Apa Itu Janonisme? Strategi Melawan Buzzer ala Brasil

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Di tengah situasi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja, berbagai persoalan terus bermunculan. Kebakaran hutan dan lahan belum tertangani secara serius, demonstrasi terjadi di berbagai daerah, sementara respons pemerintah terhadap sejumlah persoalan publik masih tidak memadai.

Di media sosial, perlawanan juga berlangsung. Foto, ilustrasi, tulisan, hingga laporan jurnalistik mengenai kebakaran hutan di Papua, melemahnya nilai rupiah, dan berbagai kebijakan pemerintah terus dibagikan. Bukan untuk memperburuk suasana, melainkan sebagai upaya menjaga agar persoalan tersebut tidak tenggelam dari perhatian publik.

Namun, setiap kritik hampir selalu berhadapan dengan narasi tandingan. Ada kelompok yang sibuk membela pemerintah, mengalihkan pembicaraan, bahkan membangun simpati terhadap pejabat melalui narasi yang tidak berkaitan langsung dengan persoalan publik. Belakangan, misalnya, muncul pemberitaan mengenai dugaan penyadapan ponsel presiden yang turut memunculkan narasi bahwa pemerintah sedang menjadi korban fitnah.

Di sinilah buzzer bekerja. Perhatian publik dialihkan dari persoalan yang seharusnya dibicarakan menuju kontroversi lain yang justru menguntungkan pihak tertentu.

Sebagai pengguna media sosial yang geram melihat berbagai narasi tersebut, kita mungkin tergoda untuk membalas, mengutip unggahan, membantah, atau mengajak orang lain menyerbu akun buzzer. Namun, semakin banyak orang berinteraksi dengan unggahan tersebut, semakin besar pula peluang kontennya mendapatkan jangkauan.

Lantas, bagaimana jika kita melawan tanpa ikut memperbesar panggung mereka? Salah satu strategi yang bisa dipelajari berasal dari Brasil, yakni Janonisme.

Baca juga: Darurat Iklim di Indonesia: Masyarakat Kehilangan Hutan, Air Bersih, hingga Akses Pendidikan

Mengenal Janonisme, Strategi Politik Digital dari Brasil

Janonisme atau Janonismo merujuk pada pendekatan mobilisasi politik digital yang dikembangkan oleh André Janones, seorang politikus sekaligus pengacara asal Brasil. Namanya menjadi perhatian setelah membangun jaringan pendukung digital bernama Exército do Lula atau Tentara Lula untuk mendukung Luiz Inácio Lula da Silva dalam kontestasi politik.

Melalui WhatsApp dan Instagram, Janones mengorganisasi jutaan pendukung untuk menyebarkan pesan, membagikan konten, mengampanyekan tagar, dan mengajak orang lain terlibat dalam percakapan politik. Jaringan tersebut berkembang pesat dalam masa kampanye yang relatif singkat dan menjangkau sekitar 11 juta orang.

Dalam wawancaranya dengan Open Magazine pada November 2026, ilmuwan politik Brasil, Hannah Maruci, menjelaskan bahwa kekuatan mobilisasi tersebut bukan hanya terletak pada penggunaan media sosial, melainkan kemampuan membangun tujuan bersama dan rasa memiliki di antara para pendukung.

Salah satu prinsip yang menarik dari strategi Janones adalah tidak memberikan perhatian berlebihan kepada lawan. Alih-alih terus membalas provokasi, pendukung diarahkan untuk memproduksi dan menyebarkan narasi sendiri. Sebab, bantahan sekalipun dapat memperluas jangkauan konten yang sebenarnya ingin dibatasi.

Dengan kata lain, jangan sampai kita menghabiskan energi untuk membicarakan apa yang ingin dibicarakan buzzer. Kita perlu menentukan sendiri isu apa yang layak mendapatkan perhatian publik.

Tidak Semua Provokasi Harus Ditanggapi

Prinsip ini relevan dengan cara kerja algoritma media sosial. Interaksi seperti komentar, tanda suka, dan membagikan unggahan dapat menjadi sinyal keterlibatan yang membantu meningkatkan distribusi konten. Artinya, kemarahan pengguna yang datang berbondong-bondong untuk membantah sebuah unggahan belum tentu membuat unggahan tersebut kehilangan jangkauan.

Buzzer bisa saja mendapatkan keuntungan dari perdebatan yang mereka bangun. Konten yang awalnya hanya dilihat sedikit orang justru berpotensi menjangkau audiens lebih luas karena ramai diperdebatkan.

Karena itu, mengabaikan provokasi bukan berarti membiarkan disinformasi berkembang tanpa perlawanan. Kita perlu membedakan antara konten yang memang membutuhkan klarifikasi dan konten yang sengaja dibuat untuk memancing reaksi.

Jika menemukan unggahan provokatif, kita tidak harus ikut mengutip, membalas, atau menyebarkannya. Biarkan konten tersebut kehilangan perhatian. 

Kita tetap bisa membuat konten tandingan dengan mengangkat fakta, data, dan perspektif yang lebih akurat tanpa perlu menyebut, menautkan, atau menjadikan unggahan buzzer sebagai bahan utama pembahasan.

Alih-alih sibuk membantah apa yang mereka katakan, kita bisa memproduksi informasi sendiri dan memastikan isu yang lebih penting tetap mendapat ruang. Dengan begitu, perhatian publik tidak terus-menerus tersedot ke dalam provokasi yang mereka bangun.

Baca juga: Pajak Digital Mulai 9 November: Optimalisasi Penerimaan Negara atau Beban Baru bagi Konsumen?

Mengalihkan Perhatian, Memperkuat Narasi Sendiri

Pelajaran lain dari Janonisme adalah pentingnya mobilisasi kolektif. Perlawanan digital tidak cukup dilakukan dengan mengunggah keluhan secara sporadis. Perlu ada koordinasi agar informasi yang penting dapat menjangkau lebih banyak orang.

Misalnya, ketika terjadi kebakaran hutan di Papua, alih-alih menghabiskan waktu berdebat dengan akun yang menyangkal atau mengalihkan isu, pengguna media sosial dapat bekerja sama menyebarkan laporan lapangan, data deforestasi, dokumentasi warga terdampak, dan desakan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan.

Setiap orang dapat mengambil peran: membagikan laporan jurnalistik, menerjemahkan informasi, mengarsipkan bukti, atau menghubungkan isu tersebut dengan organisasi masyarakat sipil. Konten yang disebarkan juga harus memiliki sumber yang dapat diperiksa agar tidak berubah menjadi disinformasi tandingan.

Namun, strategi ini tidak harus meniru seluruh pendekatan politik Brasil. Indonesia memiliki konteks sosial, politik, dan karakteristik platform yang berbeda. Mobilisasi digital juga tidak boleh berhenti pada perebutan angka interaksi. 

Pada akhirnya, melawan buzzer bukan berarti kita harus memenangkan setiap perdebatan di kolom komentar. Kita juga tidak perlu membuktikan bahwa setiap akun yang berbeda pendapat adalah buzzer. Yang lebih penting adalah memastikan persoalan publik tetap mendapatkan perhatian dan tidak tenggelam oleh kebisingan yang sengaja diciptakan.

Kita boleh marah, tetapi jangan sampai kemarahan tersebut justru menjadi bahan bakar bagi konten yang ingin kita lawan. Sebab, perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Jangan memberikannya cuma-cuma kepada mereka yang sedang berusaha mengalihkan perhatian kita.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Sahkan RUU PPRT

Pemerintah Harus Segera Sahkan RUU PPRT

Perempuan Bekerja 100 Jam per Minggu tapi Dianggap Tak Produktif

Nikah Tapi Tak Serumah, Kok Bisa?

Leave a Comment