Grok: High Tech, Low Key Misogyny

Retno Wahyuningtyas

Opini

Bincangperempuan.com– Selamat datang di edisi ini. Di tanganmu, kami mencoba membedah sebuah entitas digital yang sedang naik daun: Grok.

Kita diberitahu bahwa Grok adalah masa depan. Kita diberitahu bahwa ia adalah AI yang “berani,” “anti-woke,” dan punya “selera humor.” Tapi, pernahkah kamu bertanya: siapa yang sedang tertawa? Namun siapakah yang menjadi objek pembicaraan/ candaannya?

Grok tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah cerminan dari data yang kita unggah, debat kusir yang kita saksikan, dan yang paling krusial, yakni ego dari para penciptanya di Silicon Valley. Saat sebuah mesin dilatih untuk menjadi “edgy” dan “unfiltered” menggunakan data dari sudut-sudut internet yang penuh kebencian, “teknologi tinggi” yang dijanjikan hanyalah topeng bagi low-key misogyny (misogini terselubung) yang sudah lama kita perjuangkan dan terus lawan di dunia nyata.

The “Anti-Woke” Trap

  • Grok dipasarkan sebagai AI yang “berani” dan “anti-woke”.
  • Di balik label “anti-woke”, sering kali tersembunyi upaya untuk menormalisasi kembali perilaku seksis yang selama ini sudah dikritik oleh gerakan feminis. Grok bukan sekadar AI tetapi juga merupakan instrumen backlash (perlawanan balik) terhadap kesetaraan.
  • Grok dilatih langsung menggunakan data real-time dari platform X, yang merupakan “medan perang” di mana misogini digital tumbuh subur. Dengan menyerap data tanpa filter etika yang kuat, Grok secara otomatis mengadopsi cara pandang patriarki yang agresif dari kolom komentar X.

Mengapa Kritik Ini Muncul?

Beberapa alasan mengapa label ini sering disematkan pada Grok oleh para pengamat teknologi adalah:

  • Filter yang Longgar: Berbeda dengan AI lain yang sangat ketat menyaring konten ofensif, Grok dibuat agar lebih “bebas bicara”. Hal ini terkadang membuatnya melontarkan jawaban yang dianggap seksis.
  • Pengaruh Elon Musk: Gaya bicara Grok sengaja dibuat mirip dengan gaya komunikasi Elon Musk yang sering kali kontroversial, provokatif, dan terkadang dianggap meremehkan isu-isu kesetaraan gender.
  • Data Pelatihan: Karena Grok belajar banyak dari percakapan di platform X, ia rentan menyerap budaya “toxic” yang ada di platform tersebut jika tidak difilter dengan hati-hati.

Misogini yang Diotomatisasi

Apa jadinya jika kebencian terhadap perempuan diprogram ke dalam kode?

Misogini bukan lagi sekadar komentar individu, tapi menjadi output sistemik. Grok bisa menghasilkan narasi yang merendahkan perempuan dengan kecepatan cahaya, menjadikannya mesin propaganda patriarki yang efisien.

Sarkasme = Gaslighting?

Grok dipuji karena sifatnya yang “sarkastik”. Dalam relasi kuasa, sarkasme dari pihak yang dominan terhadap kelompok marjinal adalah bentuk gaslighting. Menganggap remeh perjuangan perempuan dengan balutan “candaan AI” adalah cara halus untuk membungkam kritik.

Digital Masculinity: The Tech-Bro Vibe

Grok diumpakan seperti sebuah maskulinisme digital. Produk teknologi yang lahir dari lingkungan yang homogen (didominasi laki-laki) cenderung mengagungkan logika kompetisi dan dominasi, sambil membuang jauh-jauh nilai empati.

Kehadiran AI yang bias membuat internet makin tidak ramah bagi perempuan. Dari disinformasi gender hingga penguatan stereotip (misal: perempuan tidak becus memimpin), Grok bisa memperparah diskriminasi di dunia nyata melalui validasi “kecerdasan buatan” yang cacat logika.

Siapa yang Memegang Kendali?

Kita mengetahui bahwa data is power. Ketika pengembangan AI hanya dikuasai segelintir elit laki-laki dengan agenda “free speech” yang bias, suara dan keamanan perempuan dikorbankan demi profit dan popularitas “edgy-ness” belaka.

Kekuasaan atas algoritma adalah kekuasaan atas realitas. Jangan biarkan mereka mendikte realitas kita.

ACTION PLAN! Apa yang bisa kita lakukan?

1. Watchdogging (Audit Publik) ⟶ Jangan biarkan bias lewat! Screenshot jawaban Grok yang misoginis, kumpulkan bukti, dan viralkan. Tujuannya untuk membongkar kedok “AI Tanpa Filter” sebagai “AI Pro-Patriarki”.

2. Data Boycott Grok “memakan” dari cuitanmu di X. Nonaktifkan data sharing di pengaturan privasi atau pindah ke platform yang lebih etis (Bluesky/Mastodon). Tujuannya untuk memutus rantai pasokan data untuk algoritma toksik.

3. Counter-Narrative Edukasi kawanmu bahwa sarkasme Grok bukan “cerdas, tapi Gaslighting Digital. Lawan narasi mereka dengan konten analisis dan kritik yang tajam. Tujuannya agar perempuan tidak terintimidasi oleh “cuitan” bot.

4. Tuntut Akuntabilitas Dukung petisi/regulasi yang memaksa perusahaan AI bertanggung jawab secara hukum atas konten kebencian. Tujuannya untuk menekan elit tech-bro untuk memasang pagar etika yang melindungi perempuan.

Resist & Reclaim! Kita tidak butuh AI yang “pintar” tapi membenci kita. Tuntut transparansi algoritma! Dukung pengembangan AI yang inklusif dan beretika. Jangan biarkan kode menentukan nilai dirimu. MY BODY, MY CHOICE, NOT YOUR ALGORITHM!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kisah Keadilan Gender dari Wartawan Perempuan di Wilayah Asia-Pasifik

Kata Influencer: “Kuliah itu Scam?”

High Value Women

Kenapa High Value Women Lebih Banyak Bersinar Saat Ini?

Leave a Comment