Bincangperempuan.com– “Ya ampun, masih mending kamu. Banyak kok yang hidupnya lebih susah.”
B-pers pasti pernah dengar kalimat semcam ini memang ajakan untuk bersyukur. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, ini adalah bentuk lain dari toxic positivity—dorongan untuk selalu berpikir positif secara berlebihan, bahkan saat seseorang sedang butuh ruang untuk merasa sedih, marah, atau takut.
Ironisnya, toxic positivity justru sering muncul dari orang-orang terdekat: teman, pasangan, bahkan keluarga. Biasanya, kalimat ini keluar saat seseorang sedang memberanikan diri untuk terbuka. Bukannya dipeluk secara emosional, yang keluar justru nasihat kosong seperti, “Bersyukur aja, masih banyak yang di bawah kamu.”
Masalahnya, rasa syukur tidak menyembuhkan luka mental. Dan dibanding-bandingkan dengan penderitaan orang lain bukanlah bentuk empati.
Positive Thinking vs. Toxic Positivity
Positive thinking adalah sikap realistis yang tetap mampu melihat peluang dalam situasi sulit. Sebaliknya, toxic positivity adalah sikap menolak kenyataan emosional dan menggantinya dengan kalimat klise seperti, “semua akan baik-baik saja” atau “jangan sedih, banyak yang lebih susah.”
Dina Haya Sufya, seorang akademisi di bidang psikologi, dalam wawancaranya dengan RRI menjelaskan bahwa berpikir positif itu sehat, selama tidak menekan emosi negatif. Emosi seperti sedih, kecewa, atau marah perlu diakui dan diproses terlebih dahulu sebelum diarahkan ke hal-hal yang membangun.
“Setelah emosi divalidasi, barulah kita mencoba memperbaiki perasaan tersebut dengan aktivitas positif,” ujarnya. Jika emosi negatif terus ditekan tanpa validasi, justru dapat memunculkan gejala psikis lain seperti tubuh gemetar, kelelahan emosional, bahkan ledakan emosi.
Pentingnya Validasi Emosional
Setiap orang punya kapasitas mental yang berbeda. Sesuatu yang terasa ringan bagi seseorang, bisa jadi sangat berat bagi orang lain, tergantung pengalaman hidup, trauma, kondisi ekonomi, hingga tingkat kepekaan.
Saat seseorang curhat, lalu ditanggapi dengan, “Masih mending kamu,” yang terjadi sebenarnya adalah pengabaian emosional. Alih-alih merasa didengarkan, mereka justru merasa bersalah karena punya perasaan.
Logikanya mirip dengan ini: “Kamu nggak boleh sedih karena ada orang yang lebih sedih dari kamu,” tetapi tak pernah ada yang bilang: “Kamu nggak boleh bahagia karena ada orang yang lebih bahagia dari kamu.” Maka, mengapa kesedihan justru sering dibandingkan?
Validasi emosional bukan berarti membenarkan semua perasaan, tapi mengakui bahwa perasaan itu nyata dan sah. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psikoborneo (2021), invalidasi emosi terbukti memiliki dampak negatif signifikan terhadap kesejahteraan psikologis seseorang.
Penelitian tersebut melibatkan 266 responden laki-laki dan perempuan usia 18–29 tahun di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat invalidasi emosi yang diterima seseorang, semakin rendah tingkat kesejahteraan psikologisnya. Sebaliknya, dukungan sosial dan validasi emosi berpengaruh besar dalam menjaga kesehatan mental.
Baca juga: Membandingkan LC dan Istri, Kemunafikan yang Berakar dari Patriarki
Beban Mental Itu Nyata
Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan ketangguhan. Harus kelihatan kuat, sabar, tetap produktif, dan selalu bersyukur walau batin menjerit.
Ketika seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau krisis, sering kali bukannya ditanya “Mau dipeluk atau mau diam dulu?”, tapi justru dilabeli kurang iman, drama, atau lemah.
Padahal, gangguan kesehatan mental bukan persoalan sepele. Data WHO (2022) menunjukkan bahwa satu dari lima orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau trauma. Namun hanya sebagian kecil yang mengakses bantuan profesional karena stigma dan minimnya kesadaran.
Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Teman Curhat?
Kadang yang dibutuhkan seseorang bukanlah solusi, tapi kalimat sederhana seperti:
“Mau cerita lebih banyak nggak?”
“Aku dengerin ya.”
“Itu pasti berat. Kamu nggak sendirian.”
Mendengarkan adalah bentuk perlawanan terhadap budaya toxic positivity. Memberi ruang bagi orang lain untuk jujur terhadap emosinya bukan berarti mendorong mereka semakin terpuruk, tapi memberi validasi bahwa merasa tidak baik-baik saja itu manusiawi.
Namun, tidak semua orang bisa jadi pendengar yang baik, dan itu wajar. Mendengarkan dengan empati membutuhkan energi emosional. Apalagi jika kita terus mendengar keluhan yang sama berulang kali, itu bisa melelahkan. Maka penting juga untuk menetapkan batas.
Kita boleh berkata:“Aku ingin bantu, tapi aku takut salah respon. Gimana kalau kita cari bantuan bareng?” Karena meskipun kehadiran teman itu penting, peran psikolog, konselor, atau psikiater tetap sangat krusial. Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan pelukan atau saran.
Baca juga: It Ends With Us: Perjuangan Melawan KDRT dan Memutus Trauma
Saatnya Menormalisasi Pergi ke Psikolog
Jika seseorang merasa tenggelam dalam pikirannya sendiri, itu bukan kelemahan. Dan jika seseorang mengajakmu curhat, itu bukan undangan untuk menghakimi. Jangan buru-buru bilang, “Masih banyak yang lebih susah dari kamu.” Karena kenyataannya, kesedihan tidak bisa diperingkatkan. Mendengar dan memahami jauh lebih bermakna dibanding menyuruh orang segera bersyukur.
Dan kalau kamu sendiri sedang tidak baik-baik saja, datang ke psikolog bukan tanda lemah—tapi langkah berani untuk menjaga diri.
Referensi:
- Estevania, T., Fransisca, F., Loe, C., & Hutapea, B. (2024). Invalidasi emosi dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis pada emerging adulthood. Psikoneo, 6(1), 11–24. https://e-journals.unmul.ac.id/index.php/psikoneo/article/viewFile/16160/pdf
- Sitinjak, C. (2025, Januari 24). Perbedaan positive thinking dan toxic positivity, pentingnya validasi emosi. RRI Riau. https://www.rri.co.id/riau/kesehatan/1242044/perbedaan-positif-thinking-dan-toxic-positivity-pentingnya-validasi-emosi
- World Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response

Terima kasih sudah berbagi tulisan yang bermanfaat. Penjelasannya mudah dipahami dan sangat membuka wawasan saya. Sukses terus untuk blog ini!