Bincangperempuan.com- Isu krisis iklim biasanya kerap diidentikkan dengan melelehnya es kutub, krisis pangan, hingga ancaman bencana alam ekstrem yang saban hari menghiasi pemberitaan media. Tapi, ada satu dimensi krisis yang jarang sekali dibahas yaiyu bagaimana kenaikan suhu bumi dan pencemaran lingkungan ikut masuk ke dalam sistem biologis tubuh perempuan, khususnya pada masa transisi menopause.
Menopause sendiri merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan ketika siklus menstruasi berhenti secara permanen dan kemampuan untuk hamil berakhir. Secara medis, seorang perempuan dinyatakan resmi mengalami menopause jika sudah tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab klinis lain. Rata-rata fase ini terjadi pada rentang usia 45 hingga 55 tahun. Masa transisi ini diawali oleh perimenopause—fase beberapa tahun sebelum mens berhenti total, di mana kadar hormon estrogen mulai menurun tajam, siklus haid menjadi tidak teratur, dan berbagai gejala fisik mulai bermunculan. Fase ini kemudian berlanjut ke masa postmenopause yang berlangsung seumur hidup.
Perubahan hormonal pada fase transisi menopause membawa sederet gejala yang bervariasi bagi tiap individu, mulai dari gangguan tidur, kecemasan, hingga vasomotor symptoms (VMS) seperti hot flushes (sensasi panas membakar di tubuh) dan night sweats (keringat berlebih di malam hari). Namun, di tengah krisis iklim, pengalaman transisi menopause bisa menjadi beban yang lebih berat dialami perempuan.
Suhu Bumi Naik, Regulasi Suhu Tubuh Kewalahan
Gejala yang paling umum dan mengganggu pada masa menopause adalah vasomotor symptoms (VMS), yang dialami oleh hingga 79% perempuan menopause. Hot flushes dan night sweats bukan sekadar rasa gerah biasa; gejala ini merusak kualitas tidur, menguras energi harian, mengganggu suasana hati, hingga menurunkan produktivitas kerja secara signifikan.
Secara biologis, penurunan kadar hormon estrogen mengganggu mekanisme termoregulasi tubuh, yaitu kemampuan otak dalam mengatur suhu internal. Akibatnya, ambang toleransi tubuh terhadap panas menjadi jauh lebih sempit. Ketika suhu permukaan bumi terus melonjak akibat krisis iklim, tubuh perempuan menopause dipaksa bekerja jauh lebih keras untuk menyesuaikan diri. Kenaikan suhu rata-rata, gelombang panas, dan perubahan musim yang makin ekstrem secara langsung memicu frekuensi serta intensitas hot flushes yang lebih parah.
Sebagaimana diuraikan dalam ulasan riset pada jurnal Maturitas, bukti epidemiologis menunjukkan adanya variasi keparahan VMS berdasarkan distribusi geografis dan musim. Paparan suhu lingkungan yang lebih tinggi terbukti berbanding lurus dengan memburuknya sensasi panas membakar yang dirasakan tubuh.
Baca juga: Perempuan Petani Menantang Perubahan Iklim: Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim
Polusi Udara, Racun Lingkungan, dan Penuaan Ovarium Dini
Paparan polusi udara dan racun lingkungan juga memegang peranan fatal dalam mengganggu sistem reproduksi dan mempercepat penuaan ovarium (ovarian aging). Tinjauan ilmiah dari 16 studi menunjukkan hubungan erat antara paparan bahan kimia pengganggu endokrin—seperti phthalates, fenol, parabens, logam berat, pelarut organik, hingga polusi udara—dengan peningkatan keparahan gejala menopause.
Paparan akumulatif terhadap bahan kimia sintetis seperti phthalates dapat merusak jaringan ovarium dan mengganggu siklus hormonal, yang pada akhirnya berpotensi mempercepat datangnya masa menopause (earlier timing of menopause).
Kombinasi antara paparan polusi udara dan transisi menopause juga menciptakan risiko kesehatan ganda. Kedua faktor ini terbukti berkontribusi pada penurunan kesehatan kardiometabolik, penurunan kepadatan tulang (osteoporosis), hingga penurunan fungsi kognitif. Ketika udara yang dihirup sehari-hari tercemar zat toksik dan suhu bumi makin panas, kerentanan kesehatan perempuan pascamenopause bertambah berlipat ganda.
Ketimpangan Gender dan Blindspot dalam Riset Iklim
Bumi saat ini menghadapi krisis lingkungan global akibat aktivitas manusia. Peningkatan emisi gas rumah kaca dan alih fungsi lahan telah memicu lonjakan suhu permukaan bumi serta perubahan pola cuaca yang merusak keseimbangan ekosistem. Dalam laporan The Journal of the Egyptian Public Health Association mengenai krisis kesehatan reproduksi akibat perubahan iklim, dicatat bahwa 3,6 miliar orang kini hidup di wilayah yang sangat rentan. Antara tahun 2030 dan 2050, krisis ini diproyeksikan merenggut tambahan 250.000 nyawa setiap tahunnya akibat malnutrisi, malaria, dan penyakit diare.
Selain itu, dampaknya tidak dirasakan sama rata. Ada faktor biologis, geografis, dan sosio-ekonomi menempatkan perempuan pada posisi yang jauh lebih rentan terhadap penyakit akibat perubahan iklim. Sayangnya, kebutuhan khusus dan tantangan kesehatan perempuan pada masa menopause masih sering menjadi blindspot dalam riset global maupun kebijakan iklim.
Sebagian besar literatur saintifik saat ini masih sangat terbatas dalam menelaah dampak krisis iklim terhadap kesehatan perempuan di negara-negara berkembang atau berpenghasilan rendah dan menengah (Low- and Middle-Income Countries / LMICs). Padahal, perempuan di wilayah-wilayah ini menghadapi ketimpangan sosio-ekonomi yang lebih berat, seperti keterbatasan akses terhadap pendingin ruangan, fasilitas kesehatan reproduksi yang memadai, hingga sanitasi. Ketimpangan ini membuat risiko penyakit kardiovaskular, stres termal, dan gangguan kesehatan mental pada perempuan pascamenopause menjadi kian parah.
Baca juga: Pengaling Cemara Laut, Mitigasi Perempuan Adat Menghadapi Perubahan Iklim
Menopause dan Panggilan Aksi Iklim
Melihat kaitan erat antara krisis iklim dan kesehatan biologis perempuan, kita tidak bisa lagi memandang menopause sekadar sebagai urusan takdir tubuh. Dampak pemanasan global terhadap transisi menopause menegaskan bahwa krisis iklim adalah krisis keadilan gender dan kesehatan reproduksi.
Para penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan sudah sepatutnya mulai mempromosikan langkah-langkah intervensi yang tidak hanya berfokus pada penanganan medis individual, tetapi juga pada mitigasi perubahan iklim. Menurunkan jejak karbon dan memperbaiki kualitas lingkungan terbukti memberikan manfaat langsung pada berbagai domain kesejahteraan fisik dan psikologis perempuan.
Referensi:
- Cucinella, L., Tiranini, L., & Nappi, R. E. (2023). Impact of climate and environmental change on the menopause. Maturitas. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0378512223004310
- Thomas, E. C., Perttula, K., Joseph, G., et al. (2025). Impact of Environmental Exposures on Menopausal Symptoms – A Scoping Review. Current Epidemiology Reports, 12, 16. https://doi.org/10.1007/s40471-025-00372-8
- Kılavuz, M., Ağralı, C., & Kanbay, Y. (2025). As the planet warms, women pay the price: the climate change and reproductive health crisis. The Journal of the Egyptian Public Health Association, 100(1), 14. https://doi.org/10.1186/s42506-025-00196-w
