Bincangperempuan.com- B’Pers pernahkah kamu memperhatikan penyanyi atau idola yang kerap tampil di layar televisi atau ponsel? Kebanyakan dari mereka memiliki bentuk tubuh menyerupai jam pasir dengan torso panjang, pinggang ramping, dan kaki jenjang. Banyak pula dari mereka yang menari dengan lincah sehingga terlihat menarik. Didukung dengan struktur wajah yang simetris dan kulit yang cerah.
Semakin sering kita melihat tipe tubuh seperti itu, tanpa disadari kita mulai membandingkan tubuh kita sendiri dengan standar kecantikan yang tampil di layar. Fenomena ini disebut body dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap tubuh.
Apa itu Body Dissatisfaction?
Body dissatisfaction merujuk pada sikap negatif atau perasaan tidak puas terhadap penampilan fisik. Karena dipengaruhi oleh tekanan sosial, ekspektasi budaya, serta paparan media yang kerap merepresentasikan standar tubuh ideal. Akibatnya seseorang mengalami kesenjangan antara citra tubuh aktual (actual body image) dengan gambaran tubuh ideal yang diinginkan.
Misalnya, kamu kamu memiliki tipe tubuh yang tidak sesuai dengan standar kecantikan yang sering ditampilkan di media—seperti tubuh yang kurus, tinggi, berkulit cerah, atau berperut rata. Tetapi kamu terus-menerus merasa kalau tubuhmu jauh dari gambaran ideal itu. Kamu jadi membandingkan diri dengan orang lain, merasa kurang menarik, atau bahkan merasa malu dengan bagian-bagian tubuh tertentu.
Perasaan ini bisa muncul sejak usia remaja dan berlangsung hingga dewasa. Ketidakpuasan tubuh ini juga tidak hanya dialami oleh siapa saja, baik perempuan, laki-laki mau pun non-biner.
Baca juga: Kenapa Angka Kelahiran Menurun Belakangan Ini?
Mengapa Media Sosial dapat Memicu Body Dissatisfaction?
Di era digital saat ini, media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi tubuh. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube, kita kerap disuguhi konten yang menampilkan tubuh-tubuh “sempurna” — tak hanya dalam bentuk video kebugaran atau “What I Eat in a Day”, tetapi juga dari hal-hal yang tampaknya biasa saja misalnya video dance sederhana dengan gerakan ringan, unggahan outfit harian, hingga konten iseng seperti membagikan tinggi dan berat badan sambil tersenyum percaya diri.
Konten semacam ini kelihatannya harmless, tapi tetap membawa pesan visual yang kuat tentang standar tubuh ideal. Bahkan tanpa niat memberi tekanan, tubuh-tubuh yang ditampilkan tetap menjadi tolok ukur diam-diam. Ketika tubuh kurus, tinggi, berkulit cerah, atau tampak proposional sering muncul di linimasa, persepsi tentang tubuh “normal” dan “menarik” ikut bergeser.
Ditambah lagi, algoritma media sosial memperkuat eksposur terhadap tipe konten serupa, membuat standar kecantikan tersebut terasa semakin wajar dan “seharusnya.” Semakin visual seseorang sesuai dengan standar kecantikan jumlah like dan view semakin banyak. Sebaliknya mereka yang kurang sesuai dengan visual standar kecantikan, kurang mendapat perhatian, kecuali membuat penampilan atau konten semenarik mungkin.
Padahal, banyak tampilan visual itu adalah hasil dari proses panjang—baik karena genetik, filter digital, atau bahkan intervensi medis. Meski tidak semua konten dimaksudkan untuk menekan, eksposur konstan bisa membuat pengguna secara tanpa sadar membandingkan tubuh mereka sendiri dengan apa yang mereka lihat.
Perbandingan inilah yang memicu body dissatisfaction—perasaan tidak puas terhadap bentuk tubuh sendiri karena merasa tidak sesuai dengan “standar” yang terbentuk di media sosial. Dan perasaan ini tidak selalu datang dari kritik langsung, tapi sering muncul secara halus, lewat komentar dari orang lain, jumlah likes, atau pujian semata pada bentuk tubuh tertentu.
Baca juga: Benarkah Laki-Laki Hidup Lebih Singkat? Ini Penjelasannya!
Apa Dampaknya?
Body dissatisfaction bukan sekadar perasaan tidak puas terhadap penampilan. Dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan, seperti:
- Kesehatan mental: Meningkatkan risiko kecemasan, stres, hingga depresi.
- Gangguan makan: Sebuah studi menunjukkan bahwa orang dengan body dissatisfaction, lebih berpotensi mengalami anoreksia, bulimia, atau gangguan makan. Gangguan ini menyebabkan seseorang terus-menerus merasa telah makan berlebihan, sehingga ada rasa cemas bahkan muntah-muntah setelah makan.
- Harga diri rendah: Merasa tidak layak atau tidak cukup baik.
- Pembatasan sosial: Enggan berpartisipasi dalam aktivitas sosial karena merasa malu terhadap tubuh sendiri.
- Obsesi terhadap tubuh: Mengejar bentuk tubuh ideal dengan cara-cara ekstrem, seperti diet ketat dengan mengurangi makanan dalam jumlah sedikit. Atau olahraga kompulsif tanpa mengetahui batasan tubuh.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak jangka panjang terhadap kondisi fisik dan mental seseorang.
Bagaimana Jika Mengalaminya?
Jika kamu mulai merasa terjebak dalam pola pikir membandingkan tubuh sendiri dengan standar yang ada di media, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Menerima Keunikan Tubuh Sendiri
Setiap tubuh memiliki karakteristik unik yang tidak harus sesuai dengan standar kecantikan media. - Mengkurasi Konsumsi Media
Pilih untuk mengikuti akun-akun yang mempromosikan keberagaman tubuh dan pesan positif tentang tubuh. Hindari akun yang membuat kamu merasa rendah diri. - Menghargai Fungsi Tubuh, Bukan Hanya Bentuknya
Fokus pada kemampuan tubuh untuk bergerak, berkreasi, dan beraktivitas, bukan hanya pada penampilannya. - Mencari Bantuan Profesional
Jika body dissatisfaction mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau terapis yang berpengalaman dalam isu citra tubuh.
Jadi, penting buat kamu ingat kalau tubuhmu itu berharga, bukan karena sesuai standar kecantikan yang sering muncul di media, tapi karena tubuh ini yang menemani kamu menjalani hidup, merasakan suka duka, dan bertumbuh sampai hari ini.
Punya keinginan untuk berubah adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai kamu merasa tidak cukup karena bentuk tubuhmu berbeda dari yang sering kamu lihat di layar. Nilai diri kamu tidak ditentukan oleh ukuran pinggang atau berat badan. Yuk, mulai hargai tubuh sendiri—bukan karena orang lain bilang begitu, tapi karena kamu layak merasa cukup dan dicintai, apa adanya.
Referensi:
- Heider, N., Spruyt, A., & De Houwer, J. (2018). Body dissatisfaction revisited: On the importance of implicit beliefs about actual and ideal body image. Psychologica Belgica, 57(4), 158–173. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6194529/
- Quittkat, H. L., Hartmann, A. S., Düsing, R., Buhlmann, U., & Vocks, S. (2019). Body dissatisfaction, importance of appearance, and body appreciation in men and women over the lifespan. Frontiers in Psychiatry, 10, 864. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6928134/
