Kita Semua Pernah Menjadi The Worst Person in The World

Ais Fahira

News

Kita Semua Pernah Menjadi The Worst Person in The World

Bincangperempuan.comThe Worst Person in The World adalah film asal Norwegia (2021) karya Joachim Trier yang membedah keresahan manusia menjelang usia 30-an, lewat kisah seorang perempuan bernama Julie. Film ini terbagi menjadi 13 babak yang dibuka dengan monolog Julie: “Apa yang aku lakukan tidak pernah selesai..”. Kalimat tersebut terasa sederhana tapi langsung mengantarkan kita pada tema besar film ini, yaitu kebingungan, pencarian diri, dan rasa gagal yang tak selalu rasional.

Babak pertama diisi suara narator dengan nada agak sinis, seolah ikut mengomentari hidup Julie. Kita melihat Julie yang awalnya kuliah kedokteran, lalu pindah ke psikologi, sebelum akhirnya memilih fotografi. Keputusan-keputusan ini tidak datang dari rencana matang, tapi dari dorongan sesaat dan rasa bosan yang cepat datang. Di sisi lain, relasi romantis Julie pun tak kalah berliku—dari dosen yang mengajarnya di masa kuliah, hingga seorang model saat ia fokus di fotografi. Setelah itu akhirnya ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu di toko buku, sebelum bertemu Aksel, komikus berusia 40-an, di sebuah klub di Oslo. Sekilas, hidup Julie tampak kacau, tapi bagi sebagian orang kekacauan semacam ini adalah kenyataan banyak orang alami menjelang usia 30 tahun.

Baca juga: SheGrows & Well Being Series #1 : Resiliensi Itu Kamu: Bertumbuh Tanpa Batas

Perempuan dan Tuntutan Sosial

Salah satu babak paling kuat dalam The Worst Person in the World adalah saat ulang tahun Julie yang ke-30. Narator kembali hadir, kali ini menarasikan kehidupan para perempuan di keluarganya—mulai dari ibu, nenek, hingga buyutnya—melalui rangkaian foto silsilah keluarga. Di usia yang sama dengan Julie, mereka semua sudah menikah, punya anak, dan menjalani hidup yang (setidaknya secara sosial) terlihat mapan. Kontras itu terasa tajam: Julie masih sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, sementara di mata masyarakat, usianya adalah “deadline” untuk semua pencapaian tradisional itu.

Adegan ini memotret dengan telak bagaimana tuntutan sosial terhadap perempuan tidak mengenal batas negara maupun budaya. Meski latarnya di Norwegia—negara yang sering diasosiasikan dengan kebebasan individu dan kesetaraan gender—standar keberhasilan perempuan tetap kerap diukur dari hal-hal yang sama: menikah, punya anak, dan stabil secara ekonomi. Tekanan ini terasa akrab bagi banyak perempuan di belahan dunia mana pun, termasuk Indonesia.

Masalahnya, standar ini hadir sebagai ekspektasi kolektif yang diwariskan lintas generasi, sering kali tanpa disadari. Bahkan dalam keluarga yang terlihat “modern” sekalipun, pertanyaan seperti “Kapan nikah?” atau “Kapan punya anak?” masih menjadi semacam checkpoint sosial yang menentukan apakah seorang perempuan dianggap “berhasil” atau “terlambat.”

Julie menjadi cermin bagi mereka yang memilih jalur berbeda—atau bahkan belum tahu ingin memilih jalur yang mana.

Baca juga: Belajar dari Masyarakat Pati: Saat Kekuatan Kolektif Mengalahkan Arogansi Penguasa

Perselingkuhan dan Rasa Bersalah

Selain menyorot kegagalan dalam memenuhi tuntutan sebagai perempuan, dinamika hubungan yang tak sempurna juga disorot. Karena seiring waktu, hubungan Julie dan Aksel mulai diwarnai kejenuhan. Aksel ingin menikah dan memiliki anak, sementara Julie merasa belum siap untuk menikah dan bahkan cenderung memilih hidup tanpa anak (childfree). Di tengah rasa jenuh itu, Julie suatu hari berjalan sendirian dan secara acak masuk ke sebuah pesta pernikahan yang bahkan tidak ia kenal siapa pengantinnya. Di sanalah ia bertemu seorang lelaki yang memunculkan perasaan baru dalam dirinya—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan bersama Aksel.

Hubungan Julie dan Aksel pun berakhir, dan Julie memilih bersama lelaki tersebut. Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai bayangan. Ketika kesehatan Aksel memburuk, Julie kembali menjalin kontak dengannya. Rasa penyesalan pun muncul—bukan hanya karena Aksel sakit, tapi karena Julie sadar, ada bagian dari dirinya yang memilih untuk lari dari masalah ketimbang mencoba menyelesaikannya.

Menjadi “Orang Terburuk” di Dunia

Situasi-situasi yang dialami Julie seperti meninggalkan pasangan, merasa tersesat, gagal memenuhi ekspektasi sosial—adalah hal-hal yang membuatnya merasa menjadi “the worst person in the world.” Tapi sesungguhnya, perasan tersebut pasti pernah dialami setiap orang. Terutama saat kita sadar bahwa kita tidak mampu hidup sesuai standar orang lain, dianggap aneh, atau tidak sukses.

Film ini mengingatkan bahwa setiap keputusan punya risiko. Dan ketika kita tidak “menyelesaikannya dengan baik,” itu bukan berarti kita gagal total—itu hanya bagian dari hidup yang tak rapi, tak terduga, dan kadang penuh penyesalan.

Pada akhirnya, The Worst Person in the World mengajak kita untuk berdamai dengan ketidakpastian. Bahwa merasa seperti “orang terburuk di dunia” hanyalah sebuah fase—datang dan pergi, kadang berulang. Itu bukan identitas final kita, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang penuh pilihan, kegagalan, dan penyesalan. Film ini seolah mengingatkan bahwa manusia selalu bergerak di antara keyakinan dan keraguan, antara keputusan yang kita ambil dan konsekuensi yang menyertainya.

Meski kisahnya relevan bagi banyak orang, penting untuk dicatat bahwa film ini mungkin tidak cocok untuk semua kalangan. The Worst Person in the World memiliki rating usia dewasa, serta memuat beberapa adegan dan gaya hidup yang mungkin tidak selaras dengan nilai atau norma yang dianut sebagian besar masyarakat di Indonesia. Jadi, ini bukan film yang bisa direkomendasikan secara “aman” untuk semua penonton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kontribusi Kartini dan Lima Perempuan Nusantara dalam Dimensi Spritual

Darurat Bencana Ekologis di Bengkulu

Salah Kaprah tentang Patriarki Benarkah Peran Domestik adalah Penindasan

Salah Kaprah tentang Patriarki: Benarkah Peran Domestik adalah Penindasan?

Leave a Comment