Choice Feminism: Ketika “Bebas Memilih” Hanya Milik Segelintir Orang

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu melihat konten media sosial tentang bagaimana seorang perempuan “harus berdaya”? Narasinya hampir selalu seragam: perempuan wajib berpendidikan tinggi, punya karier mentereng, dan mandiri secara finansial. Namun, pernahkah kita mempertanyakan posisi sosial pembicaranya? Seberapa besar hak istimewa (privilege) yang ia miliki hingga bisa dengan mudah melempar standar tersebut?

Untuk membedah kompleksitas ini, kita perlu mengenal satu konsep yang mendominasi diskursus modern yaitu Choice Feminism.

Apa Itu Choice Feminism?

Ketika membicarakan diskursus kesetaraan gender, feminisme sudah berkembang menjadi berbagai pandangan ideologis. Salah satu bentuk yang paling mendominasi ruang publik modern, khususnya di media sosial, adalah choice feminism (feminisme berbasis pilihan). 

Merujuk pada artikel Fem Magazine, choice feminism mengambil pendekatan yang sangat individualistik. Ideologi ini memberi gagasan bahwa setiap pilihan pribadi yang diambil oleh seorang perempuan bersifat feminis, semata-mata karena keputusan tersebut dibuat oleh perempuan itu sendiri.

Istilah choice feminism sendiri pertama kali dicetuskan oleh ahli hukum dan akademisi Linda Hirshman pada tahun 2006 melalui bukunya Get to Work: And Get a Life, Before It’s Too Late dan esai manifestonya, “Homeward Bound“, di American Prospect. Populer dari perluasan retorika hak reproduksi (aborsi), narasi “pilihan” ini diadopsi sebagai jalan pintas untuk meredakan perselisihan domestik. 

Dalam perspektif ini, seorang perempuan bisa memilih bekerja, menjadi ibu rumah tangga, memiliki banyak anak, atau tidak menikah sama sekali—semuanya divalidasi sebagai bentuk “feminis” asal dipilih atas kehendak sendiri.

Sekilas, gagasan ini terasa memberdayakan, dan menginspirasi. Siapa yang tidak ingin merayakan kebebasan dan otonomi setiap wanita dalam menentukan jalan hidupnya sendiri? 

Namun, di balik narasi yang tampak inklusif ini, anggapan bahwa “semua pilihan adalah bentuk feminisme” menyimpan persoalan mendasar yang cukup berbahaya. Oleh karena itu Linda Hirshman juga mengkritisinya melalui fenomena opt-out revolution—kondisi ketika perempuan elit berpendidikan tinggi memilih mundur dari dunia kerja. Hirshman mengkritik keras choice feminism sebagai sebuah kebohongan dan kegagalan gerakan. Menurutnya, keputusan tersebut bukanlah bukti kebebasan memilih, melainkan dampak dari struktur sosial yang belum berubah seperti beban pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga tetap ditimpakan sepenuhnya kepada perempuan.

Baca juga: Mengapa Kemampuan Detachment di Tengah Krisis Adalah Sebuah Privilese

Mengabaikan Struktur Penindasan

Anggapan bahwa perempuan bebas menentukan nasibnya sendiri menyiratkan sebuah asumsi  bahwa setiap perempuan memiliki akses, kapasitas, dan sumber daya yang setara untuk memilih secara bebas. 

Padahal, pilihan pribadi perempuan terkadang masih dibatasi. Keterbatasan kelas ekonomi, ras, orientasi seksual, identitas, hingga akses pendidikan sangat menentukan sejauh mana seseorang betul-betul memiliki kemewahan untuk “memilih”.

Oleh karena itu menganggap semua pilihan perempuan lahir dari murni “kehendak bebas” (free will) adalah sebuah kesalahan logika yang menutup mata dari realitas penindasan sistemik.

Sebagai contoh nyata, bayangkan seorang anak perempuan di sebuah desa yang memiliki potensi akademik luar biasa dan kerap memenangkan berbagai perlombaan. Namun, ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena keluarganya tidak memberikan restu dan dukungan akibat norma patriarkal dan keterbatasan ekonomi. Akhirnya, ia menikah muda dan menjalani hidup sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga.

Apakah keputusan anak perempuan tersebut untuk tidak berkuliah, memilih menikah, dan hidup sebagai ibu rumah tangga murni atas kehendak bebasnya sendiri? Ataukah itu sebenarnya adalah hasil pengkondisian dari keterbatasan struktur ekonomi serta tekanan norma sosial yang tidak memberinya ruang dan pilihan lain?

Ketika choice feminism—yang kerap digaungkan oleh para selebgram atau influencer melalui narasi tradwife maupun girlboss—menyamaratakan semua keputusan sebagai bentuk pemberdayaan, mereka sedang mengabaikan hak istimewa (privilege).

Karena bagi perempuan kelas pekerja atau masyarakat rentan, banyak keputusan diambil bukan demi membuat pernyataan feminis, melainkan sekadar taktik bertahan hidup (survival) di tengah himpitan sistem.

Pembungkaman Kritik di Bawah Perisai “Bad Feminist

Dampak yang paling merusak dari choice feminism terhadap gerakan politik adalah terciptanya stagnasi wacana. Ketika setiap keputusan individu dianggap selalu benar dan bernilai feminis secara mutlak, ruang untuk diskusi, perdebatan mendalam, serta evaluasi kritis terhadap tindakan sosial menjadi tertutup rapat.

Fenomena ini banyak dibangun oleh banyak podcaster dan pembuat konten digital saat ini. Ketika para pengamat atau aktivis mencoba mengkritik suatu tren—misalnya glorifikasi standar kecantikan yang Eurosentris, prosedur estetika ekstrem, atau komodifikasi tubuh—reaksi defensif yang sering kali muncul dari para influencer adalah argumen penutup: “Ini kan pilihanku sendiri!” atau “Sebagai sesama wanita, harusnya kita saling mendukung, bukan menghakimi!

Penggunaan slogan women supporting women secara dangkal bisa dijadikan perisai untuk menghindari akuntabilitas politik. Kritik terhadap dampak sistemik dari suatu tindakan justru dicap sebagai tindakan yang tidak suportif, jahat, atau mengaitkan si pengkritik sebagai bad feminist. Padahal, untuk menghasilkan perubahan struktural yang nyata bagi kaum perempuan, debat kritis sangat mutlak diperlukan. Tidak semua keputusan individu layak didukung jika keputusan tersebut pada kenyataannya justru memperkuat ketimpangan.

Baca juga: Si Paling Ngerti Tren Sosmed, Kok Nggak Ada Postingan-nya? Mengenal Grid Zero

Mengembalikan Feminisme sebagai Gerakan Politik Kolektif

Oleh karena itu feminisme membutuhkan keberanian untuk terus terlibat secara politik dan kritis, baik terhadap masyarakat luas maupun terhadap arah gerakan feminisme itu sendiri. Mengakui bahwa pilihan individu dibatasi dan dibentuk oleh patriarki serta kapitalisme bukanlah bentuk victim blaming terhadap individu, melainkan langkah untuk memahami akar masalah secara sistemik.

Pilihan personal seorang perempuan untuk tampil sesuai standar kecantikan konvensional atau memilih peran domestik tentu tetap harus dihormati secara pribadi. 

Namun, merayakan pilihan-pilihan tersebut sebagai sebuah tindakan revolusioner feminis tanpa mengkritisi struktur yang mengondisikannya adalah sebuah kekeliruan politik yang mendasar. Jika kita ingin mewujudkan kesetaraan dan kebebasan sejati bagi seluruh perempuan, kita harus melangkah melampaui choice feminism. Karena sejatinya feminisme adalah gerakan politik kolektif yang berani mempertanyakan, membongkar, dan mengubah status quo patriarkal demi keadilan bersama.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Hidup Sehat dengan Pemeriksaan Pra Nikah

Hidup Sehat dengan Pemeriksaan Pra Nikah

Soft Life Mungkinkah Hidup Santai Tapi Tetap Sukses

Soft Life: Mungkinkah Hidup Santai Tapi Tetap Sukses?

Feminisme Eksistensialisme, Jalan Menuju Kebebasan Perempuan

Leave a Comment