Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, berita memilukan datang dari Mojokerto, Jawa Timur. Seorang perempuan dibunuh dan dimutilasi oleh kekasihnya. Kasus sadis yang dilakukan AM ini mencuat ke publik setelah polisi menemukan potongan tubuh korban. Setelah berita ini mencuat ke publik, linimasa media sosial dipenuhi berbagai komentar dan tanggapan.
Namun alih-alih berduka atau mengutuk pelaku, banyak suara yang justru mengarah ke korban. Ada yang berkata, “Jadi cewek jangan mau tinggal sama cowok sebelum nikah ya!” atau “Salah sendiri tinggal serumah sama cowok.” Bahkan ada yang menjadikan tragedi ini konten “tips memilih laki-laki yang baik.”
Reaksi publik semacam ini menggambarkan betapa kita masih gagal memahami apa itu femisida, dan betapa mudahnya kita mengulang kekerasan dengan kata-kata. Seakan-akan yang dipertaruhkan hanyalah moralitas korban, bukan nyawa yang sudah direnggut.
Kini tubuh perempuan tersebut telah tak bernyawa, tapi ucapan kita malah menorehkan luka baru. Seolah kematian pun belum cukup untuk menghentikan hasrat masyarakat menyalahkan perempuan atas kekerasan yang menimpa dirinya.
Apa Itu Femisida?
Menurut UN Women, femisida adalah pembunuhan perempuan yang dilatarbelakangi oleh motif gender. Berbeda dari pembunuhan biasa karena dipicu oleh diskriminasi, stereotip gender, serta relasi kuasa yang timpang. Karena itu, femisida disebut sebagai bentuk paling ekstrem dari kekerasan berbasis gender, yang terhubung dengan kekerasan pasangan, pelecehan seksual, hingga praktik berbahaya di rumah maupun di ruang publik.
Komisioner Komnas Perempuan, Reiny Hutabarat, dalam siaran pers Komnas Perempuan tentang femisida (2024) menegaskan bahwa kasus-kasus femisida umumnya dipicu lebih dari satu motif. Dari motif yang teridentifikasi, antara lain cemburu, ketersinggungan maskulinitas, menolak bertanggung jawab, kekerasan seksual, hingga penolakan terhadap perceraian atau pemutusan hubungan.
“Motif-motif tersebut menggambarkan superioritas, dominasi, hegemoni, agresi maupun misogini terhadap perempuan serta rasa memiliki perempuan, yang semuanya berpangkal pada ketimpangan relasi kuasa laki-laki terhadap perempuan,” jelasnya.
Jika kita melihat kasus pembunuhan dan mutilasi di Mojokerto, motif pelaku disebut sebagai pertengkaran karena masalah ekonomi. Namun sebenarnya ini bukan sekadar soal uang, melainkan bagaimana pelaku merasa posisi dominasinya sebagai laki-laki terguncang dan ia merasa terancam, yang kemudian berakhir membuatnya menghabisi nyawa pasangannya.
Selain itu hubungan yang toxic kerap menyuburkan kerentanan ini. Dalam relasi yang penuh kontrol, manipulasi, atau kekerasan, perempuan dipaksa untuk bernegosiasi dengan keselamatannya sendiri setiap hari. Perempuan akan bertahan dengan harapan pasangan berubah, atau karena tekanan sosial dan keterbatasan ekonomi. Ketika semua itu terjadi dalam situasi di mana laki-laki merasa memiliki kuasa lebih—baik secara ekonomi, sosial, maupun emosional—maka ancaman kekerasan fisik, termasuk femisida pun semakin besar.
Baca juga: Framing Femisida di Media: Mengapa Perspektif Korban Masih Terpinggirkan?
Mengapa Komentar Nirempati Terus Bermunculan?
Komentar seperti “pelajaran bagi perempuan, jangan tinggal serumah dengan lelaki” berulang kali muncul pada kasus femisida di Mojokerto. Padahal dengan logika yang sama, perempuan yang menikah pun tetap akan tinggal bersama pasangannya, dan kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga. Pola pikir semacam ini menunjukkan publik belum memahami femisida dengan baik.
Salah satu penyebab ketidakpahaman ini adalah pembingkaian berita di media. Menurut pemantauan Magdalene terhadap 193 artikel di tiga media besar menunjukkan 95,3 persen memberitakan femisida sebagai pembunuhan biasa, tanpa menyentuh akar sosial, budaya, dan relasi kuasa yang melatarinya.
Alih-alih memberikan pemahaman soal femisida, banyak berita justru dipenuhi bahasa sensasional seperti sadis atau tragis, dan masih sering membuka identitas korban. Praktik ini bukan hanya menyalahi etika jurnalistik, tapi juga membuat publik gagal paham mengenali femisida sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang sistematis.
Baca juga: CATAHU 2024: 445.502 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan, Naik Hampir 10%!
Kenapa Kita Tidak Mengomentari Laki-laki Agar Jangan Membunuh?
Setiap kali ada kasus femisida, yang disorot justru pilihan hidup korban. Seakan-akan ada yang bisa dilakukan perempuan untuk benar-benar menghindari kekerasan, padahal nyatanya banyak femisida justru terjadi dalam hubungan yang sah maupun di dalam rumah tangga. Cara pandang ini membuat pelaku seolah bebas dari pertanggungjawaban, sementara beban terus ditimpakan pada korban.
Lantas kenapa laki-laki masih membunuh, menyiksa, dan memutilasi? Budaya patriarki membesarkan laki-laki dalam keyakinan bahwa mereka berhak menguasai, sementara kegagalan memenuhi tuntutan entah ekonomi, status, atau relasi dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri mereka. Situasi yang membuat dominasi mereka terancam inilah yang mengakibatkan posisi perempuan menjadi rentan.
Kasus di Mojokerto memperlihatkan pola itu. Motif ekonomi sebenarnya hanyalah pemicu yang menyingkap rapuhnya maskulinitas dalam sistem patriarki. Laki-laki dituntut menjadi tulang punggung, dan ketika peran itu terguncang, kekerasan dijadikan jalan keluar.
Femisida, dengan demikian, bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari struktur yang gagal mendidik laki-laki untuk tidak melukai dan terus menormalisasi kekuasaan atas tubuh perempuan. Sudah waktunya kita berhenti menyalahkan perempuan hidup atau mati. Seharusnya kita menyorot pada akar persoalan seperti relasi kuasa yang timpang, budaya patriarki, dan sistem yang membiarkan femisida terus berulang.
Referensi:
- Komnas Perempuan. (2024, 7 Mei). Siaran pers Komnas Perempuan tentang fenomena femisida. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-tentang-fenomena-femisida
- Magdalene. (2025, 18 April). Temuan Magdalene: Pemberitaan femisida di media sensasional dan minim perspektif korban [Siaran pers]. Magdalene.
- UN Women. (2024, 25 November). Five essential facts to know about femicide. https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/five-essential-facts-to-know-about-femicide
