Membandingkan LC dan Istri, Kemunafikan yang Berakar dari Patriarki

Ais Fahira

Opini

Membandingkan LC dan Istri, Kemunafikan yang Berakar dari Patriarki

Bincangperempuan.com- Belakangan, di X sempat ramai diskusi tentang perbandingan antara Lady Companion (LC) dan istri. Salah satu cuitan yang menimbulkan perdebatan berbunyi begini:

“LC menyambut tamu: mau minum apa om, capek ya aku pijitin ya… Istri menyambut suami: kok telat pulangnya, mampir kemana, ganti tabung gas sana 

Gak semua istri bgitu, tapi semua LC begitu”

Sekilas terdengar seperti guyonan receh—tapi di baliknya, ada masalah yang jauh lebih dalam, yaitu kemunafikan sosial yang lahir dari logika patriarkal. Cuitan ini tidak hanya menyederhanakan dinamika rumah tangga dan beban domestik, tapi juga menormalisasi penggunaan jasa LC sebagai pelarian sah dari suami yang “tidak mendapatkan pelayanan ideal di rumah.”

Padahal, LC dan istri hidup di dua dunia yang berbeda, dengan tuntutan dan tekanan yang sama beratnya.

LC: Kerja Lembur yang Dijual sebagai Keintiman

Lady Companion, atau biasa disebut LC, adalah profesi di dunia hiburan malam. Mereka dituntut untuk selalu tampil menarik, ramah, dan menyenangkan demi menemani tamu yang mayoritas laki-laki, dalam ruang yang penuh ekspektasi maskulin. Banyak yang tidak menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar “menemani,” tetapi merupakan kerja emosional yang sangat intens.

Seorang LC harus terus tersenyum meski lelah, mendengarkan cerita yang membosankan, dan bahkan berpura-pura tertarik demi tips dan “repeat order.” Ini adalah performa yang berulang setiap malam dan penuh tekanan psikologis.

Bahkan dalam sebuah penelitian mengenai LC di Yogyakarta, menemukan bahwa LC menggunakan zat kimia untuk menjaga stamina dan penampilan agar tetap sesuai ekspektasi tamu—mulus, seksi, enerjik. Ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan dalam profesi ini dijadikan alat produksi yang harus selalu siap dijual.

Lebih jauh lagi, sebuah penelitian yang dilakukan di industri Karaoke TV (KTV) Surabaya menggambarkan relasi kuasa yang sangat timpang antara manajemen, pelanggan, dan LC. Dalam relasi ini, tubuh LC bukan hanya dikontrol tetapi dikomodifikasi menjadi objek hiburan semata yang harus mematuhi standar ideal versi pelanggan dan atasan.

Manajemen memiliki kuasa untuk “menyediakan” perempuan muda yang sesuai dengan permintaan tamu, lengkap dengan aturan soal pakaian ketat, dandanan mencolok, dan gestur menggoda. Kekuasaan ini membuat pekerjaan sebagai LC sangat rentan terhadap pelecehan dan eksploitasi. LC kerap tidak bisa menolak perlakuan yang melecehkan karena takut kehilangan pekerjaan. Posisi mereka benar-benar rentan dan tidak setara.

Namun sayangnya, pekerjaan ini justru sering mendapat stigma sosial. LC dianggap perempuan “rendahan” atau “murahan,” padahal sistemlah yang menciptakan kebutuhan akan pekerjaan ini. Ironisnya, laki-laki yang menggunakan jasa mereka nyaris tidak pernah dicela. Malahan yang disalahkan selalu perempuannya.

Baca juga: “Ani-ani” dan Keresahan Masyarakat atas Kesuksesan Perempuan

Istri: Kerja Nyata yang Tak Dianggap Kerja

Berbeda dari LC, istri—terutama yang menjadi ibu rumah tangga—menanggung beban ganda berupa kerja domestik dan pengasuhan. Ironisnya, seluruh pekerjaan ini tidak hanya tidak digaji, tetapi juga tidak diakui sebagai kerja yang sesungguhnya. Masih banyak orang yang menganggap ibu rumah tangga “tidak bekerja,” padahal mereka bekerja nyaris tanpa henti, seumur hidupnya.

Berdasarkan laporan Investing in Women (2023), perempuan di Indonesia menghabiskan 2,8 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan dibanding laki-laki. Rata-rata, perempuan bekerja selama 11,8 jam per hari jika semua jenis kerja (berbayar dan tak berbayar) dihitung. Sementara laki-laki hanya 8,2 jam per hari.

Di banyak rumah, istri dituntut bangun paling pagi, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, mengurus anak, dan tetap menjaga sikap yang menyenangkan terhadap suami. Tak hanya itu, mereka juga diharapkan tetap tampil menarik, wangi, dan tidak mengeluh. Seolah-olah, menjadi istri adalah menjadi pusat layanan 24 jam yang siap kapan saja, tanpa jeda, tanpa kompensasi.

Logika Patriarki: Mau Dilayani, Tak Mau Setara

Perbandingan antara LC dan istri bukan cuma misoginis—tapi juga membongkar betapa laki-laki dibesarkan dalam sistem yang membuat mereka merasa berhak untuk selalu dilayani. Mau istri di rumah atau LC di luar, yang penting perempuan harus manis, penurut, tidak bertanya banyak, dan selalu siap melayani atau menghibur.

Cuitan viral itu adalah bentuk kecil dari sistem yang lebih besar bahwa patriarki yang mengobjektifikasi perempuan dan memecahnya menjadi dua kategori—“istri cerewet di rumah” dan “perempuan ideal di luar”. Padahal keduanya sama-sama bekerja keras, sama-sama butuh dihargai, dan sama-sama manusia, bukan properti.

Baca juga: Misha Atika, Pelestari Padi Kuning dan Tradisi Perempuan Memanen Secara Bergotong-royong

Jangan Bandingkan LC dengan Istri. Bandingkan Beban Sosialnya.

LC bukan istri, istri bukan LC. Tapi keduanya perempuan yang hidup dalam masyarakat yang terlalu gampang menilai, tapi enggan memahami. Ketika LC dianggap rendah karena menjual jasa, dan istri dianggap gagal karena tak bisa terus melayani, maka masalahnya bukan pada mereka—tapi pada standar ganda yang dipaksakan pada tubuh dan peran perempuan.

Masyarakat ini ingin perempuan selalu melayani, di mana pun mereka berada. Tapi ketika perempuan bicara, menolak, atau bahkan sekadar lelah—mereka langsung disalahkan. Sudah waktunya berhenti menyalahkan perempuan dalam segala posisi. Entah mereka memilih menjadi LC, atau memilih menjadi istri rumah tangga, keduanya layak dihargai sebagai manusia. Bukan sebagai properti yang dibanding-bandingkan berdasarkan standar laki-laki.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kisah Keadilan Gender dari Wartawan Perempuan di Wilayah Asia-Pasifik

Kata Influencer: “Kuliah itu Scam?”

Self Love I Choose Myself

Self Love: I Choose Myself

Leave a Comment