Cahaya Perempuan Tekankan Pentingnya Pendidikan Seksual dan Reproduksi

Bincang Perempuan

News

Kasus Kekerasan Anak Bengkulu Meningkat, Cahaya Perempuan Tekankan Pentingnya Pendidikan Seksual dan Reproduksi

Bincangperempuan.com–  Kekerasan terhadap anak di Provinsi Bengkulu masih menjadi persoalan serius. Data terbaru menunjukkan bahwa kasus kekerasan anak, terutama kekerasan seksual, terus terjadi dan menyasar kelompok paling rentan: anak-anak. Untuk itu, Cahaya Perempuan Women Crisis Center (WCC) menegaskan pentingnya pendidikan seksual dan reproduksi (KESPRO) sejak dini, demi menciptakan perlindungan komprehensif bagi anak-anak.

Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian Puncak Perayaan Hari Anak Nasional 2025, yang digelar serentak pada 25 Juli di empat titik di Bengkulu: SMP 17 Seluma, Kantor Bappeda Kepahiang, Balai Desa Sumber Urip Rejang Lebong, dan Kantor Cahaya Perempuan Bengkulu. Tema besar yang diusung adalah “Anak Sehat, Sadar Hak, dan Terlindung Melalui Pendidikan Seksual dan Reproduksi.”

Acara ini diikuti oleh kelompok perempuan muda, pemuda Karang Taruna, serta perwakilan keluarga GAHARU, dengan melibatkan para tenaga kesehatan dan aktivis perlindungan anak sebagai narasumber.

Baca juga: Ngobrol, Healing, dan Mencanting: Perempuan Bengkulu Saling Berbagi Kisah

Data Terkini: Kekerasan Anak Masih Tinggi

Kekerasan terhadap anak di Provinsi Bengkulu masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Melansir Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Bengkulu pernah merilis, hingga Agustus 2024, tercatat sebanyak 86 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, dengan mayoritas merupakan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan rumah tangga.

Sementara di Kota Bengkulu, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Bengkulu mencatat sepanjang periode April hingga Desember 2024, terdapat 12 kasus kekerasan terhadap anak, yang meliputi persetubuhan, pencabulan, dan perbuatan tidak menyenangkan. Dari total 16 kasus kekerasan yang menimpa anak dan perempuan, hanya 6 kasus yang berhasil diselesaikan melalui proses hukum.

Sementara itu, di Kabupaten Bengkulu Utara, hingga pertengahan 2025, terdata 27 kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun seksual. Angka-angka ini menjadi alarm bahwa kekerasan terhadap anak masih sangat nyata dan membutuhkan langkah pencegahan yang lebih sistematis, salah satunya melalui edukasi yang menyeluruh dan keterlibatan aktif keluarga, sekolah, serta masyarakat luas.

KESPRO Sebagai Benteng Perlindungan Anak

Dalam sesi edukasi, para tenaga kesehatan memaparkan pentingnya pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi sebagai upaya membangun kesadaran anak terhadap tubuh dan hak-haknya.

“Pendidikan seksual dan reproduksi harus dimulai sejak usia anak, sesuai tahap perkembangan mereka. Ini bukan hal tabu. Justru, ketika anak paham, mereka lebih terlindungi,” jelas Rini Aprita, S.Tr.Keb, dari Puskesmas Talang Tinggi, Seluma.

Hal serupa disampaikan Winarti, A.Md.Keb, dari Puskesmas Sumber Urip, Rejang Lebong. Ia menegaskan bahwa banyak anak tidak sadar sedang mengalami kekerasan.

“Anak-anak harus tahu bahwa mereka bisa jadi korban, dan pelakunya sering justru orang terdekat. Tanpa pemahaman ini, mereka cenderung diam dan trauma berkepanjangan,” ujarnya.

Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu

Komunikasi Terbuka, Kunci Pencegahan Perkawinan Anak

Direktur Cahaya Perempuan, Leksi Oktavia saat sesi di SMP 17 Seluma juga menyoroti persoalan perkawinan usia anak dan nilai-nilai dalam keluarga. Dimana anak-anak sering kali tidak didengar dalam pengambilan keputusan.

“Kurangnya komunikasi terbuka membuat anak enggan bicara, takut dimarahi. Padahal orang tua harus jadi tempat paling aman untuk anak berbagi cerita,” ujarnya.

Leksi menekankan pentingnya menciptakan ruang aman dalam keluarga.  Komunikasi terbuka antara anak dan orang tua sehingga orang tua akan menjadi teman bagi anak-anak dan hal ini akan membuat anak dekat serta banyak cerita apa yang anak inginkan dan alami. “Keluarga yang adil gender dan penuh empati akan melahirkan anak-anak yang percaya diri dan berani menyuarakan haknya,” katanya.

Harapan: Anak Sehat, Sadar Hak, dan Terlindung

Perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menguatkan komitmen terhadap perlindungan anak. Pendidikan KESPRO menjadi bekal penting agar anak-anak mampu mengenali risiko, menghindari kekerasan, dan tumbuh menjadi generasi sehat dan berdaya.

“Kami ingin anak-anak Bengkulu tumbuh tanpa rasa takut, tahu haknya, dan tidak mudah dimanipulasi oleh siapapun—bahkan oleh orang-orang yang mereka percayai,” tegas Juniarti Boermasnyah, aktivis Cahaya Perempuan yang berbicara di Desa Sumber Urip.

Lewat semangat Hari Anak Nasional, Cahaya Perempuan berharap pendidikan seksual dan reproduksi tidak lagi dianggap tabu, tapi justru menjadi benteng pertama perlindungan anak di rumah, sekolah, dan lingkungan.(**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

PAPA DALI & MAMA KAMARI

Ketuk Palu Pengesahan RUU TPKS Untuk Keadilan Korban Kekerasan Seksual

Cek Fakta Kepala Daerah Tak Bisa Sembarangan Take Down Media

Cek Fakta: Kepala Daerah Tak Bisa Sembarangan Take Down Media

Leave a Comment