Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, BBC menyoroti kisah pasangan suami istri yang memilih untuk tidak tinggal serumah. Margareth dan suaminya, Peter, sudah 15 tahun menjalani hidup terpisah, Margareth menetap di London, sementara Peter bekerja di Australia. Terpisah jarak antarbenua membuat mereka hanya bisa bertemu setahun sekali, bahkan kadang baru bisa bersua setelah 18 bulan.
Kisah serupa datang dari Jepang—Hiromi dan Hidekazu Takeda sudah menikah dan punya anak, tetapi tetap memilih tinggal di rumah berbeda. Hiromi bekerja sebagai pelatih kebugaran, sementara Hidekazu adalah konsultan bisnis dengan jadwal padat. Mereka mengaku, rumah terpisah justru membuat keduanya bisa menjaga ritme hidup masing-masing tanpa kehilangan dukungan dan kasih sayang satu sama lain. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa tidak semua pasangan menikah memilih tinggal di bawah satu atap.
Mengenal Living Apart Together
Fenomena ini dikenal dengan istilah Living Apart Together (LAT). Secara sederhana, LAT adalah bentuk hubungan romantis jangka panjang di mana pasangan memilih tinggal di rumah berbeda. Namun, penting untuk diketahui bahwa LAT bukan tanda ada masalah, bukan pula sekadar fase sementara. LAT adalah keputusan sadar untuk menjaga otonomi, ruang pribadi, dan kebebasan, sembari tetap berkomitmen dalam hubungan.
Alasan pasangan memilih gaya hidup ini juga beragam. Ada yang ingin mempertahankan kemandirian finansial, ada yang harus menyesuaikan tuntutan karier, ada pula yang memang lebih nyaman punya ruang terpisah.
Tren Baru atau Sekadar Pilihan Alternatif?
Bagi sebagian orang, pola seperti mungkin ini terdengar aneh. Bukankah inti pernikahan adalah tinggal bersama dan berbagi rutinitas sehari-hari? Namun, laporan dari BBC menunjukkan sekitar 3% pasangan di dunia menjalani LAT, biasanya terjadi di negara maju seperti Inggris, Amerika dan Jepang.
Pertanyaannya, dengan dunia yang semakin modern dan individualis, akankah pola ini jadi tren baru? Atau justru tetap jadi pilihan kecil bagi pasangan yang berani berbeda jalan?
Baca juga: Praktik Pernikahan di Sekolah: Edukasi atau Romantisasi Nikah Muda
Mungkinkah Dilakukan di Indonesia?
Jika di negara maju LAT muncul sebagai pilihan sadar untuk menjaga ruang pribadi, di Indonesia kasusnya beda. Umumnya, pasangan yang tinggal terpisah bukan karena ingin, melainkan karena konsekuensi keadaan. Misalnya salah satu pasangan melanjutkan pendidikan di luar kota atau luar negeri. Atau karena tuntutan pekerjaan mengharuskan suami atau istri dinas di lokasi berbeda keluarga tertentu. Itu pun sifatnya sementara. Begitu keadaan memungkinkan, kebanyakan pasangan akan kembali tinggal bersama. Bahkan sering kali, kalau suami atau istri melanjutkan sekolah atau kerja di luar negeri, pasangannya memilih ikut pindah agar tetap bisa bersama.
Karena itu, LAT di Indonesia lebih tepat disebut sebagai konsekuensi keadaan bukan gaya hidup. Pola ini hampir mustahil jadi tren, karena ada nilai budaya, ekonomi, dan norma sosial masih sangat menekankan kebersamaan dalam rumah tangga.
Di Indonesia, pernikahan sering diiringi dengan prinsip gotong royong dalam rumah tangga seperti berbagi penghasilan, berbagi biaya, bahkan berbagi pekerjaan domestik. Tinggal bersama dianggap cara paling efisien daripada harus membayar dua sewa rumah, dua tagihan listrik, dua biaya hidup. Apalagi, bagi banyak pasangan muda di kota besar, menutup kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi tantangan bagi mereka.
Selain itu, norma sosial masih kuat menilai tinggal terpisah sebagai tanda ada masalah dalam rumah tangga. Keluarga besar, tetangga, bahkan lingkungan kerja bisa dengan mudah melabeli pasangan seperti itu aneh atau tidak akur. Padahal, seperti yang ditunjukkan contoh di luar negeri, LAT justru bisa lahir dari kesepakatan sehat dan kesadaran bersama.
Dengan kombinasi faktor ekonomi, budaya, dan norma ini, LAT hampir tidak mungkin menjadi pilihan sadar atau gaya hidup di Indonesia. Kalau pun ada, itu lebih tepat disebut konsekuensi yang berlangsung sementara, bukan pola pernikahan yang direncanakan jangka panjang.
Baca juga: Nikah? Nanti Dulu! Kenapa Gen Z Memilih Menunda Pernikahan?
Plus-Minus Living Apart Together
Meski di Indonesia pola ini jarang terjadi secara sengaja, mungkin ada yang penasaran sebenarnya apa keuntungan dan risikonya kalau memilih tinggal terpisah setelah menikah?
Nilai plusnya, pasangan yang tinggal terpisah justru bisa memberi mereka ruang bernapas. Mereka bisa tetap menjaga identitas pribadi, kebiasaan, dan rutinitas tanpa harus merasa terkungkung oleh kompromi sehari-hari. Situasi ini juga sering jadi jalan keluar ketika karier atau pendidikan mengharuskan mereka berada di kota bahkan negara berbeda. Jarak fisik memang ada, tapi justru di situ tercipta kerinduan. Pertemuan yang jarang terasa lebih bermakna, seolah hubungan tetap segar karena tidak terjebak rutinitas harian yang monoton.
Namun, tinggal terpisah juga menyimpan tantangan besar. Biaya hidup otomatis berlipat ganda karena harus membiayai dua rumah sekaligus. Lebih jauh lagi, jarak bisa mengikis keintiman emosional jika komunikasi tidak dijaga. Di Indonesia, tantangan ini makin berat karena norma sosial dan budaya masih kuat menilai pasangan yang tidak tinggal serumah sebagai “bermasalah.” Dan ketika sudah punya anak, pola ini hampir mustahil berjalan lancar—karena kebutuhan pengasuhan menuntut kehadiran fisik kedua orang tua.
Fenomena Living Apart Together mungkin berkembang di negara maju sebagai pilihan sadar, tapi di Indonesia pola ini lebih banyak muncul karena keadaan dan biasanya hanya sementara. Budaya, norma sosial, dan realitas ekonomi membuat tinggal bersama tetap dianggap cara paling ideal dan realistis bagi pasangan menikah. Pada akhirnya, setiap pasangan punya jalan masing-masing dalam membangun rumah tangga dan LAT mungkin tidak untuk semua orang. Apa pun pilihannya yang penting dalam hubungan adalah komitmen, komunikasi dan saling mendukung di antara suami istri.
Referensi:
- BBC News Indonesia. (2025, September 24). ‘Saya tidak tinggal serumah bersama suami saya selama 15 tahun’ – Kisah pasangan yang memutuskan hidup terpisah. BBC. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y8pjv688go
- BBC News. (2023, February 14). Is ‘separation marriage’ key to a healthy relationship? [Video]. YouTube. https://youtu.be/gMLNmc8i_fc
