Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu sedang dalam percakapan yang seru, menceritakan pencapaian atau keluh kesahmu dengan antusias, tetapi lawan bicaramu justru asyik menunduk menatap layar ponsel? Rasanya seperti berbicara dengan tembok, bukan? Nah, perilaku mengabaikan lawan bicara karena sibuk dengan layar ponsel ini disebut phubbing.
Perilaku phubbing, sering membuat orang yang kena dampaknya merasa kesal dan diabaikan. Tindakan itu seakan memberi pesan bahwa dunia di genggamannya jauh lebih penting daripada sosok manusia yang sedang meluangkan waktu duduk bersamanya
Menelusuri Jejak Istilah Phubbing
Mungkin banyak yang mengira istilah ini muncul secara organik dari media sosial, tapi asal mulanya justru berawal dari sebuah strategi kreatif di Australia. Istilah phubbing pertama kali diperkenalkan pada tahun 2007 dan mulai mencuat ke permukaan melalui kampanye periklanan yang dipromosikan oleh Macquarie Dictionary.
Titik balik popularitas istilah ini terjadi pada Mei 2012. Sebuah agensi periklanan yang berbasis di Melbourne meluncurkan kampanye untuk memerangi perilaku buruk ini. Mereka bahkan mengundang para ahli bahasa, penulis, hingga penyair untuk menciptakan satu kata yang bisa mendeskripsikan perilaku “mengabaikan orang demi ponsel”.
Dari diskusi kreatif itulah lahir kata phubbing, sebuah gabungan kata dari phone (telepon) dan snubbing (menghina/mengabaikan). Kampanye bertajuk “Stop Phubbing” yang digagas oleh McCann kemudian membawa istilah ini mendunia dan menjadikannya bagian dari kosakata modern kita untuk mengkritik ketergantungan pada gawai dalam situasi sosial.
Baca juga: Whataboutism: Ketika Kekerasan Struktural Direduksi Jadi Ajang Adu Penderitaan
Mengapa Kita Menormalisasikannya?
Meski terasa menyebalkan, anehnya phubbing kini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam komunikasi modern. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Dalam dinamika sosial, kita cenderung meniru atau membalas perilaku orang lain. Ketika seseorang melakukan phubbing kepada kita, sering kali kita merasa canggung atau diabaikan. Untuk menutupi rasa tidak nyaman tersebut, kita secara otomatis mengeluarkan ponsel kita sendiri. Inilah yang disebut resiprositas perilaku.
Ketika tindakan ini dilakukan secara berulang oleh banyak orang, phubbing akhirnya berubah menjadi kebiasaan dan norma sosial baru. Kita mulai berpikir, “Ah, dia juga main HP, jadi tidak apa-apa kalau aku juga main HP.” Perlahan tapi pasti, kualitas koneksi antarmanusia pun tergerus.
Apa Kata Riset Terbaru Soal Ini?
Ternyata, perilaku phubbing juga memiliki penjelasan ilmiah di baliknya. Sebuah studi terbaru dari Mento dkk. (2025) mencoba membedah fenomena ini lebih dalam. Mereka menggunakan dua alat ukur, yaitu Generic Scale of Phubbing (GSP) dan Generic Scale of Being Phubbed (GSBP), untuk memotret pengalaman kita saat menjadi pelaku maupun korban.
Dari hasil riset tersebut, terungkap ada empat faktor utama yang bikin seseorang jadi “tukang phubbing“:
- Nomophobia: Ini adalah rasa cemas atau ketakutan berlebih kalau jauh dari ponsel. Jadi, memegang HP sudah jadi semacam refleks untuk menenangkan diri.
- Konflik Interpersonal: Kadang kita main HP bukan karena membalas pesan penting, tapi karena lagi ada masalah atau merasa nggak nyaman dengan orang di depan kita. Akhirnya, HP jadi tempat “pelarian” yang paling mudah.
- Isolasi Diri: Adanya keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sekitar dan lebih memilih asyik di dunianya sendiri.
- Kesadaran akan Masalah: Ini berkaitan dengan sejauh mana seseorang sadar (atau justru tidak sadar) bahwa dirinya punya masalah dalam mengontrol diri saat menggunakan gawai.
Intinya, riset ini memperingatkan bahwa phubbing adalah tanda kuat kalau kita mulai mengalami “keterputusan sosial”. Ironisnya, semakin sering kita melakukan phubbing supaya merasa tetap “eksis” di internet, malah semakin besar peluang kita merasa terasing dan kesepian di kehidupan nyata. Secara klinis, alat ukur tadi sangat membantu untuk mendeteksi masalah psikologis, seperti kecanduan internet atau isolasi sosial, yang sering kali kita sembunyikan rapat-rapat di balik layar ponsel.
Baca juga: Menggugat Kinerja Satgas: Mengapa Kampus Masih Gagap Tangani Kekerasan Seksual?
Dampaknya Terhadap Hubungan Kita
Tentu saja, phubbing punya dampak yang signifikan bagi kualitas sebuah hubungan. Ketika kita lebih memprioritaskan ponsel daripada berinteraksi dengan teman bicara, secara tidak langsung kita sedang menanam benih rasa dikucilkan dan diabaikan.
Dampak psikologis dari phubbing nyatanya jauh lebih dalam daripada sekadar rasa terasing. Misalnya dalam hubungan. kepercayaan antar pasangan perlahan bisa luntur karena salah satu pihak merasa tidak lagi menjadi prioritas utama. Kurangnya koneksi emosional yang nyata juga berisiko memicu kecemasan hingga depresi, yang pada akhirnya membuat hubungan terasa hambar, mekanis, dan menurunkan tingkat kepuasan batin.
Ditambah lagi dengan kualitas komunikasi yang kian memburuk—di mana pesan sering kali gagal tersampaikan dengan utuh—berbagai dampak negatif ini ujung-ujungnya hanya akan melahirkan kesalahpahaman, pertengkaran, hingga rasa cemburu yang makin memperkeruh keharmonisan bersama pasangan.
Memutus Rantai Phubbing
Mengetahui bahwa phubbing bisa merusak kualitas hubungan dan kesehatan mental, sudah saatnya kita lebih sadar akan kehadiran penuh (mindfulness) saat berinteraksi. Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok yang memisahkan.
Mengatasi phubbing butuh langkah yang proaktif. Salah satu strategi yang paling ampuh adalah dengan mulai mengutamakan interaksi tatap muka dan mengurangi ketergantungan pada komunikasi digital. Dengan terlibat aktif saat mengobrol dan memberikan contoh yang positif, kita secara tidak langsung mendorong orang lain untuk ikut meletakkan ponsel mereka dan fokus pada pembicaraan yang sedang berlangsung.
Lain kali, saat kamu duduk bersama teman atau keluarga, cobalah untuk meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, atau lebih baik lagi, simpan di dalam tas. Menghargai orang di depan kita bukan hanya soal sopan santun, tapi juga menjaga koneksi yang nyata.
Referensi:
- Mento, C., Silvestri, M. C., Lombardo, C., Rizzo, A., Turiaco, F., Muscatello, M. R. A., & Presaghi, F. (2025). Phubbing and phubber behavior: A new perspective in clinical psychological assessment. AIMS public health, 12(3), 716–734. https://doi.org/10.3934/publichealth.2025037Â
- Resilience Lab. (n.d.). Phubbing. Thought Lab.https://www.resiliencelab.us/thought-lab/phubbing
