Di Antara Kuliah dan Aktivitas Lain, Organisasi Kampus Kian Tersisih

Dwi Putri Lestari

News, Data

Bincangperempuan.com- “Takut tidak bisa membagi waktu,” ungkap Responden Satu (20) yang saat ini sedang mengikuti perkuliahan di semester 6, saat diwawancara Bincang Perempuan,Kamis (19/02/2026). Ia mengaku khawatir jadwal kuliah dan jadwal organisasi akan saling bertabrakan, sehingga ia takut tidak dapat memaksimalkan partisipasi di organisasi.

Responden satu tidak membantah bahwa ia memiliki ketertarikan untuk mengikuti organisasi. Awal-awal perkuliahan ia merasa ragu, tidak yakin mampu menyeimbangkan kegiatan akademik dan aktivitas organisasi. Memasuki semester 6, ia mulai menyadari bahwa teman-temannya yang aktif berorganisasi memiliki pengalaman dan keterampilan yang tidak ia dapatkan di kelas. Seperti kemampuan public speaking, mengorganisasi kegiatan serta teknik negosiasi.

Sedikit berbeda disampaikan Responden Dua (21). Dari awal perkuliahan, ia kesulitan beradaptasi dengan kegiatan di kampus. Kondisi ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, usai mengikuti kegiatan perkuliahan, Responden Dua harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ini karena kiriman bulanan dari orang tuanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama satu bulan.

“Belum ada niatan untuk mengikuti organisasi kampus. Bukan karena tidak suka atau tidak tertarik, tapi ada aktivitas lain di luar kampus yang harus dilakukan,” ungkapnya singkat.

Tak jauh berbeda dengan Responden Tiga (22 tahun). “Saya memiliki pekerjaan lain di luar perkuliahan yang bisa memberikan saya penghasilan. Kalau ikut organisasi, itu akan memakan waktu yang cukup lama karena organisasi pasti harus sering berkumpul dan membahas program,” paparnya.

Responden Satu, Dua dan Tiga merupakan potret kondisi mahasiswa saat ini. Organisasi kampus dikenal sebagai ruang belajar nonakademik yang membentuk kepemimpinan, kemampuan komunikasi, jejaring, hingga keterampilan sosial mahasiswa. “Terkesan” mulai ditinggalkan. Fenomena ini bukan sekadar soal “malas berorganisasi”. Ada dilema yang lebih kompleks di baliknya: tekanan akademik, tuntutan manajemen waktu, hingga kebutuhan ekonomi yang membuat sebagian mahasiswa memilih bekerja dibandingkan dengan mengikuti kegiatan organisasi.

Untuk melihat persoalan ini secara lebih jelas dan terukur, Bincang Perempuan melakukan survei sampel dengan melibatkan 100 responden mahasiswa pada Februari 2026. Secara umum, hasil survei menunjukkan bahwa rendahnya minat berorganisasi bukan disebabkan oleh kurangnya informasi, ketidaktahuan manfaat organisasi, maupun pengaruh lingkungan kampus, melainkan lebih berkaitan dengan preferensi pribadi dan pengelolaan waktu mahasiswa.

Motivasi Pribadi Bukan Faktor Dominan

Dilihat dari sisi motivasi, mayoritas mahasiswa (49%) masih memiliki dorongan untuk aktif di organisasi kampus. Namun, 36% memilih netral, yang menunjukkan adanya dilema prioritas. Sejalan dengan teori Time Management Stephen R. Covey, individu cenderung mengalokasikan waktu pada aktivitas yang dianggap paling penting dan mendesak. Mahasiswa dengan jadwal kuliah padat atau yang bekerja setelah kuliah lebih memilih fokus pada akademik demi target perkuliahan, sehingga partisipasi organisasi kampus sering kali bergeser ke prioritas sekunder. Sementara itu, hanya 15% yang benar-benar tidak termotivasi, menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan partisipasi masih terbuka lebar jika organisasi mampu menampilkan manfaat yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa.

Mahasiswa Tidak Hanya Berorientasi Akademik

Namun bila dilihat lebih jauh ternyata mayoritas responden (52%) memilih netral, menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri hanya sebagai pribadi akademik, tetapi juga tidak menolak pandangan tersebut. Sementara 34% (7% + 27%) menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju, yang berarti mereka merasa kepribadiannya tidak terbatas pada akademik saja, mereka mungkin lebih terbuka untuk kegiatan non-akademik seperti organisasi, komunitas, atau kegiatan sosial. Sebaliknya, 14% (11% + 3%) mengaku setuju atau sangat setuju, menandakan bahwa sebagian kecil mahasiswa memang merasa lebih nyaman berfokus pada dunia akademik.

“Dari awal fokus saya memang untuk kuliah saja, tidak berkeinginan lebih untuk mengikuti organisasi di lingkungan kampus karena selain berkuliah saya juga bekerja setelah selesai kuliah,” kata Responden Tiga. “Saya memang memfokuskan diri pada pengembangan akademik saya saja karena saya termasuk kurang dalam hal akademik, apalagi jika harus membagi waktu dan fokus saya dengan mengikuti organisasi di lingkungan kampus,”kata Responden Satu.

Organisasi Masih Dianggap Bermakna

Bila dilihat dari tujuan personal, mayoritas mahasiswa masih melihat nilai dan makna personal dalam berorganisasi. Hanya sebagian kecil yang merasa bahwa organisasi tidak memberikan manfaat langsung bagi pengembangan diri mereka. Dari 100 responden, sebanyak 64% menyatakan bahwa mengikuti organisasi tetap memberikan makna dan tujuan personal, sementara hanya 11% yang merasa sebaliknya. Sebanyak 25% bersikap netral, menandakan bahwa sebagian mahasiswa belum menemukan relevansi antara kegiatan organisasi dan pengembangan diri mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa organisasi kampus masih memiliki peran penting dalam membentuk nilai dan motivasi intrinsik mahasiswa, meskipun perlu memperkuat aspek personalisasi kegiatan agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan individu.

Waktu Luang Menjadi Pertimbangan Penting

Meskipun masih dianggap bermakna, realitanya kontradiksi dengan kampus yang belum menjadi pilihan utama mahasiswa dalam mengisi waktu luang. Sebanyak 54% responden memilih jawaban netral terhadap pernyataan bahwa mereka lebih memilih aktivitas lain dibandingkan dengan organisasi. Persentase netral ini didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Sebagian besar responden laki-laki mengaku lebih sering memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat, bekerja paruh waktu, atau berkumpul dengan teman.

“Kalau ada waktu luang saya lebih memilih bekerja paruh waktu untuk menambah penghasilan dan membantu kebutuhan sehari-hari, jadi waktu untuk ikut organisasi memang sangat terbatas,” kata Responden Dua. “Waktu kosong biasanya saya gunakan untuk kerja part time karena selain mendapatkan pengalaman juga bisa membantu biaya kuliah, jadi saya jarang ikut kegiatan organisasi kampus,” ungkap Responden 15.

Fenomena ini dapat dikaitkan dengan beban gender, di mana laki-laki dibentuk oleh budaya sosial sebagai pihak yang harus mandiri secara ekonomi dan berperan sebagai pencari nafkah. Hal ini sejalan dengan teori maskulinitas hegemonik R.W. Connell (1995), yang menjelaskan bahwa laki-laki dikonstruksi oleh norma sosial untuk menunjukkan kemandirian, produktivitas, serta tanggung jawab ekonomi. Akibatnya, bekerja menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis dibandingkan dengan berorganisasi. Data ini memperlihatkan bahwa organisasi kampus masih harus bersaing dengan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan istirahat mahasiswa, terutama dalam konteks sosial yang menuntut produktivitas di luar ruang akademik.

Disela-sela perkuliahan sebagian mahasiswa memilih berkumpul di depan sekretariat UKM Seni Unived, sekadar untuk ngobrol atau berdiskusi. (Foto: Dwi Putrilestari/Bincang Perempuan)

Rasa Percaya Diri Bukan Hambatan Utama

Sebanyak 50% responden tidak setuju bahwa mereka ragu atau kurang percaya diri untuk bergabung dalam organisasi. Hanya 23% yang mengaku memiliki keraguan. Dengan demikian, faktor psikologis berupa kurang percaya diri bukanlah penyebab utama rendahnya partisipasi organisasi.

Beban Akademik Cukup Berpengaruh, Tetapi Tidak Dominan

Di dunia perkuliahan, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan mengatur waktu dengan baik. Padatnya aktivitas perkuliahan, mulai dari mengikuti kelas, mengerjakan tugas, hingga mempersiapkan ujian, menjadikan manajemen waktu sebagai keterampilan yang sangat penting. Dalam kondisi tersebut, beban akademik sering kali menjadi tantangan utama yang harus dihadapi mahasiswa dalam mengelola waktu secara efektif agar berbagai tanggung jawab dapat diselesaikan secara seimbang.


Padatnya aktivitas perkuliahan membuat mahasiswa dituntut mampu mengatur waktu secara efektif. Namun, tidak semua mahasiswa merasakan dampak beban akademik dengan cara yang sama. Data survei tahun 2026 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada posisi dilematis antara tuntutan akademik, aktivitas organisasi, dan kebutuhan ekonomi.

Sebanyak 45% responden memilih sikap netral terhadap pernyataan bahwa beban akademik menyulitkan manajemen waktu. Angka ini menjadi temuan paling dominan dan menunjukkan bahwa mahasiswa merasakan tekanan akademik, tetapi tidak sepenuhnya menganggapnya sebagai hambatan utama dalam mengatur aktivitas sehari-hari.

Di sisi lain, 34% responden menyatakan tidak setuju dan 6% sangat tidak setuju bahwa beban akademik menjadi penyebab kesulitan membagi waktu. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian mahasiswa merasa mampu mengelola jadwal kuliah, tugas, organisasi, hingga aktivitas pribadi secara seimbang.

Sementara itu, 15% responden mengaku kesulitan membagi waktu karena tuntutan akademik yang tinggi. Kelompok ini umumnya menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kuliah dengan kegiatan organisasi, pekerjaan paruh waktu, maupun kehidupan pribadi.

Pengaruh Teman dan Lingkungan Relatif Kecil

Sebanyak 64% responden tidak setuju bahwa mereka tidak berminat berorganisasi karena lingkungan pertemanan yang tidak aktif. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan untuk mengikuti organisasi lebih banyak ditentukan oleh pilihan individu daripada tekanan sosial.

Mahasiswa Memahami Manfaat Organisasi

Sebanyak 58% responden tidak setuju bahwa mereka tidak mengetahui manfaat organisasi bagi karier atau masa depan. Hanya 15% yang setuju. Artinya, mayoritas mahasiswa telah memahami manfaat organisasi, sehingga rendahnya partisipasi tidak disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.

Informasi Organisasi Dinilai Cukup Tersampaikan

Sebanyak 59% responden tidak setuju bahwa informasi kegiatan organisasi kurang jelas atau tidak sampai kepada mereka. Hanya 9% yang setuju. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem penyebaran informasi organisasi relatif berjalan dengan baik.

Lingkungan Kampus Bukan Faktor Penghambat Utama

Sebanyak 51% responden tidak setuju bahwa kampus kurang mendorong mahasiswa non-aktivis untuk ikut organisasi. Sebanyak 41% netral dan hanya 8% yang setuju. Dengan demikian, persepsi terhadap dukungan kampus cenderung positif.

Berdasarkan hasil survei, rendahnya partisipasi mahasiswa dalam organisasi kampus tidak disebabkan oleh kurangnya informasi, ketidaktahuan manfaat organisasi, pengaruh teman, maupun rendahnya kepercayaan diri. Mayoritas responden justru memahami manfaat organisasi dan menilai informasi yang tersedia sudah cukup baik.

Temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa minat berorganisasi lebih dipengaruhi oleh preferensi pribadi dalam mengalokasikan waktu, prioritas kegiatan lain di luar organisasi, serta sikap yang cenderung netral terhadap aktivitas organisasi. Dengan kata lain, tantangan utama bukan pada akses atau pengetahuan, melainkan bagaimana organisasi kampus mampu menawarkan kegiatan yang relevan, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

Retno: Saatnya Institusi Berbenah

Fenomena kerja paruh waktu juga menunjukkan adanya dorongan kemandirian ekonomi di kalangan mahasiswa, khususnya laki-laki. Dalam konteks sosial, kondisi ini dapat dikaitkan dengan beban peran gender, di mana laki-laki sering merasa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mandiri secara finansial atau bahkan membantu kebutuhan keluarga. Akibatnya, waktu yang dimiliki untuk kegiatan akademik maupun organisasi menjadi semakin terbatas.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan manajemen waktu mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh beban akademik, tetapi juga faktor ekonomi, tekanan sosial, dan tuntutan peran di lingkungan sekitar. Karena itu, kemampuan menentukan prioritas serta dukungan lingkungan akademik menjadi penting agar mahasiswa dapat menjalani perkuliahan secara lebih seimbang dan produktif.

Akademisi Sosiologi Universitas Bengkulu, Retno Wahyuningtyas, mengatakan organisasi merupakan ruang pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman sosial, kepemimpinan, dan keterampilan yang tidak selalu didapatkan dalam proses akademik di kelas. Jika minat mahasiswa dalam mengikuti organisasi kurang, maka ini sangat mengkhawatirkan karena tidak adanya regenerasi berikutnya di dalam sebuah organisasi.

Penurunan minat mahasiswa terhadap organisasi intrakampus merupakan bentuk adaptasi sosiokultural terhadap pergeseran paradigma pendidikan yang kini lebih menekankan pada kompetensi teknis dan efisiensi waktu. Di tengah munculnya berbagai bentuk kanal pengembangan diri digital yang lebih fleksibel, struktur organisasi tradisional yang cenderung birokratis dan hierarkis menghadapi tantangan untuk tetap relevan bagi mahasiswa yang semakin menghargai nilai-nilai egaliter serta kesejahteraan emosional. 

“Sebagai pendidik, saya menyoroti bahwa fenomena ini merupakan momentum penting bagi institusi untuk melakukan “pembenahan” ataupun  inovasi tata kelola yang lebih inklusif dan adaptif, guna menyelaraskan tujuan organisasi dengan kebutuhan aktual mahasiswa agar tetap menjadi wadah pengembangan karakter dan modal sosial yang efektif di era disrupsi ini. Karena jika tidak, generasi muda akan menemukan cara untuk membuat organisasi baru yang lebih relevan dan memfasilitasi minat mereka. Ataupun mereka mulai menjauh dari organisasi dengan value yang “dinilai” old fashion atau tipe tradisional yang kaku dan cenderung mengikat tapi minim kebaruan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

UN Women dan Korea dukung perempuan dan komunitas

UN Women dan Republik Korea, Bersama Mendukung Perempuan dan Komunitas Tangguh di Indonesia

Minuman olahan kecombrang

Semangat KPPL Maju Bersama Jadikan Minuman Sari Bunga Kecombrang dari Hutan TNKS Sebagai Ikon Rejang Lebong

Perempuan Single Lebih Bahagia Ini Riset dan Faktanya!

Perempuan Single Lebih Bahagia? Ini Riset dan Faktanya!

1 Comments

Leave a Comment