Bincangperempuan.com- India sebenarnya udah bikin langkah maju soal kesehatan dan kebersihan menstruasi (MHH). Salah satunya lewat Skema Kebersihan Menstruasi yang bikin akses produk menstruasi jadi lebih gampang buat banyak orang.
Tujuan program ini jelas, agar remaja putri lebih sadar soal pentingnya kebersihan menstruasi, memperluas akses pembalut berkualitas dengan harga terjangkau, khususnya di desa. Serta memastikan pembuangan pembalut dilakukan dengan cara yang aman dan ramah lingkungan.
Skema ini pertama kali jalan tahun 2011 di 107 distrik di 17 negara bagian. Saat itu, satu pak isi enam pembalut yang disebut Freedays bisa dibeli remaja putri di desa dengan harga cuma Rs. 6. Mulai 2014, dananya disalurkan lewat Misi Kesehatan Nasional, jadi tiap negara bagian bisa langsung ngatur pengadaan pembalut bersubsidi seharga Rs 6 per pak isi enam.
Distribusinya dibantu ASHA (kader kesehatan). Mereka dapet insentif Rs 1 per pak yang terjual plus satu pak gratis tiap bulan untuk dipakai sendiri. Selain itu, ASHA juga rutin ngadain pertemuan di Pusat Aanganwadi buat ngobrolin isu kebersihan menstruasi sekaligus isu kesehatan reproduksi lain yang relevan. Buat mendukung, pemerintah bikin materi edukasi 360 derajat: mulai dari audio, video, bacaan untuk remaja, sampai alat bantu buat ASHA agar lebih gampang komunikasi.
Tapi tetap aja, kesetaraan menstruasi sejati masih jauh dari kata tercapai, apalagi di wilayah yang terpinggirkan.
Baca juga: Sampah Menstruasi: Darurat yang Tak Pernah Jadi Prioritas
Kesenjangan yang Masih Lebar
Program MHH nasional ini patut diapresiasi, tapi kenyataannya masih banyak ketimpangan antarwilayah. Pemerintah belum bisa menjembatani gap antara daerah yang maju dengan daerah yang ketinggalan. Hasilnya, solusi perlu lebih spesifik dan nyambung sama kondisi tiap wilayah.
Data Survei Kesehatan Keluarga Nasional-5 (SKKK-5) nunjukin, cuma 27,7% perempuan muda umur 15–24 tahun yang punya akses lengkap ke layanan MHH (produk menstruasi aman, air bersih, sabun, plus fasilitas sanitasi pribadi). Itu berarti hampir 3/4 perempuan muda masih harus berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, masalah biaya, dan stigma sosial.
Angka nasional ini bahkan nutupin jurang perbedaan antarwilayah. Akses MHH misalnya, di distrik Karimganj, Assam cuma 2,3% (parah banget), tapi di Champhai, Mizoram bisa sampai 89,4%. Artinya, manfaat MHH masih nggak merata, terutama di India bagian tengah, timur, dan timur laut.
Kemiskinan menstruasi sering dianggap cuma soal nggak mampu beli pembalut. Padahal lebih kompleks: nggak ada akses air bersih, sanitasi layak, informasi yang benar, sampai lingkungan yang suportif tanpa stigma.
Perempuan di desa, keluarga miskin, atau kelompok marginal paling banyak kena dampak. Buat mereka, menstruasi bukan sekadar urusan fisik, tapi bisa jadi sumber stres, kecemasan, bahkan risiko kesehatan serius.
Baca juga: Kenapa Menstruasi Bisa Bareng Sama Bestie?
Akses ke WASH (Water, Sanitation, Hygiene)
Akses WASH yang memadai itu fondasi penting buat kelola menstruasi dengan sehat. Tapi data NFHS-5 bilang, sekitar 22% perempuan India nggak punya akses air di rumah, dan lebih dari 25% nggak punya sabun buat cuci tangan. Padahal ini kebutuhan dasar banget. Kalau nggak terpenuhi, perempuan sering terpaksa pakai cara-cara nggak higienis yang bikin risiko infeksi makin tinggi.
Kondisi ini paling parah di wilayah tengah, timur, dan timur laut India. Kurangnya infrastruktur langsung ngefek ke rendahnya akses MHH di sana. Jadi investasi ke WASH bukan cuma soal bangun toilet atau sumber air, tapi juga bangun fondasi buat kesehatan menstruasi yang aman sekaligus memberdayakan perempuan.
Pendidikan juga jadi kunci besar. Data nunjukin, perempuan dengan pendidikan lebih tinggi jauh lebih mungkin punya akses MHH memadai. Dengan pendidikan, mereka punya pengetahuan dan kepercayaan diri buat kelola menstruasi dengan sehat.
Selain itu, pendidikan bisa bantu lawan tabu dan norma sosial yang bikin menstruasi dianggap memalukan. Media massa juga bisa punya peran: bantu normalisasi obrolan soal kesehatan reproduksi dan sebarin info yang benar.
Kesenjangan Ekonomi
Kesenjangan ekonomi jelas bikin masalah MHH makin terasa. Solusinya bukan cuma subsidi pembalut, tapi juga support buat akses WASH. Misalnya, kasih insentif tunai buat keluarga yang mau invest di sanitasi rumah. Itu bisa bikin mereka lebih peduli bangun fasilitas dasar yang penting banget.
Tapi infrastruktur fisik aja nggak cukup. Norma sosial yang bikin orang malu atau ogah pakai fasilitas juga harus ditangani. Itu butuh edukasi yang tepat, keterlibatan masyarakat, dan pendekatan sesuai budaya lokal.
Kebijakan yang efektif harus bisa pastikan produk menstruasi gratis atau murah tersedia, fasilitas sanitasi layak ada, dan semua itu diawasi ketat. Kolaborasi publik-swasta juga bisa bantu, misalnya lewat distribusi produk dengan harga terjangkau atau bangun WASH di daerah tertinggal.
Gerakan akar rumput pun penting banget. Perempuan bisa jadi aktor utama: dari bikin dan rawat fasilitas lokal, sampai pimpin kampanye edukasi di komunitas mereka.
Menuju Kesetaraan Menstruasi
Pemerintah memang harus fokus nutup kesenjangan regional MHH. Tapi nggak cukup berhenti di sana. Investasi infrastruktur WASH, akses adil ke produk, dan edukasi harus jalan bareng. LSM dan tokoh lokal bisa jadi ujung tombak program yang nyambung sama kebutuhan komunitas.
Kita semua juga punya peran. Edukasi diri sendiri, ngobrolin isu ini tanpa tabu, dukung organisasi yang kerja di bidang MHH. Kalau digarap bareng-bareng, kesetaraan menstruasi di India bisa tercapai.
Karena pada akhirnya, menstruasi bukan sekadar isu kesehatan perempuan. Ini soal hak asasi manusia dan keadilan sosial. Semua orang berhak jalani menstruasi dengan sehat, aman, dan bermartabat.
Referensi:
- Menstrual Hygiene Scheme(MHS) https://nhm.gov.in/index1.php?lang=1&level=3&sublinkid=1021&lid=391
- Regional inequity in menstrual health persists in India https://360info.org/regional-inequity-in-menstrual-health-persists-in-india/
