Bincangperempuan.com- Belakangan muncul tren template Instastory “how your look at 80’s” menggunakan chat GPT atau AI—di mana pengguna mengunggah foto mereka untuk diubah oleh ChatGPT atau generator AI menjadi potret bernuansa retro ala zaman dulu. Jutaan orang berbondong-bondong mengikuti tren ini demi hiburan beberapa detik, tanpa menyadari dampak lingkungan dari maraknya AI slop—konten generatif massal bernilai rendah yang terus diproduksi tanpa henti.
Di balik kemudahan satu kali klik di layar HP, banyak orang tidak sadar bahwa setiap interaksi, prompt, atau pembuatan gambar AI menyedot air tawar dalam jumlah raksasa. Laporan dari Government Digital Sustainability Alliance (GDSA) mengungkapkan fakta memprihatinkan: booming AI—yang terus diakselerasi oleh tren avatar visual dan filter estetik di media sosial—telah memicu lonjakan fantastis pada kebutuhan air bersih hanya demi mendinginkan pusat data (data center).
Model AI besar seperti GPT-3 (cikal bakal ChatGPT) saja menyedot sekitar 700.000 liter air bersih cuma buat masa pelatihannya (pre–training). Diperkirakan pada 2027, pemakaian air global untuk AI bisa tembus 6,6 miliar meter kubik per tahun. Di Inggris sendiri, ini berisiko memperparah krisis air tawar yang diprediksi tekor 5 miliar liter per hari pada 2050.
Baca juga: Dokter Obgyn Diduga Lakukan Pelecehan lewat DM Instagram, Sejauh Mana Etika Profesi Berperan?
Dari Mana Saja Air Terkuras di Pusat Data?
Pusat data sebagai infrastruktur fisik AI mengonsumsi air melalui tiga mekanisme utama:
1 Sistem Pendinginan (Cooling Systems): Merupakan bentuk konsumsi air langsung paling masif. Server yang memproses pelatihan dan inferensi AI menghasilkan panas tinggi. Metode evaporative cooling (pendinginan penguapan) membuang panas melalui uap. Sekitar 80% air yang digunakan hilang ke atmosfer dan wajib diisi ulang secara terus-menerus menggunakan air tawar layak minum (potable water) agar pipa dan penukar panas (heat exchanger) tidak tersumbat kontaminan. Konsumsi terus-menerus ini berisiko menyedot pasokan air tanah serta merusak ekosistem akuatik di sekitarnya.
2 Pembangkitan Listrik (Electricity Generation): Pasokan listrik untuk pusat data membawa jejak air tersembunyi (embedded water footprint). Pembangkitan listrik, terutama dari bahan bakar fosil, membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pendinginan turbin. Jejak air tidak langsung ini sering diabaikan, padahal nilainya bisa setara atau melampaui kebutuhan pendinginan langsung.
3 Manufaktur Chip Semikonduktor: Pembuatan chip canggih membutuhkan air sangat murni (ultrapure water) untuk membilas sisa kimia pada dari piringan mentah bahan bakunya (piringan tipis ini yang disebut wafer silikon—bayangkan seperti lempengan alas sebelum dipotong-potong jadi chip kecil). Walau pemilik data center hanya membeli chip yang sudah jadi, proses cuci-membilas di pabrik chip ini menyumbang pemborosan air tawar yang sangat besar di awal.
Mengapa Harus Menggunakan Air Bersih?
Melansir dari Friend of Earth, penggunaan air sungai mentah sangat berisiko karena mengandung banyak lumpur, mikroba, dan endapan mineral. Jika dipaksakan masuk ke mesin pendingin presisi milik pusat data, kotoran ini bakal memicu bio–fouling—penumpukan bakteri dan kerak yang membuat pipa langsung mampet. Mengolah air sungai yang keruh jadi air bersih layak minum (potable water) juga butuh fasilitas pengolahan yang mahal dan sangat boros listrik.
Air laut pun bukan solusi karena kadar garam (salinitas) dan mineral terlarutnya amat tinggi. Saat air menguap dalam proses pendinginan, garam dan mineralnya akan tertinggal lalu mengendap. Endapan kristal ini akan membuat peralatan logam karatan (korosi) parah dan menyumbat saluran mesin secara fatal.
Lantas, kenapa tidak memakai AC atau kipas angin biasa? Dahulu pusat data memang mengandalkan pendingin udara konvensional. Namun, chip AI modern menghasilkan panas yang terlalu ekstrem untuk ditangani kipas biasa. Operator akhirnya beralih ke pendingin uap (evaporative cooling) karena jauh lebih hemat listrik dan murah, meski dampaknya harus mengorbankan air tawar.
Baca juga: Bukan Hal Biasa, Mereka Telah Membangun Kedaulatan Pangan
Gunakan AI Secara Bijak
Sistem ini dirancang oleh data center infrastructure engineers dan insinyur termal/HVAC di perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, AWS, dan Meta.
Awalnya, fokus para insinyur ini cuma satu: menekan penggunaan listrik agar emisi karbon turun. Solusi mereka adalah memakai pendingin uap air. Namun alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan ini malah menggeser krisisnya: dari yang tadinya boros listrik, sekarang jadi boros air tawar. Air pendingin ini pun hanya bisa diputar ulang beberapa kali sebelum akhirnya terlalu kotor, sehingga harus dibuang jadi limbah dan diganti air tawar segar yang baru.
Oleh karena itu gunakanlah kecerdasan buatan secara bijak. Menghentikan AI slop—seperti ikut-ikutan tren bikin avatar visual atau gambar generatif sekadar untuk hiburan beberapa detik di InstaStory—bisa menekan beban komputasi tak penting di pusat data.
Alihkan penggunaan AI untuk tugas-tugas yang benar-benar pentin, seperti membantu pengerjaan dokumen, riset, atau analisis kerjaan. Karena setiap kali tombol generate ditekan hanya untuk konten main-main, ada literan air tawar bersih bumi yang menguap dan terbuang begitu saja.
Referensi:
- Friends of the Earth. (2026). Why do data centers need fresh water? Friends of the Earth. https://foe.org/blog/why-do-data-centers-need-fresh-water/
- Government Digital Sustainability Alliance. (2025). Water use in data centre and AI report. Department for Environment, Food & Rural Affairs, UK Government. https://assets.publishing.service.gov.uk/media/688cb407dc6688ed50878367/Water_use_in_data_centre_and_AI_report.pdf
