan mengasuh—bermain boneka, menjadi guru atau perawat. Sementara anak laki-laki lebih sering diarahkan pada permainan aktif dan minim aspek pengasuhan. Representasi di media, buku, dan televisi juga memperkuat pembagian peran ini sejak dini.

Padahal, empati dan welas asih bukan sifat bawaan berdasarkan gender. Berbagai studi lintas disiplin menunjukkan tidak ada perbedaan biologis yang mutlak antara otak laki-laki dan perempuan dalam hal empati. Namun karena empati terus diasosiasikan dengan perempuan, kerja untuk melatih dan mempraktekkannya menjadi tidak terlihat, seolah-olah itu adalah sifat alami salah satu gender.

Internalisasi pelatihan sejak kecil inilah yang membuat banyak perempuan diarahkan ke pekerjaan yang menuntut kerja emosional tinggi, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga pekerjaan pelayanan publik.

Dari Hal Sepele sampai Urusan Karier

Emotional labor tidak hanya dalam pekerjaan perawatan atau pelayanan. Hampir setiap tempat kerja membutuhkannya. Dalam lingkungan kerja, tugas-tugas seperti merencanakan acara kantor, menjaga relasi tim, mengingat ulang tahun, atau membangun suasana kebersamaan sering kali jatuh ke perempuan. Inilah yang dikenal sebagai office housework—kerja tambahan yang penting, tetapi jarang berkontribusi pada promosi.

Dalam konteks karier, standar yang dihadapi perempuan kerap lebih tinggi. Mereka dituntut kompeten dan percaya diri, tetapi juga harus ramah, sering tersenyum, tampil menarik serta suportif. Ironisnya, meski kerja ekstra ini wajib dilakukan agar tidak tertinggal, kontribusinya jarang dihitung dalam penilaian formal.

Ramsey menyoroti bahwa banyak keterampilan dalam emotional labor—organisasi, multitasking, komunikasi—sebenarnya bernilai tinggi. Sebuah studi pada 2022 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perilaku prososial memang dapat meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga bisa menghambat perempuan mencapai posisi kepemimpinan karena menguras waktu dan sumber daya tanpa imbalan setara.

Di luar dampak karier, ada biaya personal yang besar. Emotional labor menyita waktu karena harus mengecek kondisi rekan kerja, menjaga citra menyenangkan, membalas pesan dengan nada tepat, hingga mengelola interaksi sosial sehari-hari. Semua ini menggerus ruang untuk diri sendiri.

Baca juga: Rahmiana Rahman: Menebar Jala hingga ke Pelosok Negeri 

Emotional Labor dan Isu Upah

Masalahnya tidak berhenti pada pengakuan. Perempuan tidak hanya jarang dikompensasi atas kerja emosional tambahan, tetapi juga kerap dihukum secara sosial jika menolak melakukannya. Analisis kesenjangan upah gender menunjukkan bahwa profesi yang didominasi perempuan terutama pekerjaan perawatan cenderung dibayar lebih rendah dan minim tunjangan.

Padahal, pekerjaan ini krusial dan sulit digantikan. Sentuhan manusiawi, empati, dan perhatian tidak bisa digantikan mesin. Tetapi karena emotional labor tidak dilihat sebagai “kerja”, nilainya terus diremehkan. Ada anggapan bahwa kepuasan batin sudah cukup sebagai imbalan, sebuah logika yang jarang diterapkan pada bidang yang didominasi laki-laki.

Mengakui Nilai Kerja Emosional

Langkah awal untuk perubahan adalah mengakui bahwa emotional labor memang kerja. Dibutuhkan perubahan norma dengan menghargai empati dan orientasi pada orang lain sebagai keterampilan yang memerlukan waktu, usaha, dan keahlian.

Di sisi lain, ada peringatan bahwa pengakuan saja tidak cukup. Jika tidak diiringi pembagian beban dan kompensasi yang adil, pengakuan justru bisa menaikkan ekspektasi terhadap perempuan untuk melakukan lebih banyak lagi.

Pada akhirnya, selama dunia kerja dan relasi sosial masih menghargai nilai pasar tanpa menghitung kerja emosional di baliknya, ketimpangan akan terus berulang. Banyak orang menciptakan nilai besar bagi masyarakat, tetapi tidak mendapatkan imbalan yang setara. Emotional labor adalah salah satunya.

Perempuan bukan mudah lelah karena terlalu sensitif atau terlalu peduli. Kelelahan itu muncul karena terlalu lama diminta mengurus emosi, relasi, dan suasana tanpa pengakuan. Mengubah cara kita melihat emotional labor adalah soal keadilan agar kita dapat membagi beban, dan memastikan kerja yang selama ini tak terlihat akhirnya diakui.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Inspirasi Kepemimpinan Perempuan dari Layar Kaca

Inspirasi Kepemimpinan Perempuan di Layar Kaca  

Sibuk Bertahan Hidup, Tapi Tetap Aware: Paradoks Kesehatan Mental Anak Muda Indonesia

Perlunya Mekanisme Pelindungan Hak Ekosob PPHAM

Leave a Comment