Bukan Cool, Cuma Gagap Emosi: Di Balik Fenomena ‘Cowok Bingung’

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Melihat film, manga, maupun cerita di novel-novel, sosok lelaki yang terkesan keren itu sering kali digambarkan sebagai figur yang tidak banyak berkomunikasi, tetapi langsung bertindak. Aksi atau adegannya sukses membuat penonton berdebar ketimbang jika ia banyak omong. Citra lelaki nonchalant hingga sigma pun semakin tenar lewat media visual yang menunjukkan bahwa standar maskulin ideal harus begini dan begitu.

Tapi apa hubungannya sih sama cowok bingung? Istilah ini mulai ramai dibicarakan di media sosial. Cowok bingung adalah sebutan untuk laki-laki yang datang mendekat seperti ada intensi untuk menjalin hubungan romantis, tapi tidak mau mengutarakan maksudnya secara jelas. Akhirnya, pihak yang didekati terpaksa menebak-nebak ke mana arah hubungan ini, sehingga muncul lah istilah cowok bingung.

Baca juga: Dunia yang Dibangun untuk Laki-Laki: Bukti Arsitektur Kita Bias Gender

Dampak Lelaki Tak Bercerita

Fenomena sikap menggantung ini bukan cuma soal trik mendekati pasangan, tetapi berkaitan dengan minimnya saluran emosional laki-laki. Berdasarkan survei Pew Research Center tahun 2025, sekitar 74% orang dewasa di Amerika Serikat menyatakan mereka sangat mungkin mencari dukungan emosional dari pasangan ketika menghadapi masalah serius. Angka ini relatif konsisten baik pada laki-laki maupun perempuan. Artinya, bagi sekitar tiga dari empat orang dewasa, pasangan memang menjadi figur utama tempat bersandar secara emosional. Temuan ini menegaskan bahwa relasi romantis memegang peran yang sangat penting dalam kesejahteraan psikologis seseorang.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki lebih banyak alternatif ketika membutuhkan dukungan emosional. Sekitar 54% perempuan mengatakan mereka sangat mungkin mencari dukungan dari ibu, dibanding 42% pada laki-laki. Dalam relasi pertemanan, kesenjangannya bahkan jauh lebih jelas: sebanyak 54% perempuan merasa sangat mungkin curhat ke teman dekat, sementara pada laki-laki angkanya hanya menyentuh 38%.

Perempuan juga lebih sering mengandalkan anggota keluarga lain di luar orang tua dan pasangan (44% perempuan berbanding 26% laki-laki), serta sedikit lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional kesehatan mental (22% perempuan berbanding 16% laki-laki). Pola ini menunjukkan bahwa banyak perempuan tidak menggantungkan seluruh kebutuhan emosionalnya hanya pada satu orang saja.

Sebaliknya, laki-laki relatif lebih sempit dalam membangun jaringan dukungan emosional. Ketika mereka akhirnya memiliki pasangan, relasi tersebut kerap menjadi satu-satunya ruang aman untuk menyalurkan beban emosi yang selama ini tidak tersalurkan. Dan sewaktu ruang aman itu belum ada atau tidak berfungsi dengan baik, emosi tersebut terperangkap tanpa muara, menjadikan mereka ragu dan melangkah setengah hati.

Laki-laki Dikondisikan untuk Tidak Vulnerable Oleh Sistem

Ada anggapan kuat bahwa ketika laki-laki bersedia tampak rapuh (vulnerable) dan terbuka secara emosional, maka dianggap lemah—bahkan di dalam perkumpulan teman sesama lelaki sekalipun. Tapi kondisi itu bukan murni tendensi personal laki-laki secara biologis. Ada peran pola pengasuhan dan norma budaya sejak kecil yang membuat cowok lebih enggan terlihat fragile atau terbuka secara emosional.

Hal ini dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah Normative Male Alexithymia, yaitu sebuah fenomena subklinis yang ditemukan pada anak laki-laki dan laki-laki dewasa yang dibesarkan untuk mematuhi norma maskulin tradisional. Norma tersebut sangat menekankan ketangguhan, kerja sama tim, dan kompetisi, sekaligus menekan ekspresi emosi-emosi yang rentan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Ronald F. Levant.

Melansir dari penjelasan The Psychology Group, istilah alexithymia digunakan untuk menggambarkan kesulitan dalam mengidentifikasi, memproses, dan mengekspresikan emosi. Setiap orang pada rentang waktu tertentu tentu pernah mengalami kesulitan merangkai perasaannya ke dalam kata-kata. Mungkin karena merasa sangat kewalahan, atau belum memiliki waktu yang cukup untuk mencerna situasi tersebut secara utuh. Biasanya, begitu cukup waktu berlalu, banyak dari kita yang akhirnya mampu menjelaskan apa yang sebenarnya kita rasakan.

Bagi sebagian orang, mendeskripsikan dan mengekspresikan emosi bisa datang secara alami. Kondisi ini bukanlah sebuah gangguan jiwa yang terdiagnosis, melainkan sebuah kecenderungan psikologis yang dibentuk oleh pola asuh dan lingkungan.

Hal ini mirip dengan bagaimana kita mengukur tinggi badan atau berat badan; ada rentang skala dari yang sangat rendah hingga sangat tinggi. Akibat ketidakmampuan mengenali dan memproses perasaan sendiri inilah, banyak laki-laki dewasa yang akhirnya berada dalam kondisi “bingung” permanen saat dihadapkan pada kedekatan emosional. Mereka ingin berhubungan, tetapi tidak tahu cara memastikan rasa di dadanya sendiri.

Baca juga: Laki-Laki Juga Bisa KB: Mengenal NES/T, Kontrasepsi Gel Cukup Sekali Oles

Stop Romantisasi Cowok Cool Nonchalant!

Sikap diam, serba menggantung, dan tidak berani mengutarakan intensi sejatinya bukan pertanda bahwa seorang lelaki itu keren, dingin, atau misterius. Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi figur cowok cool nonchalant yang sebenarnya hanya cerminan dari kemiskinan artikulasi emosi. Sudah saatnya kita lebih mengapresiasi keterbukaan emosional dan kejujuran dalam sebuah hubungan.

Tanpa keterbukaan dan kejujuran, seseorang yang didekati akan sangat mudah merasa tidak dihargai dan dipermainkan dalam ketidakpastian. Sebab kejujuran dan keterbukaan emosional adalah bentuk rasa hormat paling mendasar antarmanusia.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan Papua Merawat tradisi memakan pinang

Perempuan Papua Merawat Tradisi Memakan Pinang

Di Bawah Terik yang Kian Panas: Kemiskinan dan Perkawinan Anak di Seluma

Khabar Lahariya Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Khabar Lahariya: Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Leave a Comment