Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah kamu mendengar anggapan bahwa kodrat perempuan adalah diam dan menunggu didekati? Kalimat seperti “perempuan itu kodratnya menunggu, laki‑laki yang harus mengejar” sudah sangat lazim kita temui dalam kehidupan sehari‑hari. Bahkan, pandangan ini diwariskan dari generasi ke generasi dari mulut nenek kita, ibu kita, sampai masuk ke akun‑akun motivasi yang berkedok memberdayakan perempuan, tetapi nyatanya masih menjunjung tinggi pola pikir lama, bahwa perempuan harus sabar, pasif, menjaga kesopanan, dan tidak boleh duluan mengungkapkan perasaan. Alasannya? Karena kalau perempuan bergerak duluan, dianggap terlalu agresif, terlalu berani, dan katanya, “mengurangi harga diri.”
Salah satu narasi yang sering dipakai untuk membenarkan pandangan ini datang dari analogi biologis yang sebenarnya keliru. “Sel telur saja diam menunggu, masa perempuan yang ngejar duluan?”
Kalimat ini sering dilontarkan seolah-olah memiliki pembenaran ilmiah. Seolah‑olah karena sel telur menunggu sperma, maka sudah hukum alam bahwa perempuan tidak boleh menunjukkan ketertarikan duluan. Namun, mari kita luruskan. Klaim ini adalah bentuk penyederhanaan biologis yang keliru dan sayangnya dipelihara terus-menerus oleh norma patriarki.
Baca juga: Salah Kaprah tentang Patriarki: Benarkah Peran Domestik adalah Penindasan?
Miskonsepsi Kodrat Biologis
Masyarakat sering memakai tubuh perempuan sebagai pembenaran norma sosial yang timpang. Salah satu contohnya: narasi bahwa sel telur (ovum) bersifat pasif, hanya menunggu “dikejar” sperma seperti dongeng romantis biologis yang sudah ketinggalan zaman.
Padahal, sains berbicara lain, penelitian terbaru dari Stockholm University menunjukkan bahwa sel telur tidak pasif sama sekali. Dalam proses pembuahan, ovum mengeluarkan zat kimia yang disebut chemoattractants, yang berfungsi menarik sperma tertentu berdasarkan kecocokan biologis dan genetik (Fitzpatrick et al., 2020). Artinya, tubuh perempuan secara alami memiliki mekanisme untuk memilih. Bukan cuma duduk manis dan menunggu pangeran datang.
Penelitian tersebut bahkan menunjukkan bahwa sel telur bisa “lebih menyukai” sperma dari pasangan tertentu dibandingkan sperma dari pria lain. Jadi, tubuh perempuan punya selektivitas, bukan asal ditaklukkan. Ia punya peran aktif dalam menentukan siapa yang layak masuk dan siapa yang ditolak.
Temuan ini membantah mentah-mentah anggapan bahwa perempuan, secara biologis, harus diam dan bersikap pasif. Kalau sel telur saja bisa memilih, kenapa kita justru melarang pikiran dan hati perempuan untuk melakukan hal yang sama?
Baca juga: Kesetaraan Gender dalam Iklan: Dari Dapur hingga Panjat Tebing
Keberanian yang Melampaui Gender
Kejujuran terhadap perasaan sendiri adalah bentuk keberanian yang layak dihargai bukan dijadikan bahan olok-olok, apalagi jika yang melakukannya adalah perempuan. Sayangnya, masyarakat masih sering kali memandang sebelah mata perempuan yang melakukan first move. Seolah-olah inisiatif untuk menyatakan cinta hanya sah jika datang dari laki-laki. Padahal, jika kita tarik esensinya, menyatakan perasaan bukan soal siapa yang lebih berhak, tapi siapa yang lebih berani untuk jujur.
Jika tubuh kita tahu apa yang diinginkannya, mengapa kita justru diajari untuk menyangkalnya? Menyatakan perasaan tidak membuat seseorang terlalu agresif atau tidak tahu malu. Melainkan itulah bentuk gentleness yang sesungguhnya. Tidak ada alasan masuk akal untuk merendahkan perempuan yang menyatakan cinta lebih dulu. Yang seharusnya kita ajarkan adalah bagaimana tetap menghargai diri sendiri dalam prosesnya.
Namun, sebelum menyatakan perasaan, penting juga untuk menetapkan tujuan dengan jernih. Apakah kita ingin sekadar menunjukkan rasa kagum atau menyampaikan ketertarikan yang mendalam? Apakah kita siap menghadapi kemungkinan ditolak tanpa meruntuhkan harga diri kita? Menyatakan cinta bukan tentang mengharapkan balasan mutlak, tapi tentang memberi ruang bagi kejujuran untuk hadir apa pun hasilnya.
Jadi, kalau kamu ingin menyatakan perasaan lebih dulu, lakukan dengan kepala tegak. Bukan karena kamu putus asa, tapi karena kamu berani. Bukan karena kamu tidak tahu malu, tapi karena kamu tahu apa yang kamu mau.
Menebus Biologi dan Merombak Narasi
Kita sudah terlalu lama dibohongi narasi biologis yang digunakan untuk merendahkan perempuan. Padahal tubuh perempuan dalam riset sains paling mutakhir adalah sistem yang aktif, responsif, dan penuh kecerdikan kimiawi. Menyatakan perasaan adalah bentuk kesinambungan antara tubuh dan kesadaran diri.
Perempuan yang mengungkap perasaan bukan agresif. Tetapi karena tidak mau menunggu terlalu lama atas sesuatu yang ia bisa usahakan sebagai bentuk kebebasan.
Berani, Setara, dan Jujur
Perempuan atau siapapun yang mengungkap rasa bukan egois, bukan agresif—melainkan adalah bentuk kejujuran dan kebebasan ekspresi diri. Norma “kodrat diam dan menunggu” sudah usang. Mari hadapi perasaan dengan risiko, tapi juga dengan harga diri lebih baik menyatakan daripada meracuni hati dengan penyesalan. Jadi ketika kamu menyatakan perasaan duluan, kamu berani. Kalau ditolak, kamu kuat ngadepinnya. Itu kualitas, bukan kelemahan.
Referensi:
- Fitzpatrick, J. L., Almbro, M., Gonzalez, D., Hamada, H., Hunter, H. R., & Wigby, S. (2020). Chemical signals from eggs facilitate cryptic female choice in humans. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 287(1925), 20201850. https://doi.org/10.1098/rspb.2020.1850
- Live Science. (2025, July 12). The choice of sperm is entirely up to the egg—so why does the myth of racing sperm persist? Retrieved from https://www.livescience.com/health/fertility-pregnancy-birth/the-choice-of-sperm-is-entirely-up-to-the-egg-so-why-does-the-myth-of-racing-sperm-persist
