WNI Lelah dengan Berita Buruk? Waspada Kena News Fatigue!

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Ketika bangun tidur untuk memulai hari, banyak dari kita langsung meraih ponsel. Awalnya sekadar mematikan alarm atau mengecek jam. Beberapa saat kemudian, jari sudah menggulir linimasa media sosial. 

Di sanalah kabar tentang kondisi negara menyambut: mulai dari banjir di berbagai daerah, hutan yang terus menyusut, kasus korupsi yang tak kunjung tuntas, hingga pernyataan wakil rakyat yang ramai di media, tapi jauh dari suara rakyat. Hari bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi kepala sudah terasa penuh.

Di Indonesia, berita buruk datang hampir tanpa jeda. Saat satu bencana belum selesai ditangani, muncul kabar bencana lain. Ketika publik masih mencerna kebijakan yang menuai kritik, pernyataan pejabat kembali memantik amarah. Dalam situasi seperti ini, mengikuti berita tidak lagi menjadi bentuk kepedulian sebagai warga negara, melainkan rutinitas yang menguras emosi.

Ada rasa bersalah ketika berhenti membaca berita. Seolah tidak mengikuti kabar terbaru sama artinya dengan tidak peduli. Padahal, semakin sering membaca, yang muncul justru rasa cemas, marah, dan tidak berdaya. Kita tahu ada yang keliru, tetapi tidak tahu harus berbuat apa selain terus mengeluh di dalam hati.

Di titik ini, kelelahan bukan hanya soal pekerjaan atau target hidup, melainkan kelelahan sebagai warga. Lelah karena setiap hari disuguhi masalah negara tanpa ruang bernapas. Kondisi inilah yang dikenal sebagai news fatigue.

Apa itu News Fatigue?

News fatigue adalah kelelahan psikologis akibat terlalu banyak mengonsumsi informasi, terutama berita yang datang bertubi-tubi dari media massa dan media sosial. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi meningkat drastis dalam satu dekade terakhir, seiring dengan ledakan informasi di era internet.

Fenomena ini dijelaskan oleh Heesoo Jang, peneliti dari Hussman School of Journalism and Media, University of North Carolina. Menurut Jang dalam UNC, kelelahan terhadap berita meningkat drastis sejak internet dan media sosial membuat arus informasi nyaris tak berbatas, sementara kapasitas mental manusia terbatas.

Baca juga: Pelanggaran yang Dianggap Sukarela: Bukti Gagalnya Perlindungan Pemilih Perempuan di Pilkada Bogor 2024

Apakah Warga Negara Indonesia Mengalami News Fatigue?

Survei Reuters Institute Digital News Report mencatat bahwa 75 persen konsumen berita di Indonesia mengaku kadang hingga sering menghindari berita arus utama. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global dari 42 negara yang disurvei, yakni 71 persen. 

Alasan penghindaran karena pemberitaan kerap dianggap memicu perdebatan, terlalu didominasi isu politik, serta dipenuhi kabar perang dan konflik yang berdampak negatif pada suasana hati. Derasnya volume berita juga membuat banyak warga merasa lelah secara mental. Data ini menegaskan bahwa news fatigue telah dialami secara luas oleh warga Indonesia, bukan sekadar keluhan individual saja.

Apakah News Fatigue Berbahaya?

News fatigue bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Sisi positifnya ini bisa menjadi penanda dari tubuh dan pikiran bahwa kita membutuhkan jeda. Otak meminta waktu untuk berhenti sejenak sebelum menerima informasi baru.

Masalah baru muncul ketika kelelahan seseorang berhenti secara total mengonsumsi berita. Saat orang benar-benar berhenti mengakses informasi penting—tentang kesehatan, kebijakan publik, atau hak politik—news fatigue berubah menjadi persoalan serius. Di titik itu, warga kehilangan akses pada informasi yang justru dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari dan partisipasi sebagai warga negara.

Karena itu, yang penting bukan memaksa diri terus mengikuti berita, tetapi mengelola kelelahan sebelum berubah menjadi apatis.

Ketika News Fatigue Menjadi Mean World Syndrome

Ada fenomena yang dikenal sebagai mean world syndrome—kondisi ketika seseorang memahami dunia hanya melalui media, terutama lewat paparan berita buruk yang datang tanpa henti. Dalam situasi ini, dunia terasa jauh lebih suram dan tanpa harapan dibandingkan kenyataan. Padahal kenyataannya tidak seburuk itu, melainkan karena media cenderung menonjolkan peristiwa negatif. Semua itu disajikan bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda.

Akibatnya, rasa putus asa perlahan terbentuk. Kita merasa seolah hidup di tengah krisis yang tak pernah selesai, sementara upaya individu terasa kecil dan tidak berarti. Padahal, kelelahan itu bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena terlalu sedikit interaksi langsung dengan dunia nyata di sekitar. 

Tekanan di media sosial memperberat keadaan. Ada ekspektasi tak tertulis untuk selalu membagikan ulang template isu hangat, mengomentari kebijakan yang merugikan, atau menunjukkan sikap setiap kali kabar buruk muncul. Ketika seseorang tidak melakukannya—atau memilih tidak membuka media sosial selama beberapa hari—maka dianggap abai. Padahal, mengambil jarak bukan berarti tidak peduli.

Baca juga: Ketika Punya Pacar Tak Lagi Jadi Kebanggaan

Mengambil Jeda Tanpa Terlihat Apatis

Kepedulian tidak selalu harus tampil di linimasa. Ketika bencana terjadi jauh dari tempat kita tinggal, membantu lewat donasi atau dukungan nyata sudah merupakan bentuk empati. Tidak semua orang harus hadir setiap saat di ruang digital. Kelelahan itu valid, dan mengambil jeda adalah cara untuk menjaga diri agar tidak runtuh oleh kabar buruk.

Selain mengambil jeda, langkah yang bisa dilakukan adalah menyeimbangkan paparan informasi. Mengatur algoritma agar tidak hanya dipenuhi berita negatif, tetapi juga kabar positif, isu lokal, atau konten yang memberi harapan, dapat membantu menjaga kewarasan. 

Selain itu aktivitas luring seperti berolahraga, menekuni hobi, atau sekadar berjalan kaki, juga penting untuk mengembalikan rasa terhubung dengan dunia nyata.

Mematikan notifikasi berita pun bukan tindakan pengecut. Justru, itu adalah bentuk manajemen emosi. Sebab kejadian yang ada di berita sering kali berada di luar kendali kita, tetapi respons emosional terhadapnya masih bisa diatur. Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan—emosi, pilihan, dan tindakan nyata—yang dapat mengembalikan rasa berdaya.

Istirahat dari berita bukan berarti berhenti peduli. Dalam konteks Indonesia yang hampir setiap hari dibanjiri kabar buruk, jeda justru menjadi strategi bertahan. Sebab, kepedulian yang dipaksakan tanpa ruang bernapas hanya akan berujung pada kelelahan yang berujung pada ketidakpedulian.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Koalisi Cek Fakta Kritik Kantor Komunikasi Presiden yang Melabeli Konten Berita sebagai ‘Click-Bait’ dan Mengklaim Propaganda sebagai Cek Fakta

Koalisi Cek Fakta Kritik Kantor Komunikasi Presiden yang Melabeli Konten Berita sebagai ‘Click-Bait’ dan Mengklaim Propaganda sebagai Cek Fakta

Dekonstruksi Maskulinitas dalam Dunia Kerja yang Kompetitif

Kenapa Banyak Laki-Laki Cepat Punya Pacar Baru Setelah Putus?

Leave a Comment