IDAI: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit Infeksi pada Anak

Bincang Perempuan

News

Bincangperempuan.com- Perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan anak. Peningkatan suhu bumi, perubahan pola curah hujan, pencemaran udara, hingga kerusakan lingkungan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit infeksi pada anak-anak.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, dr. Riyadi, Sp.A., Subsp. Inf.P.T(K), dalam Seminar Media yang diselenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Menurut Riyadi, perubahan iklim telah mengubah pola penyebaran berbagai penyakit infeksi dan memperbesar ancaman kesehatan bagi generasi mendatang. Karena itu, isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Kenaikan Suhu Bumi Perluas Sebaran Penyakit Tropis

Riyadi menjelaskan bahwa peningkatan suhu bumi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pola penyebaran penyakit infeksi di berbagai negara. Kenaikan suhu global menyebabkan wilayah beriklim tropis semakin meluas sehingga memungkinkan berbagai vektor penyakit, seperti nyamuk pembawa demam berdarah dan malaria, berkembang di daerah yang sebelumnya terlalu dingin untuk menjadi habitatnya.

Fenomena tersebut, menurutnya, telah terlihat di sejumlah negara subtropis dan non-tropis yang mulai melaporkan kasus penyakit tropis. Padahal sebelumnya penyakit tersebut hampir tidak ditemukan karena faktor suhu yang tidak mendukung perkembangan nyamuk dan organisme pembawa penyakit lainnya.

Ia mencontohkan mencairnya lapisan es di sejumlah wilayah pegunungan sebagai salah satu indikator nyata peningkatan suhu bumi. Perubahan suhu tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga memengaruhi keseimbangan ekosistem yang selama ini membatasi penyebaran berbagai penyakit menular.

“Ketika suhu meningkat, nyamuk dan vektor penyakit lainnya dapat hidup lebih lama, berkembang biak lebih cepat, dan menjangkau wilayah yang lebih luas. Akibatnya, risiko penyebaran penyakit infeksi juga meningkat,” ujarnya.

Selain suhu yang lebih panas, perubahan pola curah hujan turut memperburuk situasi. Curah hujan yang tidak menentu menciptakan lebih banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit seperti demam berdarah, malaria, hingga diare yang berkaitan dengan buruknya sanitasi dan kualitas air.

Baca juga: Ketika Laut Diberi Jeda: Cara Nelayan Bengkulu Memulihkan Gurita dan Menghemat Energi Melaut

Anak Kelompok Paling Rentan

Riyadi menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Saluran pernapasan yang masih berkembang, sistem imun yang belum matang, serta aktivitas yang banyak dilakukan di luar ruangan membuat anak lebih mudah terpapar polutan maupun agen penyakit.

Paparan polusi udara, menurutnya, dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut, asma, alergi, hingga gangguan perkembangan anak. Bahkan dampaknya dapat dirasakan sejak masa kehamilan.

“Paparan polusi udara dan logam berat tidak hanya berdampak pada anak yang sudah lahir, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan kondisi kesehatan yang tidak optimal,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai zat pencemar seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, karbon monoksida, hingga partikel halus di udara dapat memicu peradangan pada saluran napas dan menurunkan daya tahan tubuh anak. Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah terserang penyakit infeksi.

Kerusakan Lingkungan Perburuk Ancaman Penyakit

Selain perubahan iklim, kerusakan lingkungan akibat penggundulan hutan, pencemaran air, penggunaan plastik berlebihan, dan pengelolaan sampah yang buruk juga memperbesar ancaman penyakit menular.

Menurut Riyadi, perambahan hutan menyebabkan satwa liar kehilangan habitatnya dan semakin dekat dengan permukiman manusia. Situasi ini meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan.

“Ketika habitat satwa terganggu, interaksi antara manusia dan hewan liar menjadi lebih sering. Akibatnya peluang perpindahan penyakit dari hewan ke manusia juga meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kepadatan penduduk, sanitasi yang buruk, dan rendahnya kesadaran menjaga lingkungan turut mempercepat penyebaran penyakit infeksi.

Pentingnya Mitigasi dan Adaptasi

Dalam kesempatan tersebut, Riyadi juga menyoroti pentingnya upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim serta risiko bencana. Menurutnya, pembangunan harus mempertimbangkan faktor lingkungan agar tidak memperbesar kerentanan masyarakat terhadap bencana dan penyakit.

Ia menilai bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan kembali yang lebih aman dan berkelanjutan.

“Kita perlu belajar dari setiap bencana. Ketika membangun kembali suatu wilayah, harus dipikirkan bagaimana mengurangi risiko agar kejadian serupa tidak terus berulang,” katanya.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat, termasuk anak-anak, menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana.

Baca juga: #RebuildingtheCommons: Perempuan Kota Merawat Kehidupan Lewat Kebun Rumahan di Tengah Keterbatasan Ruang

Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, Riyadi mengajak masyarakat melakukan langkah-langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, menghemat air dan energi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, menanam pohon, serta menghindari pembakaran sampah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga sanitasi, kebersihan lingkungan, dan kualitas udara di sekitar tempat tinggal sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan anak.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab sektor lingkungan hidup, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan generasi mendatang. Anak-anak adalah kelompok yang paling terdampak, sehingga perlindungan terhadap lingkungan pada akhirnya adalah investasi bagi kesehatan mereka,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Yayasan PUPA Bengkulu

Yayasan PUPA Bengkulu, Gerakan Perempuan Untuk Perempuan

Pahitnya Realita Buruh Perempuan di Balik Gemerlap Industri Sawit

Pahitnya Realita Buruh Perempuan di Balik Gemerlap Industri Sawit

Krisis Pendanaan Global, Mengancam Layanan Kesehatan Reproduksi Termasuk di Indonesia

Leave a Comment