Bincangperempuan.com- B’Pers pernahkah kamu merasa risih atau tidak suka ketika melihat perempuan yang kebetulan lewat? Misalnya kamu berpikir “kenapa gaya jalannya begitu, ya?” atau “sok cantik banget deh.” Padahal belum tentu bertegur sapa, bahkan tidak juga mengganggu secara langsung. Hanya sekadar lewat, berkenalan atau mungkin berpapasan dengan kita. Tapi rasa tidak suka itu muncul begitu saja, kadang bahkan membuat kita sendiri bertanya-tanya, “kenapa sih aku kesel sama dia?”
Kamu tidak sendirian, ternyata banyak perempuan pernah merasakan hal serupa, dan mengakuinya secara terbuka. Tapi, mengapa rasa tidak suka bisa muncul hanya karena melihat perempuan lain sekilas saja?
Dibentuk Untuk Bersaing, Bukan Bersolidaritas
Sejak kecil, perempuan sudah dijejali narasi tentang bagaimana perempuan lain adalah saingan, bukan kawan. Kita bisa melihat ini dari layar kaca. Mulai dari ajang ratu kecantikan yang memamerkan siapa yang paling langsing, sinetron yang membenturkan tokoh perempuan baik dan perempuan penggoda, hingga iklan produk kecantikan yang menyisipkan pesan “kalau kamu tidak tampil sempurna, hati-hati direbut cewek lain.”
Media dan budaya populer melatih kita untuk melihat perempuan lain sebagai ancaman. Bahkan dalam ruang-ruang yang seharusnya aman seperti sekolah, kampus, tempat kerja, perempuan sering dijadikan lawan diam-diam. Kita belajar membandingkan, menilai, mengomentari sesama perempuan, karena kita dilatih untuk melakukannya. Dalam atmosfer yang penuh kompetisi sosial dan standar tak masuk akal, tidak heran kalau ada perempuan yang merasa perlu menilai perempuan lain secara instan.
Baca juga: Low Maintenance Friendship, Baik atau Buruk?
Tendensi Biologis di Antara Sesama Perempuan
Dalam psikologi evolusioner, perilaku kompetitif antarindividu dari jenis kelamin yang sama disebut intrasexual competition. Studi menemukan bahwa perempuan heteroseksual tidak berlangsung dalam bentuk pertarungan fisik seperti yang dilakukan laki-laki. Melainkan melalui cara-cara halus, seperti cara berpakaian, komentar sosial, hingga pandangan sinis. Tujuannya adalah untuk menonjolkan diri dan menjatuhkan lawan agar lebih unggul dalam akses terhadap pasangan yang dianggap “bernilai tinggi” atau berstatus sosial tinggi, punya sumber daya, dan daya tarik genetik.
Berbagai studi menemukan bahwa saat kadar estrogen tinggi, perempuan cenderung memberikan penilaian rendah pada kecantikan wajah perempuan lain sebuah bukti empiris dari kompetisi seksual tak langsung (intrasexual competition) melalui derogation.
Derogation sendiri adalah usaha untuk menurunkan nilai atau persepsi terhadap perempuan lain. Contoh lainnya seperti meremehkan penampilan atau mempertanyakan motif perempuan lain. Artinya, secara biologis pun, tubuh kita kadang diprogram untuk bersikap kompetitif terhadap sesama perempuan.
Namun, penting ditekankan bahwa ini bukan pembenaran untuk membenci sesama perempuan. Justru, ini menjadi landasan pemahaman bahwa respons-respons sosial kita sering kali dibentuk oleh faktor yang kompleks seperti biologi, budaya, dan sistem nilai.
Internalized Misogyny: Musuh Dalam Selimut
Internalized misogyny adalah ketika perempuan menaruh kebencian terhadap sesama perempuan, baik secara sadar maupun tidak. Bukan karena ada sikap buruk dari sesama perempuan, tapi semata-mata karena ia perempuan—terutama jika menunjukkan ekspresi diri, percaya diri, atau tampil berbeda dari norma yang dibentuk masyarakat.
Bentuknya bisa bermacam-macam. Misalnya:
- “Aku lebih suka berteman sama cowok, cewek tuh ribet.”
- “Pakai makeup mulu pasti insecure banget.”
- “Perempuan yang bajunya terbuka tuh pasti cari perhatian.”
Pernyataan semacam ini sering dikaitkan dengan fenomena pick me girl, yakni perempuan yang berusaha membedakan diri dari “kebanyakan perempuan” demi validasi dari laki-laki. Dalam jurnal Alphabet, disebutkan bahwa internalized misogyny menghasilkan kenikmatan tersendiri bagi pelakunya. Mereka merasa lebih unggul dengan merendahkan perempuan lain, khususnya melalui media sosial.
Fenomena pick me girl ini adalah ironi dari sistem yang membuat perempuan berlomba untuk membuktikan bahwa mereka bukan “perempuan lain” yang dianggap negatif oleh masyarakat.
Internalized misogyny sendiri adalah produk dari sistem sosial yang tidak memberi ruang aman bagi perempuan untuk bebas menjadi dirinya sendiri. Menyadari bahwa kita bisa menjadi pelakunya adalah langkah awal untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Tidak Semua Perempuan Begitu
Kenyataannya tidak semua perempuan membenci perempuan lain. Di luar sana banyak perempuan yang justru tumbuh dalam lingkungan solidaritas, bukan permusuhan. Komunitas feminis, support group, hingga pertemanan sehari-hari yang saling menguatkan membuktikan bahwa perempuan bisa saling merawat dan menjaga satu sama lain.
Karena norma yang ada sekarang tidak terlepas dari budaya patriarki yang memandang perempuan sebatas objek dan mesin reproduksi. Jika kita tidak menyadari kalau kita telah melakukan internalized mysogyny, kita bisa gagal bersolidaritas untuk mendukung sesama perempuan yang terdampak patriarki.
Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan
Boleh Tidak Suka, Tapi Apa Alasanmu?
Walau demikian, bukan berarti semua perempuan layak kita dukung. Karena rasa tidak suka kepada seseorang adalah hal yang manusiawi. Tidak ada yang bisa memaksakan rasa nyaman terhadap semua orang. Namun, ada perbedaan besar antara tidak suka karena perilaku atau nilai yang bertentangan dengan tidak suka hanya karena seseorang tampil percaya diri, feminin, atau berbeda dari kita.
Misalnya:
- Kalau kamu tidak suka karena ada perempuan yang menormalisasikan candaan seksis itu masuk akal.
- Tapi kalau rasa tidak suka muncul hanya karena perempuan lain lebih percaya diri, atau karena terlihat atraktif, coba tanya kembali kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya membuat kita merasa terganggu?
Apakah rasa tidak suka ini berasal dari interaksi nyata?
Atau hanya dari asumsi yang dibentuk oleh budaya patriarki? Kita harus mampu membedakannya, agar mampu menjadi pribadi yang adil, dan tidak mudah dimanipulasi oleh sistem yang ingin perempuan tetap saling menjatuhkan.
Jadi, sudah waktunya kita ubah default reaksi kita terhadap sesama perempuan. Karena dunia sudah cukup berat bagi perempuan kenapa harus tambah susah dengan saling menjatuhkan?
Jangan sampai kita membenci perempuan lain hanya karena ekspresinya, gayanya, atau kepercayaan dirinya, kita sedang mengulang jebakan lama. Karena yang yang paling diuntungkan dari kondisi ini adalah mereka yang ingin perempuan tetap diam, terpecah, dan lemah.
Referensi:
- Fisher, M. L. (2004). Female intrasexual competition decreases female facial attractiveness. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 271(Suppl. 5), S283–S285. https://doi.org/10.1098/rsbl.2004.0160
- Johnston, V. S., Hagel, R., Franklin, M., Fink, B., & Grammer, K. (2001). Male facial attractiveness: Evidence for hormone-mediated adaptive design. Evolution and Human Behavior, 22(4), 251–267. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15503995/
- Rosida, I., Lestari, Y. D., & Astuti, E. P. (2022). Pick Me Girl sebagai bentuk internalized misogyny di media sosial TikTok. Alphabet: Jurnal Literasi Bahasa, Sastra, dan Budaya, 1(1), 29–39. https://alphabet.ub.ac.id/index.php/alphabet/article/view/120
