Apa Itu Quiet Quitting? Kenapa Banyak Dilakukan Anak Muda?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com– Umumnya banyak orang bekerja dengan kompetitif demi naik jabatan atau naik upah. Untuk mencapai hal tersebut mereka berlomba-lomba untuk jadi yang paling produktif, paling sibuk, paling “berkontribusi.” Belum jam pulang, masih di depan laptop karena target belum selesai. Tugas sudah selesai, tapi tangan tetap tergerak untuk membantu jobdesc orang lain. 

Namun, di sisi lain, muncul kelompok orang yang memilih bekerja secukupnya. Mereka tetap menjalankan tanggung jawab, tapi tidak lagi mau memaksakan diri untuk melampaui batas jam kerja apalagi jobdesc. Fenomena ini dikenal sebagai quiet quitting.

Baca juga: Pelakor dan Patriarki: Saat Film Menyalahkan Perempuan atas Retaknya Rumah Tangga

Apa Itu Quiet Quitting?

Secara sederhana, quiet quitting adalah sikap bekerja sesuai porsi—tidak lebih, tidak kurang. Seseorang tetap hadir, tetap menyelesaikan pekerjaannya, tetapi tanpa memiliki dorongan untuk “berkorban” demi perusahaan. Tidak lagi menjadi orang pertama yang menyahut di rapat, tidak lagi menawarkan diri untuk lembur, dan tidak merasa bersalah saat waktu kerja benar-benar berakhir.

Menariknya, istilah ini sering disalahpahami sebagai diam-diam cabut atau resign. Sebab quiet quitting kalau diterjemahkan harfiah berarti “diam-diam keluar,” padahal maknanya bukan resign diam-diam. Ini bukan tentang berhenti dari pekerjaan, melainkan berhenti dari budaya kerja yang menuntut berlebihan. Bentuk perlawanan kecil terhadap sistem yang menganggap loyalitas karyawan harus diukur dari seberapa banyak waktu pribadinya dikorbankan.

Generasi Muda dan Tren Quiet Quitting

Menurut survei Gallup Global (2022–2023) yang dikutip dari Business Insider, sebanyak 59% pekerja di seluruh dunia merasa tidak terhubung secara batin di tempat kerja—mereka hadir secara fisik, tetapi tidak mau terlibat secara psikologis atau emosional. Dalam konteks ini, istilah quiet quitting menjadi representasi dari keterputusan antara pekerja dan tempat kerja.

Di Jepang, survei oleh Mynavi menemukan bahwa sekitar 45% pekerja penuh waktu, terutama dari generasi muda, menerapkan pola kerja quiet quitting. Dan di Indonesia, fenomena ini juga mulai teridentifikasi secara ilmiah. Penelitian lainnya menemukan bahwa perilaku quiet quitting dapat diukur secara psikometris di kalangan Gen Z Indonesia, menunjukkan bahwa tren ini bukan sekadar wacana media, tetapi realitas sosial yang nyata.

Mengapa Banyak Anak Muda Melakukannya?

Karena Realita Kerja Tak Seindah Janji

Sejak kecil, banyak anak muda tumbuh dengan narasi bahwa kerja keras akan membawa kesuksesan. Tetapi ketika masuk dunia kerja, kenyataannya tidak seideal itu. Gaji sering tidak sebanding dengan beban kerja, peluang naik jabatan terbatas, dan loyalitas sering kali tak dibalas.

Hal ini terlihat dalam penelitian Kartika, Gularso, & Pangaribuan (2023) di industri agency yang menunjukkan bahwa digital fatigue dan stres kerja secara signifikan memicu perilaku quiet quitting pada generasi Y dan Z. Kelelahan digital dari tuntutan komunikasi tanpa henti seperti email, pesan kantor, dan rapat daring membuat banyak pekerja memilih menarik diri secara emosional sebagai bentuk perlindungan diri.

Karena Burnout Sudah Jadi Epidemi

Generasi muda tumbuh di tengah ketidakpastian seperti pandemi global, krisis ekonomi, dan perubahan teknologi yang cepat. Semua itu menciptakan tekanan psikologis baru. Hustle culture mendorong individu untuk selalu produktif, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah lelah.

Menurut survei Mind Share Partners (2023), lebih dari 50% pekerja Gen Z melaporkan mengalami burnout dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini membuat mereka mencari keseimbangan antara karier dan kesehatan mental. Quiet quitting akhirnya menjadi salah satu jalan keluar—sebuah keputusan sadar untuk berhenti memaksakan diri demi validasi korporat.

Karena Ekonomi Tak Lagi Menghargai Loyalitas

Dulu, loyalitas pada satu perusahaan dianggap nilai luhur. Kini, banyak anak muda sadar bahwa sistem kerja modern tidak selalu loyal balik. PHK bisa datang tiba-tiba, gaji stagnan, dan kesejahteraan tak meningkat meski sudah bekerja ekstra. Akibatnya, mereka lebih rasional—bekerja sesuai kontrak, bukan berdasarkan asas kekeluargaan.

Sebuah survei dari LendingTree (2023) bahkn menunjukkan bahwa 57% pekerja yang menerapkan quiet quitting justru merasa work-life balance-nya membaik. Artinya, bagi banyak orang, berhenti “berkorban” bukan bentuk kemalasan, tetapi strategi menjaga kewarasan.

Karena Mereka Lebih Berani Menolak Eksploitasi

Generasi sebelumnya sering bangga bisa lembur atau bekerja tanpa henti. Generasi sekarang justru berani berkata “tidak.” Mereka menolak diukur dari berapa lama waktu yang dihabiskan di depan layar, dan mulai menuntut sistem kerja yang manusiawi.

Dalam perspektif sosial, quiet quitting bisa dibaca sebagai bentuk kesadaran kelas baru di kalangan pekerja muda. Mereka sadar sedang berada dalam sistem yang cenderung mengekstraksi tenaga tanpa imbalan setara, dan memilih untuk tidak ikut permainan itu.

Baca juga: Misandri Bukan Lawan dari Misogini, dan Feminisme Bukan Balas Dendam

Apa Dampaknya Bagi Perusahaan?

Perusahaan juga mulai merasakan dampaknya seperti inovasi menurun, ide baru jarang muncul, karena banyak karyawan memilih melakukan tugas minimum dan menahan diri. Dan secara makro, produktivitas global bisa kehilangan triliunan dolar karena fenomena ini. 

Namun di sisi lain, quiet quitting juga bisa dibaca sebagai kritik sosial yang penting. Ia menggugat romantisasi loyalitas pekerja terhadap perusahaan. Banyak perusahaan menuntut dedikasi total tanpa memberikan kompensasi sepadan. Maka ketika generasi muda memilih untuk bekerja secukupnya, mereka sebenarnya sedang menolak ekspektasi eksploitatif itu.

Kenyataan bahwa quiet quitting dianggap “masalah” justru memperlihatkan bagaimana budaya kerja masih belum seimbang. Perusahaan berharap karyawan terus memberi lebih, sementara mereka sendiri belum memperbaiki sistem penghargaan dan kesejahteraan.

Fenomena ini seharusnya mendorong perusahaan untuk mengevaluasi ulang cara mereka memperlakukan pekerja. Tetapi tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan perusahaan. Pemerintah juga memiliki peran penting untuk memastikan kebijakan ketenagakerjaan mampu melindungi kesejahteraan pekerja muda. 

Regulasi tentang jam kerja, hak cuti, hingga standar upah perlu disesuaikan dengan realitas baru dunia kerja yang semakin menuntut fleksibilitas dan keseimbangan hidup. Tanpa dukungan kebijakan yang berpihak pada pekerja, fenomena quiet quitting hanya akan menjadi gejala berulang dari sistem yang gagal menjamin kerja manusiawi.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Ulas Konten Anak Lewat Screen Score

SIRCLO Dukung Penguatan Peran Perempuan dalam Ekonomi Keluarga Hingga Nasional

Kisah Perempuan Adat Serawai : 30 Tahun Menggantungkan Periuk dari Remis 

Leave a Comment