Bincangperempuan.com- B-Pers, kayaknya bukan hal baru kalau di media sosial, setiap kali ada yang perempuan yang menyatakan tidak menikah, menunda punya anak, atau menunda nikah demi mimpi hidupnya sendiri, yang paling kepanasan di kolom komentar justru laki-laki. Padahal standar kebahagiaan tiap orang beda. Ada perempuan yang bahagia dengan hidup sederhana dan keluarga kecil, ada yang memilih fokus karier, studi, atau kerja sosial.
Tapi entah kenapa, begitu perempuan memaparkan mimpi yang bermakna buat dirinya, selalu ada laki-laki yang merasa perlu mengoreksi—seolah mimpi itu tidak tidak cukup keren, atau tidak valid. Di sinilah kita perlu berkenalan dengan fragile masculinity, ketika kegelisahan ketika perempuan punya definisi bahagia dan sukses di luar standar yang laki-laki anggap benar.
Apa Itu Fragile Masculinity?
Menurut kajian psikologi sosial, fragile masculinity merujuk pada kecemasan yang dirasakan sebagian laki-laki ketika mereka merasa gagal memenuhi standar maskulinitas yang berlaku di masyarakat. Berbagai penelitian yang dirangkum dalam jurnal psikologi—menunjukkan bahwa maskulinitas bukanlah sifat bawaan yang otomatis stabil, melainkan status sosial yang terus-menerus harus dibuktikan.
Sejak lama, banyak budaya menanamkan gambaran ideal tentang laki-laki: harus dominan, rasional, mapan secara ekonomi, dan menjadi penentu arah hidup. Ketika standar ini tidak terpenuhi, atau justru dipertanyakan—misalnya oleh perempuan yang mandiri dan tidak bergantung pada laki-laki—sebagian laki-laki meresponsnya sebagai ancaman terhadap identitas dirinya.
Salah satu penelitian psikologi menjelaskan kondisi ini lewat kerangka sederhana: maskulinitas terasa rapuh ketika ada jarak antara apa yang “seharusnya” dilakukan laki-laki menurut norma dan realitas dirinya saat ini. Semakin besar jarak itu, semakin besar pula rasa terancam yang muncul. Ancaman ini tidak selalu disadari, apalagi diakui, tetapi sering kali muncul dalam bentuk perilaku defensif.
Respons defensif tersebut bisa beragam. Ada yang muncul sebagai kecemasan atau rasa tidak cukup, tetapi ada pula yang diekspresikan keluar: menggurui, meremehkan, mendominasi percakapan, atau memberi saran tanpa diminta. Dalam banyak kasus, sasaran perilaku ini adalah perempuan—terutama ketika perempuan menyuarakan pilihan hidup yang tidak sesuai dengan skema maskulinitas tradisional.
Dalam konteks impian dan pilihan hidup perempuan, fragile masculinity terlihat ketika sebagian laki-laki merasa terganggu melihat perempuan bahagia dengan standarnya sendiri. Perempuan yang tidak menjadikan laki-laki sebagai pusat hidup, atau tidak mengukur sukses dari status ekonomi pasangan, sering kali dianggap menyimpang. Kebahagiaan perempuan lalu dibaca bukan sebagai pilihan personal, melainkan sebagai kegagalan laki-laki untuk menjadi figur yang dibutuhkan. Dari sinilah koreksi, penghakiman, dan komentar merendahkan bermunculan.
Padahal, penelitian yang sama juga menegaskan bahwa maskulinitas tidak harus selalu rapuh. Maskulinitas dapat menjadi lebih stabil ketika norma gender lebih lentur dan ketika harga diri laki-laki tidak bergantung pada kontrol atas perempuan atau pengakuan sosial semata. Dengan kata lain, masalahnya bukan pada mimpi perempuan, melainkan pada sistem nilai yang membuat kebebasan perempuan terasa mengancam.
Baca juga: Fragile Masculinity dan Dampaknya pada Perempuan
Kenapa Harus Mengoreksi Perempuan?
Pola ini sebenarnya cukup jelas. Ketika perempuan memiliki mimpi dan standar bahagia sendiri, mimpi itu tidak selalu melibatkan atau memprioritaskan laki-laki. Akibatnya, sebagian laki-laki kehilangan posisi sebagai pusat validasi dalam narasi hidup perempuan. Kehilangan posisi ini memicu reaksi defensif yang sering kali muncul sebagai koreksi, nasihat paksa, atau peremehan.
Alih-alih mendengarkan, sebagian laki-laki memilih mengembalikan kendali lewat kata-kata. Seolah dengan mengoreksi, mereka bisa kembali menegaskan posisi dan otoritasnya.
Concernvs Control
Penting membedakan antara kepedulian dan kontrol. Kepedulian biasanya datang lewat pertanyaan, kesediaan mendengar, dan penghormatan pada pilihan orang lain. Sementara kontrol sering kali menyamar sebagai nasihat, tetapi isinya menggurui, meremehkan, dan menganggap standar pribadi sebagai satu-satunya ukuran yang benar.
Saran yang tidak diminta, apalagi disampaikan dengan nada merendahkan seperti “masa nggak mau nikah?”, “masa nggak mau kaya?” justru lebih dekat pada upaya mengendalikan daripada bentuk kepedulian.
Baca juga: Girl Code, Aturan Persahabatan yang Tidak Tertulis
Dampak ke Perempuan
Di Indonesia, budaya patriarki masih membentuk standar tentang apa yang dianggap sebagai hidup ideal bagi perempuan. Meski akses pendidikan dan ruang publik semakin terbuka, penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi sosial yang menempatkan perempuan pada peran domestik dan relasional masih kuat. Akibatnya, mimpi perempuan yang tidak selaras dengan standar tersebut kerap dianggap berlebihan, atau tidak realistis.
Di sinilah fragile masculinity berperan. Ketika perempuan menyuarakan mimpi dan definisi bahagia yang tidak berpusat pada laki-laki atau standar sukses maskulin—seperti pernikahan, status ekonomi, atau ketergantungan—sebagian laki-laki merasa posisinya terancam. Ancaman terhadap status ini kemudian muncul dalam bentuk koreksi, nasihat tanpa diminta, atau komentar yang meremehkan pilihan hidup perempuan.
Respons defensif semacam ini berdampak langsung pada keberanian perempuan untuk bermimpi. Ketika mimpi terus diuji dengan standar maskulin, banyak perempuan belajar untuk menahan diri, merapikan ambisi, atau bahkan diam. Ruang publik pun menjadi kurang aman bagi narasi perempuan yang berbeda, dan mimpi perempuan pelan-pelan dipersempit oleh batasan sosial yang seharusnya tidak perlu ada.
Referensi:
- Stanaland, A., Gaither, S., & Gassman-Pines, A. (2023). When Is Masculinity “Fragile”? An Expectancy-Discrepancy-Threat Model of Masculine Identity. Personality and Social Psychology Review, 27(4), 359-377.https://doi.org/10.1177/10888683221141176
- Al-Mujtama’. (2023). Budaya patriarki dan implikasinya terhadap pendidikan perempuan di Indonesia. Al-Mujtama’: Journal of Social Sciences. https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/mujtama/article/view/22471
- Vandello, J. A., & Bosson, J. K. (2019). Fragile masculinity: Anxiety about the social status of manhood. Current Opinion in Psychology, 33, 11–15. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352154619301287
