Internalized Misogyny di Candaan yang Kita Normalisasikan

Ais Fahira

News

Internalized Misogyny di Candaan yang Kita Normalisasikan

Bincangperempuan.com– “Pap dong,” Lalu dikirimlah foto celana dalam yang ditaruh di lutut, agar tampak seperti belahan tubuh bagian bawah perempuan. Kelihatannya memang lucu, tapi sebenarnya juga menyedihkan.

Atau ketika seorang perempuan memakai lingerie lalu sesama perempuan menyebutnya sebagai “baju dinas malam”. Tak sedikit dari kita yang ikut tertawa, berkomentar, atau bahkan membagikannya. Sekilas memang tampak seperti lelucon ringan, tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang lebih dalam yakni humor seksis—jenis humor yang merendahkan, mengejek, atau menertawakan seseorang (biasanya perempuan) berdasarkan jenis kelamin atau peran gender mereka.

Karena sering diungkapkan sesama perempuan, humor tersebut bisa menjadi internalized misogyny atau dalam bahasa sederhananya, kebencian terhadap perempuan yang justru datang dari perempuan sendiri.

Candaan-candaan di media sosial yang menjadikan tubuh perempuan sebagai objek, mengomentari cara berpakaian, atau mengaitkan nilai diri dengan seksualitas, kerap dibungkus dengan nada main-main. Kita dibuat berpikir bahwa semua itu hanya humor receh, padahal sesungguhnya, itu adalah bentuk perpanjangan sistem patriarki yang menjajah kesadaran perempuan dengan cara yang lebih halus.

Dan sering kali, bentuknya bukan hanya candaan semata. Misalnya dalam bentuk sindiran halus yang dibungkus nasehat. Seperti “kenapa pakaiannya begitu, nanti kena pelecehan, nangis”, atau “ngomongin seks terus, nanti digituin nangis.” Kalimat-kalimat itu terdengar seolah mengingatkan perempuan untuk waspada. Padahal sebenarnya memposisikan perempuan sebagai pihak yang layak disalahkan jika sesuatu yang buruk terjadi. Ini bukan hanya internalized misogyny tetapi juga victory m blaming. Dan sayangnya, banyak perempuan yang mengamini ini tanpa sadar.

Kita dibesarkan dalam budaya yang menanamkan bahwa harga diri perempuan ada pada kesopanan, keperawanan, dan diam. Jadi ketika ada perempuan lain yang menolak diam, memilih terbuka tentang tubuhnya, atau menunjukkan hasratnya, reaksi pertama kita bukan mendukung, tapi menertawakan, bahkan mengecam. Bukan karena mereka salah, tapi karena kita belum terbiasa melihat perempuan yang bebas.

Baca juga: “Pick Me Girl”,  Internalized  Misogyny & Cyberbullying yang Tak Disadari

Internalized Misogyny Menjadikan Perempuan sebagai Polisi Moral Satu Sama Lain

Internalized misogyny membuat kita menjadi polisi moral satu sama lain. Kita diajari bahwa perempuan baik tidak bicara soal seks. Perempuan santun tidak memamerkan tubuhnya. Maka ketika ada yang melanggar aturan itu, kita refleks menarik garis antara “kita yang baik” dan “mereka yang rusak.”

Lucunya, ini semua dibungkus dengan tawa. Seolah-olah jika kita melakukannya sambil tertawa, maka tidak akan ada yang tersinggung. Tapi justru karena dibuat lucu, dibalut candaan itu lebih mudah menyebar. Ia tidak tampak seperti kekerasan, tapi efeknya terasa bisa memperkuat rasa malu, membuat perempuan sulit mengekspresikan diri, dan menghambat percakapan sehat tentang seksualitas, tubuh, dan kebebasan memilih.

Lalu, Kenapa Kita Harus Berhenti Menormalisasikannya?

Sebuah studi berjudul “Is the joke on you? The impact of sexist humour and gender dynamics on interpersonal work outcomes” (2024), menunjukkan bahwa humor seksis berdampak nyata terhadap kesejahteraan dan relasi sosial perempuan—bahkan ketika candaan tersebut dianggap lucu-lucuan belaka.

Beberapa temuan penting dari penelitian ini menunjukkan bahwa:

1. Candaan seksis memperkuat stereotip gender

Humor yang merendahkan perempuan, bahkan yang dilontarkan oleh perempuan sendiri, ikut memperkuat anggapan bahwa perempuan itu lemah, manja, atau cuma bisa baper. Contohnya seperti “cewek tuh kerjaannya cuma ngambek,” atau sapaan seperti “istri idaman” yang ditujukan ke teman perempuan yang kebetulan jago masak, terkesan ringan tapi menyimpan pesan patriarkal bahwa perempuan tetap harus identik dengan dapur, emosi, dan pengabdian.

2. Menurunkan kepercayaan diri dan citra tubuh

Candaan seperti “tocil”, “tobrut” atau pujian berlapis hinaan semacam “pulen banget kayak isi tahu bulat” adalah contoh candaan yang sering kita temui di media sosial. Ketika hal ini terus-menerus dinormalisasi, perempuan mulai memandang tubuhnya sendiri dengan cemas, malu, bahkan jijik. Studi menyebut adanya korelasi antara konsumsi humor seksis dan meningkatnya gangguan citra tubuh, gangguan makan, hingga depresi.

3. Meningkatkan toleransi terhadap pelecehan dan kekerasan

Lelucon seperti “pake baju begitu nanti juga nangis,” atau “jangan terlalu frontal nanti dikira murahan,” menciptakan suasana yang menyalahkan korban. Perempuan yang mengalami pelecehan atau kekerasan jadi lebih takut bersuara karena khawatir dianggap “mengundang” atau malah dijadikan bahan guyonan. Ini yang secara tidak sadar membuat budaya victim-blaming terus tumbuh subur.

4. Merusak solidaritas antarperempuan

Candaan seksis tidak hanya datang dari laki-laki—perempuan pun sering kali mengulanginya, dan justru ini yang membuatnya semakin berbahaya. Saat kita melontarkan komentar seperti “pamer banget sih pakai baju begitu,” atau “udah kayak pengen ditarik aja bajunya,” kita sedang mereproduksi pandangan misoginis yang membenturkan perempuan satu sama lain. Alih-alih saling mendukung, kita jadi cepat menghakimi dan lupa bahwa tubuh dan pilihan masing-masing perempuan sah untuk dihormati.

Baca juga: Baru Ketemu Udah Sebel: Dari Mana Datangnya Kebencian Antarperempuan?

Perempuan dan Ketubuhan: Bukan Lagi Milik Publik

Perempuan tidak seharusnya terus dibebani standar kesopanan, kesucian, dan batasan-batasan moral yang didikte oleh orang lain. Tubuh perempuan bukan milik publik—bukan untuk diatur, dikomentari, apalagi dijadikan bahan lelucon.

Berpakaian terbuka tidak membuat seseorang kehilangan martabat. Membicarakan seks bukan berarti pantas diolok-olok. Dan cara perempuan mengekspresikan dirinya tidak pernah bisa dijadikan pembenaran untuk melecehkan.

Referensi:

  • Mulvey, K., Vial, A. C., & Dovidio, J. F. (2024). Is the joke on you? The impact of sexist humour and gender dynamics on interpersonal work outcomes. European Journal of Work and Organizational Psychology, 33(3), 385–399. https://doi.org/10.1080/1359432X.2024.2429850 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Tubuh Mulus Tanpa Bulu: Ekspektasi Tak Masuk Akal pada Penampilan

Perjuangan Perempuan Adat Serawai Menjaga Pengaling

Standar Kecantikan yang Bersifat Rasial Produk Kolonialisme

Standar Kecantikan yang Bersifat Rasial: Produk Kolonialisme

Leave a Comment