Bra Busa dan Hip Pads: Antara Ekspresi Diri atau Tudingan Cari Perhatian?

Ais Fahira

News

Bra Busa dan Hip Pads Antara Ekspresi Diri atau Tudingan Cari Perhatian

Bincangperempuan.com- Percakapan semacam ini seringkali muncul di kolom komentar media sosial, terutama idol K-pop perempuan yang tengah tampil di atas panggung dengan outfit ketat, seperti celana jeans atau dress body fit. Banyak yang menduga sang idol memakai hip pads (bantalan pinggul tambahan) agar terlihat lebih “curvy”. Tapi tak sedikit juga yang langsung membela dan bilang bahwa itu murni bentuk tubuhnya, hasil genetik, atau latihan keras.

Dari perdebatan receh tersebut, kita bisa melihat pola bahwa sesama perempuan bisa saling menjatuhkan hanya karena tubuh dan cara tampil perempuan lain. Tidak hanya idol, bahkan perempuan biasa juga tak luput dari celotehan dan komentar pedas soal tubuh mereka.

“Ngapain sih pake bra busa? Biar kelihatan gede?”
“Lah, udah gede gitu kok masih pake busa? Centil amat.”
“Nggak pake bra ya? Kok meleyot.”

Seolah-olah tubuh perempuan itu bukan milik dirinya, tapi objek konsumsi publik yang bebas dinilai, dikomentari, bahkan diawasi. Dan ironisnya, komentar-komentar pedas itu justru datang dari sesama perempuan.

Baca juga: Benarkah Kita Harus Mencuci Pembalut Sekali Pakai?

Ketika Penampilan Perempuan Dikaitkan dengan Laki-laki

Ketika perempuan memakai lipstik merah atau pakaian terbuka, kebanyakan orang mengira perempuan tersebut sedang mencari perhatian. Ketika dia menambahkan busa di bra atau menggunakan hip pads, langsung diasumsikan ingin “memikat laki-laki”. Kenapa semuanya harus selalu ditarik ke arah laki-laki?

Padahal, sebagian besar dari kita tahu bahwa banyak keputusan soal berpakaian dan berdandan itu bukan hanya untuk orang lain, apalagi laki-laki. Apa yang membuat nyaman, dan merasa percaya diri itulah tujuannya. Namun budaya patriarki sudah lama menanamkan ide bahwa tubuh perempuan selalu ada dalam sorotan, dan setiap perubahan bentuk atau penampilan yang perempuan buat harus punya alasan, dan biasanya dikaitkan dengan “apa yang laki-laki pikirkan.”

Budaya patriarki secara sistematis memposisikan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, pengetahuan, dan norma sosial. Dalam sistem ini, laki-laki dipandang sebagai subjek dominan, sementara perempuan sering kali direduksi menjadi objek yang keberadaannya didefinisikan berdasarkan relasinya dengan laki-laki—sebagai ibu, istri, anak perempuan, atau pasangan. Akibatnya, apa pun yang dilakukan perempuan cenderung dipahami bukan sebagai ekspresi otonomi diri, melainkan selalu dikaitkan dengan pandangan dan kepentingan laki-laki.

Pandangan ini melahirkan kontrol terhadap tubuh perempuan, baik secara simbolik maupun praktis. Pilihan berpakaian, berdandan, bahkan cara perempuan mengekspresikan identitas atau seksualitasnya, kerap dianggap sebagai “tanda” upaya menarik perhatian laki-laki. 

Fenomena ini dijelaskan oleh feminis seperti Sandra Bartky dalam tulisannya Foucault, Femininity, and the Modernization of Patriarchal Power (1988). Ia menyebut bahwa perempuan diawasi melalui apa yang disebut “disciplinary practices” yaitu tindakan-tindakan kecil sehari-hari seperti berdandan, berdiet, atau merawat tubuh yang terlihat “biasa”, padahal sesungguhnya merupakan hasil internalisasi kontrol sosial yang bersumber dari kekuasaan patriarki. Kontrol ini mengakibatkan perempuan selalu memperhatikan tampilannya, seolah-olah nilai diri mereka ditentukan oleh penilaian eksternal, terutama dari laki-laki.

Internalized Misogyny: Saat Perempuan Meniru Lidah Patriarki

Biasanya, ketika laki-laki mengomentari bentuk tubuh perempuan, kita marah. Tapi bagaimana jika komentar menyakitkan itu justru datang dari sesama perempuan?

Inilah yang disebut sebagai internalized misogyny ketika perempuan secara tidak sadar mengadopsi standar dan nilai-nilai patriarki yang selama ini merugikan dirinya sendiri dan perempuan lain. Dalam konteks ini, banyak perempuan merasa lebih baik atau lebih “berkelas” dari perempuan lain yang dianggap terlalu tampil, terlalu “berusaha”, atau terlalu “seksual”.

Hal ini dijelaskan juga dalam pemikiran Chimamanda Ngozi Adichie, dalam Feminist Manifesto. Menurutnya, perempuan yang mengekspresikan seksualitas secara terbuka entah melalui penampilan, pakaian, perilaku, atau gaya bicara sering dianggap lebih rendah dibanding perempuan yang tampil sopan atau tertutup.Ada hierarki moral yang dipaksakan berdasarkan penampilan. Dan ketika perempuan mengulang narasi ini ke perempuan lain, tanpa sadar mereka sudah ikut serta melanggengkan sistem itu.

Baca juga: Memahami Ukuran Bra: Perbedaan Cup A, B, C

Ketika Ekspresi Diri Dianggap Ancaman

Kenapa kita tidak bisa melihat bra busa, hip pads, atau makeup sebagai bentuk ekspresi diri? Kenapa selalu dianggap usaha untuk terlihat menarik di depan laki-laki? Apakah karena masyarakat masih belum nyaman melihat perempuan punya kontrol atas tubuhnya sendiri?

Ketika perempuan tampil sesuai standarnya sendiri bukan standar masyarakat, agama, keluarga, atau pacar itu sering dianggap membangkang, bahkan ancaman. Perempuan yang nyaman dengan tubuhnya, dan menunjukkannya, dianggap “liar” atau “tidak tahu malu”. Padahal itu bisa jadi bentuk penerimaan diri, kepercayaan diri, dan kebebasan.

Perempuan, Tubuh, dan Hak Penuh atas Diri Sendiri

Tubuh perempuan bukanlah ladang kompetisi, mau pun ajang adu siapa yang paling alami, paling murni, atau paling tertutup. Kita perlu mulai menggeser cara pandang dari saling menilai ke saling memahami. Dari saling menjatuhkan ke saling dukung. Perempuan punya hak atas tubuhnya, atas kenyamanan dan ekspresi dirinya, tanpa harus terus-terusan menjelaskan atau membela diri.

Referensi:

  • Adichie, C. N. (2014). We should all be feminists. Fourth Estate.
  • Bartky, S. L. (1988). Foucault, femininity, and the modernization of patriarchal power. In I. Diamond & L.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Normalkah Bagi Perempuan Melakukan Masturbasi?

Grow and Glow

Manifesting 2025: Let’s Grow and Glow

Ketuk Palu Pengesahan RUU TPKS Untuk Keadilan Korban Kekerasan Seksual

Leave a Comment