Bincangperempuan.com- Minggu malam, 24 Agustus 2025, panggung Fabriek Padang berubah menjadi ruang pertunjukan dengan judul Indomiii Rasa Rendang, Sambil Menyelam Minum Plastik. Pertunjukkan teater ini membuka Festival Seni dan Budaya Pekan Nan Tumpah (24–30 Agustus 2025), sebuah perayaan seni lokal yang menyatukan tradisi, kontemporer, dan kritik sosial yang diadakan rutin dwi tahunan.
Latar panggung tampak menyerupai kerangka bangunan yang belum jadi. Bukan dinding kokoh, melainkan kayu-kayu penyangga yang masih terbuka, beberapa lembar seng menempel seadanya, seolah panggung itu sendiri hanyalah bangunan yang digantung nasibnya. Di atas, tergantung sebuah palang bertuliskan “UTAMAKAN KESELAMATAN” dengan huruf merah mencolok—khas peringatan proyek, dengan bendera bajak laut One Piece di tengahnya.
Sorot proyektor lalu menembus panggung, menayangkan gambar sawah, ladang, dan hutan. Di bawah cahaya itu, hadir seorang ibu dengan pakaian tradisional memakai baju kurung dan tangkuluak tanduk. Tubuhnya bergerak pelan, sibuk dengan pekerjaan sehari-hari: seperti menanam, merawat, atau sekadar menjaga alam di sekitarnya. Diiringi tiupan saluang yang lirih, panggung seolah berubah menjadi ruang pedesaan—hangat, penuh denyut hidup yang akrab.
Namun, kehangatan itu tak bertahan lama. Dari pengeras suara bergema kalimat yang diulang-ulang: “Kasihan ibu, kasihan ibu…” Suaranya monoton, menekan, seperti ratapan tanpa ujung. Lampu panggung yang semula redup kini menyala terang, menyingkap lantai yang dipenuhi warna-warni asoy—kantong kresek dalam bahasa luar Sumatera.
Sosok ibu kini tak sendiri. Di sampingnya muncul seorang perempuan dengan penampilan kontras: kaus, rompi jeans, celana hitam, dan ikat kepala biru. Geraknya liar, menari sembarangan, seolah menertawakan kesakralan suasana.
Langkah sang ibu mendadak terhenti, ia mematung. Perempuan berbandana biru itu menggenggam corong pengeras suara dan mulai melontarkan monolog tentang makanan—apa yang dimakan, bagaimana sesuatu dikonsumsi. Namun gesturnya lebih lantang daripada kata-katanya: jemarinya mencuil tubuh sang ibu, mempreteli lapisan demi lapisan, seakan benar-benar melahap dagingnya. Sang ibu memasang wajah sedih, tubuhnya menegang, suaranya parau seolah menahan sakit yang tak terucapkan.
Setelah perempuan bendana biru itu selesai berceloteh melalui corong pengeras suara, lampu meredup. Suasana berganti, panggung tenggelam dalam gelap, musik pun berubah. Lalu rakyat datang berbondong-bondong memenuhi ruang, seperti sedang menyambut tamu agung. Mereka menari sambil membentuk formasi sembari memanggul makanan, ada yang berlagak sebagai influencer kuliner, ada yang berdandan seperti pegawai negeri, ada yang berkostum petani, ada pula yang tampil necis dengan dasi. Bahkan, satu di antaranya menjelma Luffy, tokoh utama anime One Piece.
Baca juga: Matrilineal Minangkabau dalam Seni dan Realita
Indomie Rasa Rendang: Tradisi Dipreteli Jadi Konsumsi Cepat Saji

Cahaya merah menyala, musik berdentum menyerupai sirine darurat. Tubuh-tubuh di panggung berputar, formasi terus berganti, cahaya meloncat-loncat antara merah dan biru. Dari tengah pusaran itu terdengar dialog: “Indomie rasa rendang, lima jam jadi lima belas menit, siap disantap.” Tak berhenti di sana, mereka juga menyebut gulai ikan, hingga bareh Solok—ikon kuliner Minang yang kini dijual sebagai ikon wisata kuliner.
Di sinilah rendang tampil sebagai pusat ironi. Makanan yang sejak lama lekat dengan ritual keluarga dan pesta adat itu kini diperlakukan sebagai komoditas instan. Kejayaannya di panggung dunia—dinobatkan CNN sebagai makanan terenak nomor satu di dunia. Dan bahkan kini tengah diusulkan ke dalam daftar warisan budaya UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)—sebuah pengakuan prestisius yang seharusnya menegaskan nilai budaya.
Namun, justru di saat yang sama rendang semakin rentan dieksploitasi. Semua pihak yang punya modal, dari korporasi hingga pemerintah, berlomba mengkapitalisasi rendang. Mulai darimenjualnya dalam kemasan instan, menempelkan identitasnya di museum, atau sekadar menjadikannya branding pariwisata.
Salah satu aktor berseru, “Dapur kau sulap jadi museum kebudayaan.” Seloroh itu terasa menyinggung kerja Menteri Kebudayaan yang sering kali hanya berkisar pada peresmian museum demi museum. Mahatma Muhammad, penulis naskah, mengaku memang menyisipkan kritik tersebut. Adegan itu bahkan membangkitkan ingatan saya pada obrolan warga Kota Padang tentang museum rendang dan sentra rendang yang belum lama ini diresmikan di daerah mereka.
Pembangunan itu terasa jauh dari denyut kehidupan sehari-hari rakyat, sementara rendang terus dipertontonkan sebagai simbol kebanggaan instan‘kearifan lokal’ yang ironisnya bertentangan dengan nilai-nilai sesungguhnya yang dijalani masyarakat Minang, yang hidupnya jauh lebih kompleks daripada sekadar simbol kuliner atau eksotisme budaya.
Baca juga: Dari Sukatani Band hingga Payung Hitam: Pola Lama Represi Seni di Indonesia
Jeritan Ibu Bumi dari dalam Lautan Plastik

Lalu suasana bergeser. Musik melambat, masuk seorang ibu dengan gerak silek, berhadapan dengan perempuan bandana biru yang bermonolog tadi yang kini bergaya kasual, hampir seperti preman. Tak lama, dentuman musik DJ mengguncang ruangan, lampu sorot menyorot sosok ibu di tengah panggung yang kali ini sedang melahirkan. Anak-anak mengelilinginya, tapi tubuh ibu itu dibalut plastik.
Lampu beralih ke biru, musik mengalun dramatis, terdengar gemuruh air terjun. Di tengah panggung, seorang ibu berbaring, tubuhnya diselimuti plastik dan dikelilingi masyarakat. Dari kerumunan itu, seorang anak laki-laki bersorak lantang: “Ini aku anakmu, Bu! Dahulu pernah kau suapi air hujan, dan semua yang bocor.”
Sosok ibu menjawab dengan suara berat: “Jangan kau panggil aku ibu, Nak! Panggilanmu terlalu berat untuk pundakku. Aku takut… aku takut tak bisa menyelamatkanmu dari dunia yang memakan anak-anaknya sendiri.”
Di titik ini, jelas bahwa ibu bukan sekadar figur perempuan dalam tradisi Minang. Mahatama Muhammad, penulis naskah, menegaskan bahwa kehadiran ibu di pusat panggung bukan semata karena budaya matrilineal Minangkabau. Sosok ibu dimaksudkan sebagai perwujudan bumi—tanah yang memberi kehidupan sekaligus menanggung luka. Sang ibu adalah metafora tentang alam yang dipanggil terus-menerus, tapi juga dieksploitasi tanpa ampun.
Monolog pun beralih pada tanah tentang bagaimana manusia makan dari tanah, namun di saat yang sama tega menggadaikannya. Dari tengah lingkaran, seorang anak tiba-tiba berteriak, “Ibu, aku bermimpi semuanya merah. Aku melihat zombie berdasi!” Ia berlari ketakutan, meraung, memutari panggung sembari memanggil ibunya.
Ibu menjawab: “Jika kalian lupa berdoa pada tanah, kita akan ke sana.” Begitu kalimat itu jatuh, musik semakin dramatis. Lampu berganti-ganti antara kuning dan hijau, dan muncullah para “zombie” itu: tubuh-tubuh rapih berjas dan berdasi, tetapi bergerak kaku, menyeramkan. Mereka bukan hantu, melainkan wajah nyata pejabat dan pengusaha yang menghisap tanah.
Masyarakat di panggung menggeliat berloncatan, mencoba melawan. Pertarungan berlangsung sengit, diwarnai cahaya merah yang berkedip-kedip. Namun akhirnya, dua sosok zombie berdasi berdiri tegak di tengah panggung dengan latar merah membara. Siapa yang menang? Bukan ibu, bukan masyarakat, melainkan kapitalisme yang menjelma zombie berjas dan berdasi. Dan di antara riuh itu, tersisa pertanyaan berapa lama lagi kita akan membiarkan ibu bumi dikalahkan oleh konsumsi instan yang menggerus tanah masyarakat?
